
Tak lama Dokter yang tadi di hubungi oleh Bu Siti sudah datang. Dokter itu langsung memeriksa Nisa.
Bu Siti melihat Dokter itu sudah selesai memeriksa Nisa.
"Jadi bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Bu Siti
"Anak Ibu kekurangan cairan dan harus rawat inap. apalagi sepertinya sedang hamil." ucap Bu Dokter
"Hamil?" Bu Siti terkejut sekaligus senang mendengar anaknya hamil.
"Iya Bu, kalau begitu saya panggilkan ambulance dulu." ucap Bu Dokter lalu menghubungi ambulan.
Tak lama Ambulance itu datang. Nisa masuk ke dalam ambulance di temani oleh Bu Siti dan Bu Dokter. sedangkan Melda dan Pak Ahmad membawa mobil mereka masing-masing.
Kini Ambulance itu sudah sampai di depan rumah sakit. terlihat beberapa perawat datang dengan mendorong brankar pasien. Nisa di tidurkan di atas brankar pasien. dia akan langsung di bawa ke ruang inap yang sebelumnya sudah di pesan oleh Pak Ahmad.
Setelah di tangani oleh Dokter, kini Nisa di biarkan untuk beristirahat.
"Pah, apa sebaiknya kita kasih tahu Nak Alvin saja," ucap Bu Siti kepada suaminya.
"Jangan dulu Mah, nanti saja nunggu Nisa siuman," ucap Pak Ahmad
"Baiklah," kata Bu Siti
"Maaf Tante, saya mau ijin keluar dulu ," Melda berpamitan kepada Bu Siti.
"Iya Nak, kamu kalau mau pulang duluan tidak apa-apa kok."
"Nanti siang saja Bu pulangnya, sekarang Melda mau keluar dulu cari angin," ucap Melda
Melda segera keluar dari ruangan itu setelah dia berpamitan.
Bu Siti mendekati Nisa dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien. dia menatap wajah pucat anaknya.
Nak, malang sekali nasibmu." gumam Bu Siti sambil membelai wajah anaknya.
"Emm--" Terlihat Nisa mulai mengerjapkan kedua matanya.
"Nak, kamu bangun?"
"Mah, aku dimana?" Nisa menatap sekelilingnya yang tampak asing.
"Kamu di rumah sakit Nak, kata Dokter kamu hamil," ucap Bu Siti
"Banarkah aku hamil," Nisa merasa senang saat mengetahui jika dirinya sedang hamil.
"Iya Nak, tapi kamu kurang cairan dan harus istirahat total untuk saat ini."
"Mas Alvin mana Mah?"
"Mamah belum memberitahukan ini kepada suamimu," ucap Bu Siti
"Nanti saja Nak, kamu kasih tahu sendiri jika kamu sudah pulih. sekalian ini bisa di jadikan surprise untuk suamimu." sahut Pak Ahmad lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Nisa.
"Pah,cepat panggilkan Dokter!" pinta Bu Hilya
"Iya Mah," Pak Ahmad langsung pergi meninggalkan ruangan itu untuk memanggil Dokter.
Setelah selesai memeriksa, Dokter itu segera keluar dari ruangan. Nisa hanya di minta untuk tetap Istirahat dan jangan banyak fikiran.
°°°
Siang ini Alvin masih sibuk dengan pekerjaannya. dia mendengar ponsel miliknya berbunyi. Alvin melihat layar ponselnya dan ternyata itu panggilan masuk dari Ibunya. Alvin segera mengangkat panggilan telfon itu.
📞"Hallo Mah," ucap Alvin
📞"Hallo Al, cepat kamu ke butik langgananan Mamah! sekarang yah Mamah tunggu di butik," ucap Bu Hilya tanpa penolakan.
📞"Ngapain sih Mah?"
📞"Tidak usah banyak tanya Vin," ucap Bu Hilya dan langsung mematikan panggilan telfonnya.
Ngapain sih suruh ke butik segala," batin Alvin lalu dia membereskan berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.
Alvin segera bersiap untuk pergi ke butik. dia menemui asistennya terlebih dahulu dan mengatakan jika dia akan pergi.
Hanya 20 menit saja Alvin sampai di butik langganan ibunya. dia segera melepas jas yang dia pakai karena menurutnya terlalu berlebihan jika hanya ke butik saja namun memakai jas.
Bu Hilya melihat anaknya yang sudah datang. dia langsung memanggil Alvin.
"Al, sinih!" ucap Bu Hilya yang saat ini sedang duduk bersebelahan dengan Anita.
Alvin menoleh ke sumber suara. dia melangkah menghampiri Ibunya. namun sejenak dia menghentikan langkahnya saat melihat Anita berada di sana.
Ngapain sih Mamah ajak Anita segala," batin Alvin lalu dia mendekati ibunya dan berdiri di sampingnya.
"Ada apa sih Mamah nyuruh Alvin kesini? lagian Mamah sudah ngajak Anita."
"Tidak usah protes! lebih baik sekarang kita masuk ke dalam," Bu Hilya menuntun tangan Alvin dan Anita. lalu mereka masuk ke dalam butik.
"Selamat datang Bu Hilya, mau cari apa?" salah satu pelayan di butik itu menyambut hangat kedatangan Bu Hilya yang memang sudah di kenalnya.
"Mau cari gaun pengantin yang sudah jadi," ucap Bu Hilya
"Baiklah, mari ikut saya!" ucap wanita itu dengan ramah.
"Mah," Alvin menahan tangan Bu Hilya sehingga dia menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Bu Hilya menoleh dan menatap Alvin.
"Ngapain pakai beli gaun pengantin segala sih, Alvin tidak mau nikah lagi!" Alvin terlihat emosi karena Bu Hilya mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan Alvin.
"Kamu sayang tidak sama Mamah?"
"Sayang, tapi tidak seperti ini juga caranya," Alvin berbalik arah dan hendak pergi meninggalkan butik. namun Bu Hilya menahannya.
"Al, jangan membantah apapun yang Mamah katakan," ucap Bu Hilya kepada anaknya.
Alvin hanya menghela nafasnya. dia tak jadi pergi. malah dia mengikuti langkah Ibunya.
°°°