
Menjelang sore Alvin mengajak Nisa untuk pulang. karena dia tahu jika saat ini Nisa merasa tidak nyaman ada di dekat Bu Hilya yang terus memojokinya.
"Ngapain sih pakai pulang segala?" Bu Hilya bertanya kepada anaknya.
"Mau istirahat Mah, lagian Papah juga pasti sumpek kalau di sini banyak orang," ucap Alvin
"Biarlah mereka pulang Mah, lagian kalau di sini semua, siapa yang akan jaga rumah," sahut Pak Alex ikut bicara.
"Oh iya Mah, Alvin mau minta kunci rumah," ucap Alvin sambil menatap Bu Hilya.
"Ada di bawah pot di depan rumah," jawab Bu Hilya.
"Baiklah," kata Alvin
Alvin dan Nisa segera pulang setelah mereka berpamitan. mereka menaiki mobil Alvin.
Saat ini keduanya sudah sampai di rumah. keduanya segera turun dari mobil. Alvin memarkirkan mobilnya sedangkan Nisa mencari kunci rumah di bawah pot bunga. namun dia tidak menemukan kunci itu.
"Sayang, sudah ketemu?"tanya Alvin yang kini sudah berada di belakang Istrinya.
"Belum Mas, kok tidak ada yah?" kata Nisa sambil mendongkakkan kepalanya karena saat ini dia sedang berjongkok.
Alvin mulai membantu Nisa mencari kunci rumah. namun tidak juga menemukannya. keduanya memilih menyudahi untuk mencari kunci itu. Alvin mendekati pintu masuk. dia mencoba membuka pintu itu namun ternyata langsung terbuka.
"Sayang, kok tidak di kunci?" Alvin menatap Istrinya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Masa sih, tadi pagi terkunci loh. Nisa mau masuk juga tidak bisa. malah Nisa mengira jika kunci rumah di bawa oleh Mamah."
"Jangan-jangan ada maling," ucap Alvin dan langsung masuk ke dalam rumah setelah dia membuka lebar pintu itu.
Nisa mengikuti suaminya yang sudah terlebih dahulu memasuki rumah. mereka menatap ke semua penjuru ruangan. Alvin mendengar suara sedikit berisik dari dapur.
"Sayang, ayo ke dapur!" ucap Alvin mengajak Istrinya.
Kini mereka berdua melangkah menuju ke dapur. keduanya menatap seorang wanita yang sedang memasak. wanita itu membelakanginya sehingga mereka tidak melihat wajahnya.
"Siapa kamu?" tanya Alvin
Anita menoleh menatap Alvin dan Zivana.
"Aku Anita, kebetulan Tante Hilya menyuruhku ke sini dan memasak untuk Kak Alvin," ucap Anita
Apa Mamah sudah tidak mempercayaiku untuk memasak? kenapa harus orang lain?" batin Nisa yang sedikit sedih.
Keterlaluan Mamah, bisa-bisanya dia menyuruh orang asing menyelinap masuk rumah ini." batin Alvin
Alvin menatap Istrinya sekilas. lalu dia menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk segera pergi ke kamar.
Anita hanya melihat kepergian mereka. dia melanjutkan lagi memasaknya.
Nisa melihat suaminya yang terlihat emosi.
"Mas, sudahlah biarkan saja Anita di sini, mungkin niat Mamah mengundang Anita itu maksudnya baik," ucap Nisa walaupun sebenarnya dia juga sedikit kurang suka.
"Tapi sayang, aku tahu niat Mamah itu biar aku simpati sama Anita. aku tidak suka loh." ucap Alvin
"Sabar Mas, lebih baik sekarang kita sholat dzuhur terus ke bawah makan siang bersama. kasihan itu Anita sudah cape masak." ucap Nisa kepada suaminya.
"Baiklah," Alvin berlalu pergi menuju ke kamar mandi di ikuti Nisa yang juga ikut.
Setelah selesai sholat dzuhur, mereka memilih menghampiri Anita. saat ini Anita sedang duduk di ruang makan sendirian.
"Lagi libur Kak," jawab Anita lalu dia kembali berkata dan mempersilahkan mereka makan.
"Ayo silahkan di makan!" ucap Anita sambil menatap Nisa dan Alvin secara gantian.
"Makasih," ucap Nisa lalu dia mulai menarik kursi untuk dia duduki.
"Sama-sama Kak," jawab Anita
"Biar aku ambilin untuk kamu sayang," ucap Alvin lalu dia mengambil centong nasi yang sedang di pegang oleh Nisa.
"Aku bisa sendiri kok Mas," ucap Nisa namun Alvin tetap memasukan nasi dan lauk ke dalam piring itu.
Alvin menaruh piring itu di depan Istrinya.
"Ayo di makan!" kata Alvin sambil menatap Istrinya.
"Iya Mas," jawab Nisa sambil tersenyum menatap suaminya.
Alvin melihat ada sedikit makanan di sudut bibir Istrinya. lalu Alvin mengambil tisu dan mengelapnya dengan tisu.
"Kalau makan jangan belepotan dong," ucap Alvin sambil mengelap sudut bibir Istrinya. sedangkan Nisa menatap Alvin yang begitu perhatian kepadanya.
"Makasih Mas," Nisa tersenyum menatap suaminya.
"Sama-sama sayang, sini Mas suapin kamu biar tidak belepotan," Alvin mulai menyuapkan makanan ke mulut Istrinya.
Anita bagaikan orang asing di antara mereka. bahkan dengan sengaja Alvin memperlihatkan kemesraan di depannya.
Setelah selesai makan siang, Alvin mengajak Nisa duduk bersantai sambil menonton televisi. kebetulan Anita juga sedang duduk di sana. tadi dia selesai makan lebih dulu karena dia malas menyaksikan kemesraan Alvin dan Nisa.
Anita melihat Alvin yang terus menggoda Nisa. padahal di sana ada dia, namun sepertinya Alvin sengaja memamerkan kemesraannya.
Lebih baik aku pulang saja, dari pada disini cuma jadi penonton saja." batin Anita lalu hendak beranjak dari duduknya. namun ponsel miliknya berbunyi sehingga dia tak jadi pergi.
Anita mengangkat panggilan telfon dari Bu Hilya.
📞"Hallo Tante," ucap Anita
📞"Hallo Nak Anita, kebetulan nih nanti sore Tante pulang. kamu masih di rumah tidak?"
📞"Masih Tan," ucap Anita
📞"Kamu jangan pulang dulu yah, kalau bosan bisa ngapain saja terserah kamu."
📞"Baik Tante," jawab Anita
Sekarang keduanya sudah selesai bertelfonan.
"Siapa yang menelfon?" Alvin bertanya kepada Anita yang sedang menaruh ponselnya ke dalam tas.
"Tante Hilya, katanya mau pulang sore ini. terus nyuruh aku di sini dulu." ucap Anita
"Mas, kita nanti jemput Papah yuk," ajak Nisa
"Iya sayang," ucap Alvin
Anita memilih pergi ke kamar tamu untuk beristirahat hingga menjelang sore. dia tidak mau melihat kemesraan Alvin dan Nisa.
°°°°°