
"Ada apa Tuan muda?" Tanya Arya menatap Dirga yang saat ini pandangannya kosong.
Dirga menggelengkan kepalanya dan berkata. "Tidak apa apa. Apa kamu yakin dalang di balik semua ini adalah si Pangeran ini?" Sambil menatap Sido Lawang.
Sido Lawang menganggukkan kepalanya dan menjawab lagi. "Benar! Sekte ku sekarang telah di rusak oleh praktisi asing itu yang menyebabkan ada perseteruan kedua kubu!"
Kedua alis Dirga menyatu dan bertanya. "Lalu, Kenapa praktisi itu bisa masuk ke wilayah sektemu? Terus bagaimana dengan Master Sekte sebelumnya?"
Sido Lawang menghela napas. "Setengah tahun yang lalu, Kami bertiga berencana mau mengasingkan diri dari luar untuk meningkatkan kultivasi. Setelah setengah tahun itu, Kami bertiga menyadari jika ada hal yang tak beres dengan Sekte Giok Abadi." Menghirup napas dan melanjutkan. "Mulai dari Master Sekte yang tiba tiba menghilang, Para petinggi Sekte menyerang satu sama lain dan kini status Master di duduki praktisi itu!"
"Bunuh saja praktisi itu! Apa susahnya?" Dirga berkata ringan.
Sedangkan ketiga leluhur itu hanya tersenyum kecut. Suwi Lapo berkata. "Tidak susah kami membunuhnya. Tapi yang susah kami harus menghadapi sosok di belakangnya."
Dirga berpikir sejenak dan melambaikan tangannya. "Kita pikirkan nanti dulu!" Kata Dirga.
Saat ini, Pintu ruangan terbuka dan Tetua Shane masuk. "Tuan muda! Ada banyak pergerakan asing di Timur Kota sepertinya mereka akan menuju kesini. Apa kita kesana untuk melihatnya?" Tetua Shane melapor.
Dirga mengangguk. "Arya dan Kai, Tei dan Zei, Kalian ikut aku!" Kata Dirga memberi perintah.
"Baik!" Jawab semuanya serempak.
"A-Apa aku boleh ikut?" Suara lirih Fanni terdengar di sampingnya.
Dirga melirik sejenak dan menganggukkan kepalanya. "Boleh!"
Mereka yang di sebutkan oleh Dirga pun pergi melesat, Sedangkan sisanya diberi perintah untuk menjaga Sekte.
***
Di Timur Kota Luyung.
Tiga orang pria paruh baya dan dua pemuda sedang melesat menunggangi pedang. Di belakangnya ada seribuan orang yang juga menunggangi pedang.
Salah satu pria paruh baya berkata mendecih. "Cih! Kenapa Tetua Agung menyuruh kita untuk menghancurkan Sekte ini? Hanya Sekte kecil saja harus membawa banyak murid!"
Pria di sebelahnya menyaut. "Tetua Lui, Jangan remehkan musuh! Apa kamu tidak mendengar perkataan Tetua Agung? Sekte inilah yang membuat keadaan Kota Luyung menjadi damai dari kekacauan saat itu!"
Orang yang di panggil Tetua Lui terdiam dan berkata singkat. "Baik Tetua Hue!"
Sedangkan pria paling samping hanya diam. Pria ini sedikit berbeda dari kedua pria paruh baya itu. Perawakannya pendek dan gendut serta memiliki kepala botak.
Tetua Lui dan dan Tetua Hue yang melihat ekspresi berubah ubah pria itu menjadi penasaran. "Tetua Cong! Ada apa?" Tanya keduanya dengan aneh.
Orang yang di panggil Tetua Cong tidak lantas menjawab, Melainkan menatap depan sambil bergumam lirih. "Apa kalian tidak merasakan keanehan di sekitar sini?"
"Keanehan? Tidak..! Kami tidak merasakan adanya suatu hal aneh dari tadi!" Bantah pemuda di depannya.
Tetua Cong menjawab hormat. "Tuan muda Tian Marde! Anda mungkin tidak merasakannya karena Tuan muda berada di Ranah Pemurnian Qi tingkat lima. Oleh kare- " Sebelum perkataannya selesai. Pemuda yang di panggil Tuan muda Tian Marde menyalak marah. "Omong kosong! Apa kamu meremahkanku? Dari mana keberanianmu itu?"
Tetua Cong dan keduanya berkeringat dingin. Karena status Tuan muda Tian Marde cukup tinggi di Sekte Seribu Pedang. Apalagi ayahnya yang memiliki status yang cukup berpengaruh di Sektenya.
Tetua Cong buru buru berkata. "Tidak tidak! Tuan muda, Saya salah berbicara tadi! Maafkan atas kelancangan saya!" Sambil menampar kedua pipinya.
"Haha, Baguslah jika kamu memiliki sedikit rasa bersalah! Aku akan memberimu sepuluh batu roh nanti!" Ucap Tuan muda Tian Marde dengan seringainya.
Sedangkan Tetua Cong buru buru membungkukkan badannya. "Terima kasih Tuan muda!" Ucapnya dengan senyum merekah sambil melirik Tetua Lui dan Hue yang wajahnya kini muram.
"Hehe, Sepuluh batu roh!" Bisik Tetua Cong dengan senyum main mainnya membuat keduanya mendelik tajam ke arahnya.
"Tuan muda Dunok Leneng, Ada apa denganmu? Kenapa ekspresimu berubah ubah dari tadi?" Tanya Tuan muda Tian Marde.
Pemuda yang di panggil Dunok Leneng berkata marah. "Sial! Kita sedang di jebak! Mereka menggunakan Formasi Ilusi untuk menjebak kita semua!"
"Apa? Di jebak? Bagaimana mungkin?" Tetua Lui, Tetua Hue dan Cong wajahnya berubah.
Tuan muda Tian Marde berkata membalikkan badan. "Berhenti! Kita sedang di jebak oleh seseorang! Jangan bergerak dulu!"
Seketika, Seribu murid berhenti dengan raut wajah muram. Namun, Sebelum berkata. Dari atas langit tiba tiba muncul ribuan bunga yang berjatuhan menimpa seribu murid itu.
"Ahh- Bunga ini harum sekali..!"
"Lebih harum dari bunga yang kita temui sebelumnya..."
"Ahh, Ingin sekali kubawa pulang bunga bunga indah ini untuk wanita ku tercinta..."
"..."
Seketika para murid Sekte Seribu Pedang banyak yang melontarkan kata kata pujian terhadap ribuan bunga itu.
Karena jarak Tetua Lui, Hue, Cong dan kedua Tuan muda itu cukup jauh, Mereka tidak terkena dampak dari jatuhnya bunga itu.
Tetua Lui mengerutkan kening. "Ada apa dengan mereka? Bukankah itu hanya bunga biasa? Kenapa mereka malah bersenang senang dengan bunga itu? Sialan!" Kata Tetua Lui mengutuk.
Belum sempat ada yang menanggapi.
Tiba tiba...
Booms!
Terjadi ledakan yang menggelegar hingga membuat mereka terlempar jauh ke segala arah
"Uhuk-uhuk! Brengsek! Kita di serang oleh musuh!" Tian Marde batuk darah dan melihat jauh ke depan dengan pupil menyusut.
Terlihat lubang tanah yang sangat besar. Di tempat itu juga terdapat potongan potongan tubuh murid Sekte Seribu Pedang, Meskipun ada yang masih hidup, Tubuh mereka telah terpotong potong dan hanya bisa menjerit putus asa.
Wushh! Wushh! Wushh! Wushh! Wushh! Wushh!
Enam siluet muncul di depan kelima pria Sekte Seribu Pedang itu. Diantaranya adalah Dirga, Arya, Laniya, Fanni dan ketiga saudara.
"Tidak sopan memasuki wilayah orang tanpa masuk gerbang Kota!" Suara dingin membuat bulu kuduk kelimanya merinding.
Dirga segera memberi perintah ke Arya. "Ikat tubuh mereka dan potong beberapa tubuhnya hingga menjadi beberapa bagian!"
Arya tersentak kaget begitu mendengar perintah Dirga. Sebelum bereaksi, Kai, Tei, Zei menyela. "Tuan muda! Biar kami yang menyiksa mereka! Kelima orang ini pernah membuat kekacauan bahkan memperkosa seorang gadis desa!"
Dirga mengangguk, Ia tak mengetahui siapa kelima ini. Karena orang ini berniat menghancurkan Sektenya, Ia pun harus mendahuluinya.
Dirga tak tahu jika ada satu pemuda yang mungkin di kenalnya karena beberapa waktu itu pernah mengusiknya.
"Cepat lakukan! Aku akan memberikan kalian misi setelah ini!" Dirga berkata dan langsung melesat di ikuti dua wanitanya.
"Baik!" Semua bawahan Dirga segera melaksanakan perintah Dirga.
"Wushh!" 3×