Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 148


Di area yang cukup jauh dari dua leluhur. Keempat bawahan Tuan Jing nampak berguling guling di tanah sambil berteriak kesakitan.


Keadaan keempatnya kini telah berubah. Pakaiannya compang camping. Tidak hanya luka luar saja, Mereka juga terkena luka dalam yang sangat serius.


"Sial! Mengapa Tuan Jing malah menyerang kita?" Dai Wuye mengutuk keras tuannya itu.


"Hmm! Sudah berani kau mengutukku, Dai Wuye sialan!"


Tiba - tiba terdengar suara serak yang tak asing bagi keempatnya. Sebelum bereaksi, Sebuah bola energi hitam penuh aura iblis melesat menuju Dai Wuye.


Boom!


Terjadi ledakan. Tubuh Dai Wuye terpental menabrak pohon besar hingga menumbangkannya.


Matanya menatap Tuan Jing dengan eskpresi ngeri serta kebingungan.


"Tuan Jing!" Hua Bhot dan lainnya yang melihat kedatangan Tuannya segera memberikan hormat.


Wajah tua Tuan Jing berubah drastis melihat ini. Hatinya merasakan kekacauan hebat ketika dirinya di panggil Tuan oleh mereka.


Mengangkat dua tangannya dan menjulurkan ke depan dengan kecepatan cepat.


Boom!


Boom!


Dua tubuh seketika terlempar jauh. Keduanya adalah bawahannya kecuali Hua Bhot yang masih berlutut dalam keadaan tercengang.


Dua duanya seketika mati!


"Tu-tu...." Belum sempat berkata. Tuan Jing menyela dengan nada dingin. "Jangan panggil aku tuan lagi! Aku bukan tuanmu saat ini!!"


Hua Bhot tercengang mendengar perkataan Tuan Jing barusan. Ini pertama kalinya Tuan Jing marah ketika dirinya memanggil tuan.


Biasanya Tuan Jing selalu ingin namanya di panggil Tuan. Namun kini malah menyuruhnya untuk berhenti memanggilnya tuan.


"T-tapi mengapa anda membunuh mereka berdua?" Hua Bhot berkata dengan gagap takut membuat marah Tuan Jing.


"Tuan menyuruhku membunuh kalian berdua apapun terjadi. Jadi, Jangan harap kalian bisa kabur!" Tuan Jing berkata sambil mengangkat telapak tangannya ke atas.


"A-apa??" Hua Bhot tercengang luar biasa mendengar penjelasan Tuan Jing.


Pikirannya berkecamuk tanpa menyadari jika ada serangan kecil hitam menuju ke arah dadanya.


Bamm!


"Arhg...!!" Hua Bhot menjerit penuh kesakitan.


Dadanya terasa seperti di belah oleh ribuan benda tajam yang amat menusuk tulang.


Tuan Jing tidak membiarkan Hua Bhot untuk hidup. Di bawah ekspresinya yang bingung serta benci pada saat bersamaan. Ia menjentikkan jarinya.


Dan seketika itu juga tubuh tua Hua Bhot meledak menjadi kabut darah.


Tuan Jing melihat adegan ini tanpa ekspresi. Merasa ada pergerakan di depannya, Ia menghilang.


"Mau lari kemana kamu? Dai Wuye?"


Dalam sekejap, Tuan Jing sudah berada di samping Dai Wuye yang merangkak.


"Tu-tuan...Tolong lepaskan aku." Dai Wuye memohon memelas.


Dia tadi sudah melihat tuannya membantai tiga saudaranya yang lain tanpa alasan.


"Idiot! Jika tuanku melepaskan mu, Aku akan di bunuh olehnya!" Tuan Jing berkata dengan wajah merah padam, marah.


"Tu-tuan?" Dai Wuye tercengang mendengar perkataan Tuan Jing barusan.


"Jangan banyak tanya! Tuanku masih hebat dari yang pernah aku temui!" Tuan Jing berkata cepat karena melihat Dai Wuye seperti ingin bicara.


Wajah Dai Wuye sontak muram. Di bawah tatapan ngerinya, Tangan Tuan Jing langsung mencengkram leher Dai Wuye dan mematahkannya.


Krak!


"Ck! Merepotkan!" Decak Tuan Jing tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah membunuh bawahannya sendiri.


Bagaimanapun Segel milik Dirga berbeda dari ribuan tehnik segel yang ada dunia.


Jika seseorang di tanamkan segel oleh Dirga, Orang itu akan selalu mematuhi apa yang di perintahnya.


Tak peduli perintah itu hidup maupun mati. Yang terpenting yaitu melakukan perintahnya!