
Melda sudah sampai di kamar Nisa. dia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Melda mendudukan dirinya di sofa sambil menunggu Nisa selesai mandi.
Tak lama pintu ruangan terbuka dan terlihat Nisa keluar dari dalam.
"Nis, sudah selesai?" Melda bertanya kepada Nisa
"Sudah nih," jawab Nisa
"Kalau gitu aku mandi juga deh, tapi aku pake baju apaan yah."
"Nanti pakai piyamaku saja," ucap Nisa
"Thanks Nis, aku mandi dulu," Melda berlalu pergi masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Melda dan Nisa saling mengobrol. hingga terdengar adzan maghrib keduanya menghentikan obrolan mereka. setelah sholat maghrib keduanya memilih untuk tadarus bersama.
Tok tok
Mereka yang masih membaca Al_qur'an mendengar ketukan pintu dari luar kamar. mereka memilih untuk berhenti mengaji.
Nisa membuka pintu tanpa melepaskan mukena yang dia pakai.
Cklek
"Nis, masih ngaji yah?" Bu Siti bertanya kepada Nisa yang masih mengenakan mukena.
"Sudah selesai kok Mah," jawab Nisa
"Ya sudah, ayo kita makan malam!" ajak Bu Siti
"Baik Mah, Nisa mau siap-siap dulu," ucap Nisa
Bu Siti segera pergi dari depan kamar anaknya setelah dia mengajaknya makan malam.
Nisa menyuruh Melda untuk bersiap. keduanya hanya memakai jilbab instan biar lebih cepat.
Kini keduanya keluar kamar dan langsung menuju ke ruang makan. mereka langsung duduk di hadapan Bu Siti dan Pak Ahmad.
"Nis, sekarang kamu kurusan," ucap Pak Ahmad sambil menatap anaknya.
"Mungkin karena kecapean Pah, tapi sekarang Nisa tidak kerja lagi kok, pasti nanti juga BB Nisa naik lagi," ucap Nisa
"Lebih baik kamu bantu Papah urus pesantren saja Nak," ucap Pak Ahmad
"Kalau itu sih nanti Nisa tanyakan dulu sama Mas Alvin," jawab Nisa
"Iya Nak, Papah tunggu jawabanmu."
Hanya sebentar mereka mengobrol, kini mereka memilih untuk memulai makan malamnya.
Setelah selesai makan malam, Bu Siti menyuruh Nisa dan Melda untuk segera beristirahat. sedangkan Pak Ahmad dan Bu Siti memilih untuk bersantai di ruang keluarga.
"Mah, kok Nisa pulang tidak sama suaminya?" Pak Ahmad bertanya kepada Istrinya.
"Mereka ada masalah Pah, Nisa sih belum cerita apa-apa sama Mamah. tapi tadi sore Mamah tanya ke Melda." ucap Bu Siti
"Masalah apa Mah?"
"Jadi begini Pah, Alvin itu di suruh nikah sama perempuan lain karena Nisa tidak hamil juga," ucap Bu Siti mengatakan kepada suaminya apa yang tadi di sampaikan oleh Melda.
"Kok bisa, siapa yang menyuruhnya?"
"Bu Hilya yang menyuruhnya Pah," ucap Bu Siti
"Sebenarnya apa sih maunya Bu Hilya? dulu dia ingin cepat-cepat kita menikahkan Nisa dengan Alvin. sekarang Malah mau menikahkan Alvin dengan yang lain." Pak Ahmad merasa heran dengan pola fikir Bu Hilya.
"Mungkin karena Nisa dan Alvin sudah lama menikah namun Nisa belum hamil juga Pah. ya, memang sih terkadang kita para orang tua merasa khawatir juga." ucap Bu Siti
"Iya sih Mah, tapi kan yang namanya rezeki itu sudah ada yang mengatur. kita hanya berdoa dan berusaha saja. jika seperti ini caranya, Papah jadi khawatir sama Nisa. pasti dia sekarang kurusan karena terlalu banyak beban fikiran."
"Mamah rasa juga seperti itu Pah," ucap Bu Siti
"Lalu, kita harus bagaimana Mah?"
"Lebih baik kita biarkan Nisa di sini dulu, setidaknya untuk dia menenangkan fikiran," ujar Bu Siti
"Papah juga setuju Mah," kata Pak Ahmad
Setelah selesai mengobrol, kini keduanya memilih untuk pergi ke kamar untuk beristirahat.
°°°
Tok tok
Bu Siti mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Bu Siti segera membuka pintu dan melihat Alvin sedang berdiri di sana.
"Assalamu'alaikum, Bu," ucap Alvin kepada Bu Siti.
"Waalaikum'salam Nak Alvin, ayo silahkan masuk!" ucap Bu Siti mengajak Alvin untuk masuk.
Kini Alvin masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Nak Alvin mau ketemu Nisa yah?"
"Iya Bu, saya mau membujuknya untuk mengajak pulang," ucap Alvin
"Maaf Nak Alvin, lebih baik Nisa tinggal
di sini dulu sampai fikiran dia lebih tenang," kata Bu Siti
"Tapi Bu, sebenarnya saya ingin menginap juga tapi tidak mungkin karena ayah saya sedang sakit. dan juga Ibu saya melarangnya."
"Iya tidak apa-apa kok, Nak Alvin tolong kasih Nisa ijin yah untuk dia tinggal di sini," pinta Bu Siti
"Saya ijinin kok Bu, apa saya boleh bertemu Nisa?"
"Boleh Nak, sebentar yah Mamah panggilkan dulu," Bu Siti langsung beranjak dari duduknya. lalu melangkah menuju ke kamar Nisa.
Bu Siti datang bersama Nisa. Nisa langsung duduk di depan suaminya. sedangkan Bu Siti ke dapur untuk membuatkan minum.
"Nis, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik kok, ngapain Mas Alvin kesini?"
"Aku rindu sama kamu Nis, oh iya wajah kamu pucat sekali, kamu jangan kecapean yah." Alvin menatap wajah Nisa yang terlihat pucat.
"Iya Mas, aku akan istirahat terus kok?" jawab Nisa
"Kalau sakit, kamu bilang yah sama Mas. biar Mas yang antar kamu periksa."
"Tidak kok, aku tidak apa-apa," jawab Nisa dengan sedikit tersenyum menatap suaminya.
Bu Siti datang dengan membawa nampan.
"Silahkan di minum," Bu Siti meletakan dua gelas minuman di atas meja.
"Terima kasih Bu," ucap Alvin dan langsung mengambil gelas itu.
"Sama-sama Nak," jawab Bu Siti
Bu Siti kembali ke dapur untuk menaruh nampan. setelah itu Bu Siti datang dan ikut mengobrol bersama mereka.
Cukup lama Alvin di sana dan saling mengobrol. kini dia berpamitan untuk pergi karena harus ke kantor.
Nisa menatap kepergian Alvin yang semakin menjauh dari pandangannya. entah, dia begitu merindukan Alvin dan ingin memeluknya saat ini juga.
Mas Alvin, apa masih ada kesempatan untuk aku memelukmu, aku bukan Istri yang sempurna untukmu dan bukan menantu idaman Mamah Hilya." batin Nisa sambil menatap mobil yang di naiki Alvin semakin menjauh dari pandangannya.
Nisa hendak membalikan badan dan akan menutup pintu rumah. namun dia merasakan pusing.
"Nis kamu kenapa?" Bu Hilya melihat Nisa sedang memegangi kepalanya.
"Aku--" baru juga akan menjawab, Nisa sudah tak sadarkan diri. untung saja Bu Siti menopang tubuh Nisa sehingga Nisa tidak terjatuh ke lantai.
"Pah...Papah...Melda.." Bu Siti memanggil suaminya dan Melda karena dia merasa panik melihat Nisa yang tiba-tiba pingsan.
Terlihat Pak Ahmad menghampiri Istrinya.
"Nisa kenapa Mah?" Pak Ahmad bertanya kepada Istrinya.
"Mamah juga tidak tahu Pah, ayo Papah bantu Mamah!" pinta Bu Hilya
Pak Ahmad membantu menggedong Nisa. saat ini Nisa sudah di tidurkan di atas sofa. Bu Siti segera menghubungi Dokter kenalannya untuk datang dan memeriksa Nisa.
°°°°