Noda Di Balik Jilbabku

Noda Di Balik Jilbabku
Pernikahan


Hanya tiga hari Nisa di rawat di rumah sakit. selama tiga hari itu juga Alvin tidak di beritahu soal kondisi Nisa. Bu Siti ingin Nisa benar-benar pulih baru dia boleh menemui Alvin. dan juga itu untuk mengetes Alvin apa akan datang lagi ke rumah untuk mencari Nisa atau tidak. namun nyatanya Alvin tidak pernah datang lagi ke rumah itu untuk mencari Nisa.


Saat ini Nisa baru pulang dari rumah sakit. Bu Siti mengantar Nisa hingga ke kamarnya.


"Nis, mending kamu pindah kamar dulu deh, Mamah khawatir kalau kamu terus naik turun tangga," ucap Bu Siti sambil menaruh tas kecil berisi pakaian kotor Nisa dari rumah sakit.


"Iya Mah, besok saja deh, lagian Nisa masih tidak bertenaga jika harus beres-beres," jawab Nisa


"Besok Mamah yang beresin, kamu duduk manis saja," ucap Bu Siti


"Makasih Mah," ucap Nisa


"Sama-sama Nak, Mamah keluar dulu yah. kamu mau di buatin apa?" tanya Bu Siti


"Tidak Mah, aku tidak mau apa-apa," jawab Nisa


"Baiklah," kata Bu Siti lalu segera melangkah keluar dari kamar Nisa.


Nisa mencoba untuk menghubungi suaminya. dia mengambil ponsel miliknya yang dia simpan di dalam tas. Nisa berulang kali menghubungi nomor suaminya, namun tidak di angkat juga.


Mas Alvin kemana sih, kok susah di hubungi," batin Nisa lalu meletakan poselnya di atas meja kecil dekat ranjang.


Nisa merasa galau karena suaminya tidak bisa di hubungi. dia ingin pergi untuk menemui suaminya karena dia sangat meridukannya. Nisa menyambar sweeter miliknya yang ada di pinggir ranjang lalu dia memakainya.


Lebih baik aku temui Mas Alvin saja," Nisa beranjak dari duduknya. lalu dia pergi keluar kamar.


Bu Siti melihat anaknya yang sedang berjalan menuruni tangga.


"Nis, kamu mau kemana?" Bu Siti bertanya kepada Nisa.


"Mau ketemu Mas Alvin, tadi Nisa sudah menghubungi Mas Alvin tapi tidak ada jawaban," jawab Nisa


Bu Siti berjalan menghampiri anaknya. dia menunggu di tangga terakhir.


"Nis,kamu tidak boleh pergi dulu! ingat loh kata Dokter," Bu Siti melarang Nisa pergi.


"Tapi Mah," baru juga akan bicara namun Nisa sudah merasa pusing.


Bu Siti membantu memapah Nisa. Bu Siti membawa Nisa ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. kebetulan kamar itu baru saja dia bersihkan.


"Nis, kamu istirahat saja," Bu Siti membantu Nisa untuk merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Mah, tapi Nisa merindukan Mas Alvin," ucap Nisa


"Iya Mamah tahu, tapi kamu harus istirahat dulu Nak, setidaknya untuk dua hari atau tiga hari ke depan."


"Baiklah Mah," Nisa hanya menurut saja. dia harus menahan rasa rindunya beberapa hari lagi.


°°°


Setelah beberapa hari beristirahat, sekarang Nisa merasa lebih baik. Nisa sedang bersiap untuk pergi ke rumah mertuanya.


"Nis, kamu hati-hati yah," Bu Siti memeluk anaknya saat Nisa hendak memasuki taxi online yang tadi dia pesan.


"Iya Mah, Nisa pergi dulu yah," setelah mengatakan itu Nisa segera masuk ke dalam mobil.


Bu Siti kembali masuk ke dalam rumah setelah melihat kepergian anaknya.


Akhirnya taxi yang di naiki Nisa sudah sampai di depan gerbang rumah Alvin.


Nisa segera turun setelah dia membayar.


Nisa menatap keramaian dari dalam rumah itu.


Kok terlihat ramai, memangnya ada acara apa yah," batin Nisa lalu dia segera melangkah memasuki gerbang rumah itu.


Kebetulan Nisa melihat pintu rumah terbuka lebar. dia langsung masuk begitu saja. namun dia merasa terkejut saat dia melihat suaminya sedang melafadzkan ijab qabul.


Saya terima nikah dan kawinnya,


"Mas Alvin," Nisa berteriak sehingga Alvin menghentikan ucapannya.


"Nisa," Alvin berdiri dari duduknya. dia melangkah menghampiri Nisa. namun Nisa memilih untuk pergi keluar dari rumah itu.


"Al, jangan pergi!" Bu Hilya menyusul anaknya yang saat ini sedang mengejar Nisa.


Langkah Alvin lebih cepat. dia menghentikan Nisa yang masih ada di halaman rumahnya.


"Nis, maafkan aku, aku hanya menurut sama Mamah karena dia mengancamku," Alvin merasa sangat bersalah kepada Nisa.


"Tapi kamu bisa menolak Mas, tapi ini malah menerimanya," ucap Nisa


"Ayo kita pergi saja Nis! aku minta maaf karena aku bersalah sama kamu," ucap Alvin


Nisa mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya.


"Tidak usah pergi, biar aku saja yang pergi," ucap Nisa sambil memberikan amplop putih kepada Alvin.


Nisa berjalan cepat meninggalkan halaman rumah itu.


Alvin membuka amplop putih itu dan membuka kertas putih yang ada di dalamnya. dia mulai membaca tulisan yang ada di kertas putih itu. Alvin begitu senang saat mengetahui jika Istrinya sedang hamil.


Bu Hilya sudah ada di belakang anaknya.


"Al, cepat kembali! itu pak penghulu sudah menunggu," ucap Bu Hilya kepada anaknya.


"Mah, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini," setelah mengatakan itu Alvin langsung pergi begitu saja. dia melangkah menuju mobil miliknya. dia akan mengejar Nisa yang sudah pergi.


"Al, tapi kenapa?" Bu Hilya berteriak sambil mengetuk kaca mobil yang di naiki Alvin.


Alvin membuka kaca mobilnya.


"Nisa hamil," ucap Alvin lalu segera pergi meninggalkan halaman rumahnya.


Bu Hilya tampak terdiam di tempatnya. dia terkejut saat mengetahui Nisa hamil.


"Jeng Hilya, dimana Alvin?"


"Maaf Jeng Lela, sepertinya pernikahan ini harus di batalkan," ucap Bu Hilya yang merasa tak enak hati kepada sahabatnya.


"Tapi bagaimana dengan Anita dan keluarga kami jika pernikahan ini batal? kami menanggung malu loh, apalagi Anita belum lama menjanda. dan sekarang dia gagal nikah." Bu Lela langsung pergi untuk mengajak Anita pulang. jujur saja saat ini Bu Lela sangat kecewa. apalagi keluarganya harus menanggung malu di hadapan orang lain.


••••