Noda Di Balik Jilbabku

Noda Di Balik Jilbabku
Menenangkan diri


Setelah Nisa selesai sarapan, Melda mengajaknya mengobrol.


"Nis, sebenarnya kamu ada masalah apa?" Melda bertanya kepada Nisa. karena Nisa jarang sekali mau cerita masalah pribadinya.


"Mamah Hilya menyuruh Mas Alvin menikahi Anita," jawab Nisa


Melda terkejut mendengar perkataan Nisa.


"Kok gitu? terus bagaimana dengan kamu?"


"Aku belum tahu," jawab Nisa dengan sedikit lesu.


"Kok bisa sih Ibu mertuamu seperti itu, memangnya apa salahmu?"


"Aku belum hamil juga, itu yang membuat Mamah Hilya sedikit berbeda sikapnya," jawab Nisa


"Kamu yang sabar yah, pasti ini sangat berat untuk kamu," Melda menepuk-nepuk pelan bahu Nisa.


"Iya Mel, aku sangat bingung Mel. aku tidak mau di madu, tapi di sisi lain aku belum bisa membahagiakan mertuaku."


"Lalu, apa keputusanmu?"


"Aku masih bingung, aku mau bertahan tapi nanti aku sendiri yang merasakan sakitnya. tapi jika aku pergi, aku tidak mau berpisah dengan Mas Alvin. aku sangat mencintainya."


"Lebih baik untuk saat ini kamu tenangkan diri kamu. untuk sementara waktu kamu pergi dulu dari rumah itu." ucap Melda memberikan sarannya.


"Tapi aku tinggal dimana? apa boleh jika aku tinggal di sini?"


"Jangan Nis! bukannya aku tidak mau kamu tinggal di sini, tapi lebih baik kamu tinggal sama orang tua kamu. kamu ceritakan semua masalah rumah tangga kamu. aku yakin jika selama ini orang tua kamu tidak mengetahuinya. nanti pasti orang tua kamu akan memberikan jalan keluar untukmu. karena ini masalah serius, kamu harus bicara sama orang tuamu." ujar Melda memberikan sarannya.


"Makasih Mel, aku baru tahu jika kamu bisa bicara bijak juga," ucap Nisa yang kini sudah memeluk sahabatnya.


"Siapa dulu dong, Melda gitu," ucap Melda yang merasa senang mendapat pujian itu.


"Lalu sekarang kita ngapain?"


"Kita pergi saja Nis, seharian ini kita harus bersenang-senang," ucap Melda


"Lalu, kapan aku pulang ke rumah orang tuaku?"


"Nanti sore saja Nis, setelah kita jalan-jalan aku antar kamu ke rumah mertuamu untuk mengambil keperluanmu. setelah itu barulah kita pergi." ucap Melda


"Baiklah," jawab Nisa yang menyetujui perkataan sahabatnya.


Keduanya bersiap untuk pergi. memang jarang sekali mereka pergi berdua seperti ini karena sebelumnya Nisa sibuk kerja. dan di hari libur dia selalu menghabiskan waktu liburnya dengan suami tercinta.


°°°


°°°


Pukul lima sore Nisa dan Melda baru pulang. Melda langsung mengantar Nisa ke rumah mertuanya. padahal dia merasa cape. tapi demi sahabat sejatinya, dia harus membantunya.


Alvin melihat Nisa yang baru pulang. dia menghampiri Nisa yang saat ini sedang ada di kamar.


"Sayang, kamu lagi ngapain?"tanya Alvin yang melihat Istrinya mengambil koper.


Nisa mulai membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian yang akan dia bawa.


"Sayang, kamu mau kemana sih?" Alvin kembali bertanya kepada Istrinya.


"Aku mau tinggal di rumah Mamah untuk semantara waktu. aku mau menenangkan fikiranku." jawab Nisa yang masih sibuk memasukan pakaiannya ke dalam koper besar miliknya.


"Kamu berniat meninggalkanku?" kedua tangan Alvin memegang bahu Istrinya. dia menatap wajah Istrinya dengan serius.


"Tidak Mas, aku hanya mau menenangkan diri. plis ijinkan aku pergi yah." Nisa menatap suaminya dengan tatapan memohon.


"Baiklah, tapi satu yang harus kamu tahu sayang, aku sangat mencintai kamu. dan kamulah satu-satunya wanita yang ingin ku miliki."


"Iya Mas, aku percaya kata-kata kamu. semoga saja kamu bisa memegang kata-katamu itu."


"Aku selalu memegang kata-kataku sayang, tidak mungkin aku mengingkarinya."


Alvin membawakan koper Nisa. dan dia menggandeng tangannya saat keluar dari kamar.


Bu Hilya melihat Alvin dan Nisa sedang berjalan menuruni tangga. namun Alvin membawa koper besar.


"Alvin tidak kemana-mana kok Mah," ucap Alvin


"Lalu koper itu?"


"Nisa mau pergi ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu," jawab Alvin


"Oh"hanya itu yang di ucapkan oleh Bu Hilya.


Saat ini Nisa dan Alvin sudah berada di depan rumah.


"Sayang, biar Mas antar kamu yah," ucap Alvin menawarkan diri.


"Tidak usah Mas, aku pergi sama Melda," jawab Nisa


Terlihat Melda yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Ayo Nis, aku sudah menunggu lama nih," ucap Melda yang kini sudah sampai di depan Nisa berdiri.


"Maaf Mel, aku sudah merepotkan kamu," ucap Nisa lalu dia mulai melangkah pergi menuju mobil dengan menggandeng tangan sahabatnya. sedangkan Alvin di belakang mereka dengan menarik koper milik Nisa.


Kini keduanya sudah ada di dalam mobil. Nisa menatap suaminya dari kaca mobil yang terbuka. mereka saling melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan.


Cukup lama mengemudi, kini mobil yang di kendarai oleh Melda sudah sampai di depan rumah Nisa. keduanya segera keluar dari dalam mobil. Nisa mengajak Melda untuk menginap di rumahnya. kebetulan Melda sudah lelah mengemudi, dan dia menerima tawaran Nisa untuk menginap di rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Nisa yang sudah berada di depan rumah.


"Waalaikum'salam," jawab Bu Siti lalu melangkah mendekati pintu masuk.


"Nisa, Melda," Bu Siti merasa senang melihat anaknya datang. "Ayo masuk!" ucapnya lagi


Nisa dan Melda langsung masuk ke dalam. kini keduanya sudah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. sedangkan Bu Siti ke dapur untuk membuatkan minum.


Bu Siti sudah kembali dengan membawa teh hangat dan satu toples cemilan untuk mereka.


"Silahkan di minum dulu tehnya!" ucap Bu Siti sambil menaruh dua gelas minuman ke atas meja.


"Makasih Tante," ucap Melda


"Sama-sama Nak," jawab Bu Siti lalu mendudukan dirinya di sebelah Nisa.


"Nis, kenapa kamu pulang bawa koper besar?" Bu Siti bertanya kepada Nisa.


"Aku mau tinggal di sini sementara waktu Mah," jawab Nisa


"Tapi kenapa suamimu tidak ikut? kalian ada masalah?"


"Hanya masalah kecil kok," ucap Nisa yang memang belum mau bicara jujur.


"Sekarang kamu juga kurusan loh, kamu jangan kecapean Nak," Bu Siti menatap badan anaknya yang semakin langsing.


"Tidak kok Mah, malah sekarang Nisa sudah resign dari kerjaan," ucap Nisa


"Syukurlah jika seperti itu," Bu Siti masih menatap wajah anaknya. memang Nisa terlihat seperti sedang ada masalah.


Cukup lama mereka mengobrol dan duduk


di sana. Nisa memilih untuk beristirahat ke kamarnya. Melda juga hendak menyusul Nisa namun Bu Siti menahannya.


"Mel, coba kamu cerita sama Tante, sebenarnya Nisa sedang ada masalah apa," ucap Bu Siti sambil menatap Melda.


"Sebenarnya Melda juga tidak tahu permasalahan sesungguhnya itu seperti apa. namun Nisa bicara jika Bu Hilya menyuruh Kak Alvin untuk menikahi wanita yang bernama Anita. itu semua karena Nisa belum juga hamil sampai sekarang." jelas Melda


Bu Hilya tak habis fikir dengan kelakuan mertuanya. dulu dirinya yang meminta Bu Siti dan Pak Ahmad agar mau menikahkan Nisa dan Alvin. tapi sekarang malah menyakiti hati Nisa dengan menyuruh Alvin menikah lagi.


"Tante tidak menyangka jika Bu Hilya seperti itu," ucap Bu Siti di hadapan Melda.


"Yang sabar yah Tante, lebih baik sekarang Tante bantu carikan solusi terbaik untuk Nisa," kata Melda


"Iya Nak," jawab Bu Siti


Setelah selesai mengobrol dengan Bu Siti, Melda memilih untuk menyusul Nisa yang sudah ada di kamar.


°°°