Pendekar Pedang Hebat

Pendekar Pedang Hebat
Bab 117


 Qin Arma mengangguk dan melewati keempatnya dan menduduki kursi utama dengan gaya angkuhnya.


 Qin Arma melambaikan tangannya acuh dan berkata. "Apa kamu tidak percaya jika membunuh ketiga tua bangka itu adalah hal mudah bagiku?"


 Keempat lelaki itu mendongak menatap Pangeran Qin Arma dan mata pemuda itu hanya menatap satu arah. Yaitu dimana Master Ruwe berada.


 Master Ruwe yang sadar akan tatapan itu berkata cepat karena takut. "Ti-tidak! Saya percaya setiap omongan Pangeran Qin Arma!"


 Qin Arma mengangguk dan lidahnya menjilat bibir bawahnya yang terdapat noda darah itu. "Hmm, Aku sudah mengetahui semua permasalahan kalian. Namun aku sudah memiliki rencana sendiri!" Ucapnya dengan senyum misteriusnya.


 Keempatnya menatap wajah sok dingin Pangeran itu dengan tatapan kebingungan. Kha Tock Beddah yang memang memiliki status tinggi di antara ketiga nya pun memberanikan diri untuk bertanya. "Kalau boleh tau, Rencana apa itu Pangeran?"


 Qin Arma melirik Kha Tock Beddah acuh tak acuh lalu melambaikan tangannya. "Kumpulkan sepuluh ribu pasukan kalian dan buat beberapa kelompok, Lalu segera sebarkan dulu mereka untuk mengetahui markas Sekte itu!"


 Kha Thock Beddah terdiam sejenak dan berpikir. Sama seperti ketiga lelaki Thu Wek dan lainnya.


 "Pangeran! Apa itu tidak membuat para musuh kita menjadi curiga dengan menyebarkan anggota dalam jumlah besar besaran ini?" Usul Kha Tock Beddah.


 Wajah Qin Arma tetap sama. Acuh tak acuh dan berkata. "Kita hanya memiliki dua ancaman. Satu, Dari Organisasi Macan Putih yang kita semua tahu jika sulit untuk mendeteksi markas Organisasi itu. Jika ada yang tahu, Mungkin Organisasi itu sudah lama musnah!"


 Kha Tock Beddah tetap diam menunggu penjelasan Pangeran itu. Begitupun juga dengan yang lainnya.


 "Yang kedua adalah Sekte Pedang Langit Abadi yang baru baru ini sudah membuat masalah dengan kita! Itu sama saja masuk kedalam ancaman kita. Oleh karena itu, Sebarkan sepuluh ribu anggota untuk mendeteksi keberadaannya. Siapa tau ketemu dengan markas mereka yang sebenarnya. Detik itu juga, Segera perintahkan pasukan yang memiliki basis kultivasi tinggi untuk memusnahkannya!" Lanjutnya dengan percaya diri.


 Dia sangat yakin dengan pemikirannya ini. Jika melakukan pertarungan secara terang terangan itu membuatnya rahasianya terbongkar dan masalahnya menjadi rumit.


 Karena faktanya Pangeran Qin Arma sudah bergabung dengan Organisasi jahat ini yang termasuk dalam target hitam dalam Kerajaannya sendiri.


 "Cepat lakukan perintahku!" Ucap Qin Arma karena tak ingin berlama lama lagi.


 "Baik Pangeran!!" Jawab mereka serempak.


 Segera, Master Gheger, Thu Wek, Master Ruwe menghilang dari pandangan mereka. Kecuali Kha Tock Beddah yang masih setia bertekuk lutut saat ini.


 Meliriknya, Qin Arma bertanya. "Dimana kakak?"


 Kha Tock Beddah mendongak dan menjawab ramah. "Pangeran pertama berada di Gunung Timur, Atau lebih tepatnya Sekte Seribu Pedang sedang melakukan Kultivasi tertutup!"


 "Oh? Kultivasi tertutup ya??...Hehe, Kakak! Kau ingin mencoba ingin melampuiku? Itu tidak mungkin!!" Gumam Qin Arma pelan sambil mendengus. Namun Kha Thock Beddah masih bisa mendengarnya.


 Walaupun begitu, Dia hanya bisa diam karena Pangeran Qin Arma lah Ketua dari Organisasi Serigala Hitam! Sudah jelas, Dirinya hanyalah sebagai bawahan saja.


 "Tak usah dipikirkan! Lebih baik aku juga melakukan terobosan saat ini! Dimana santapanku sekarang??" Qin Arma berkata sambil menatap Kha Tock Beddah.


 Kha Thock Beddah menjawab dengan hormat. "Pangeran! Saya sudah mengumpulkan semuanya dan mereka sudah kami letakkan di ruangan biasa tempat Pangeran!"


 Mengangguk. Qin Arma bertanya lagi. "Bagus! Berapa semuanya?"


 "Sekitar enam puluhan Pangeran!" Kha Tock Beddah menjawab dengan cepat.


 "Cih! Kenapa semakin lama semakin sedikit saja? Apa gadis sekarang sudah punah?" Gerutu kesal Qin. Lalu ia menambahkan sebelum Kha Tock Beddah berkata. "Kamu memiliki bagian dan ambil saja tiga!"


 "Terima kasih Pangeran!!" Ucap senang Kha Tock Beddah.


 Meskipun hanya tiga, Itu cukup berharga baginya. Karena selama ini Ketuanya hanya memberikan satu, Bahkan hanya dengan sebuah Pil.


•••


Dunia Cermin


 "Ah, Enak!" Racau Dirga menikmati pijatan Xenia Xu.


 Xenia Xu memerah karena malu. Ini pertama kalinya dirinya di suruh memijat. Tapi ia hanya diam meneruskan memijat pria tampan ini.


Wushh! Wushh! Wushh!


Boom! Boom Boom!


 Dirga melihat ke depan sambil menikmati pijatan tangan lembut Xenia Xu.


 Di depannya nampak seorang gadis cantik berpakaian biru sedang mengayunkan pedangnya dengan gerakan indah.


 Setiap gerakannya memunculkan bayangan pedang dan langsung melesat ke arah tertentu untuk meledakkannya.


Booms!!


 Suara ledakan yang cukup besar kini terjadi kembali. Terlihatlah di depan sana ada kawah kecil akibat serangan gadis itu.


 Meskipun begitu, Kawah tadi tiba tiba berubah seperti semula karena Dirga yang mengontrol semua isi Dunia Cerminnya!


 "Guru! Tehnik Pedang Bayangan milik guru sangat hebat! Tapi Andira hanya bisa memunculkan lima bayangan pedang saja!" Seorang gadis cantik menghampiri Dirga sambil menenteng Pedang panjangnya.


 Dirga menatap wajah gadis Andira dan berkata. "Itu cukup memuaskan bagiku! Jika itu orang lain, Mungkin butuh bertahun tahun untuk membuat bayangan pedang! Sedangkan kamu? Hanya butuh setengah hari dan itu pun langsung lima bayangan sekaligus." Puji Dirga membuat pipi Andira merah namun senang.


 "Benarkah guru? Tapi aku ingin bisa membuat ratusan bayangan hingga ribuan seperti guru waktu tadi!" Ucap lesu Andira sambil mendaratkan bokongnya ke sebelah kiri Dirga.


 Dirga menyerahkan teh kepada Andira dan berkata lagi. "Jika kamu ingin seperti itu! Maka giat lah untuk berlatih!"


 "Tentu!! Tentu saja Andira giat untuk berlatih Pedang! Apalagi tehnik guru yang sangat hebat ini!...Tidak lama lagi aku akan menjadi Gadis Cantik Pendekar Pedang!!" Ucap cepat Nadira dengan mengepalkan tinju kecilnya itu.


 Dirga menatap mata gadis itu yang menunjukkan semangat juangnya dan bertanya. "Ingin menguji tehnik bertarung mu secara nyata?"


 Andira menatap mata jernih Dirga itu dengan semangat. "Mau! Apa guru tahu tempat untuk menguji tehnik bertarung ku??" Ucap antusias Andira.


 Dirga tersenyum tipis dan berkata cepat. "Tentu saja ada! Tapi apa kamu yakin mau kesana?"


 "Di mana itu guru?" Andira berkata cepat sambil menggoyangkan lengan pria itu.


 Dirga tak berdaya dan alisnya terangkat menatap Andira. "Di Hutan Terlarang!" Ucap singkat Dirga dan membuat gadis itu terdiam menggoyangkan lengannya.


 "Kenapa?" Tanya Dirga dengan bingung ketika melihat raut aneh gadis itu.


 Wajah Andira memerah dan segera berkata menjauh. "Tidak...tidak! Andira hanya tidak siap saja untuk berlatih ke sana! Lebih baik aku berlatih di sini!"


 Andira berjalan menjauh dari Dirga dan berlatih tehnik Pedangnya.


 Dirga menoleh ke Xenia Xu dan juga melihat raut aneh itu. "Kenapa? Bukankah Hutan itu sangat cocok untuk berlatih?" Tanya Dirga bingung mengapa raut wajah Xenia Xu menjadi aneh seperti Andira.


 "Cocok gundul mu! Apa kamu tidak tahu bahaya Hutan itu? Apa kamu ingin murid cantikmu itu di makan oleh monster mengerikan di sana?" Omel Xenia Xu dengan sedikit dengusan dan menambahkan tekananya pada pijatnya.


 "Eh?," Hanya itu yang keluar dari mulut Dirga. Ia hampir melupakan jika monster monster disana memang mengerikan.


 Mungkin karena ia tahu seluk beluk Hutan Terlarang, Dia meremehkan akan kekuatan Monster di dalamnya.


 Bagaimanapun, Dia sudah lama menghuni Hutan Terlarang dan berhasil keluar!