
Kedua orang tua Nisa sudah pulang ke rumah. mereka melihat anak dan menantunya yang sedang menikmati sarapan pagi mereka.
"Assalamu'alaikum" ucap Bu Siti dan Pak Ahmad yang kini sudah masuk ke dalam. tadi mereka mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Waalaikum'salam" jawab Nisa yang kini berada di ruang makan.
"Mamah dari tadi ketuk pintu tidak di bukain. ternyata kalian sedang asyik makan." ucap Bu Siti sambil menghampiri anaknya.
"Iya nih Mah, maaf yah Mah tadi Nisa tidak mendengar ketukan pintu." kata Nisa sedikit tak enak hati.
"Tidak apa-apa sayang. oh iya, kalian go food?" tanya Bu Siti sambil melihat makanan yang sedang di santap oleh anak dan menantunya.
"Iya Mah, kan Mamah tahu sendiri kalau Nisa tidak bisa masak. bisanya cuma masak mi sama nasi goreng saja." kata Nisa.
"Astaga Nisa, nanti Mamah ajarin kamu masak deh. habisnya kalau Mamah mau ajarin kamunya suka tidak mau."
"Nisa takut bawang Mah bikin perih mata." ucap Nisa beralasan.
"Tapi sekarang kamu sudah menjadi seorang Istri loh. jadi harus bisa melayani suaminya dengan baik." ujar Bu Siti
"Baiklah, Nisa mau belajar sama Mamah."
"Nah gitu dong, kalau gitu Mamah sama Papah mau ke kamar dulu." setelah mengatakan itu Bu Siti menuju ke kamar bersama suaminya yang sudah terlebih dahulu melangkah.
Kini tinggal Nisa dan Alvin. Alvin hanya cuek tak berkomentar apapun. apalagi saat ada mertuanya tadi.
"Aku sudah, mau ke atas dulu." ucap Alvin lalu segera membawa bungkusan tempat makan yang sudah kosong dan membuangnya di tempat sampah.
"Iya" jawab Nisa sambil menatap kepergian suaminya.
Alvin yang sudah sampai di kamar segera bersiap karena akan berangkat ke kantor. sebenarnya dia sudah meminta cuti selama satu minggu. namun situasinya yang seperti ini membuatnya ingin menyibukan diri di kantor.
Nisa yang hendak melangkah ke lantai atas berpapasan dengan suaminya.
"Aku mau ke kantor dulu ada hal yang sangat mendesak. dan tidak bisa di tangani oleh orang lain selain aku sendiri." ucap Alvin kepada Nisa.
"Ya sudah, hati-hati di jalan." Nisa mengulurkan tangannya kepada suaminya. namun suaminya tidak menerima uluran tangan itu.
Alvin segera pergi dari hadapan Nisa.
Kenapa hanya bersalaman saja dia tidak mau? mending nanti siang aku ke kantornya untuk minta maaf. mungkin Alvin marah soal semalam. nanti cari di internet saja alamat kantornya." batin Nisa sambil menatap kepergian Alvin.
Nisa memilih untuk membersihkan rumah karena Bu Siti yang biasanya mengerjakan semua itu baru pulang. dan pastinya kelelahan.
Setelah selesai beres-beres, Nisa memilih untuk beristirahat di kamarnya.
°°
Siang ini Nisa sudah bersiap untuk pergi ke kantor suaminya. dia memilih untuk mengendarai mobil sendiri.
Setelah mencari alamat kantor Alvin, dan berpedoman pada google maps kini Nisa sudah sampai di depan kantor Alvin.
Nisa segera turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung menjulang tinggi itu. dia bertanya kepada dua resepsionis yang sedang berjaga.
"Maaf Nona, apa anda sudah membuat janji?" tanya salah satu dari mereka.
"Belum, tapi saya kenal sama Pak Alvin." jawab Nisa
"Maaf sebelumnya tapi kalau mau bertemu dengan Bos harus membuat janji dulu. kami tidak menerima sembarang tamu."
"Tapi saya--" Nisa baru juga akan bicara namun perkataannya terpotong saat ada yang datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Gio yang baru datang dari luar kantor.
"Ini Pak, ada yang mau ketemu dengan Pak Alvin tapi belum membuat janji." ucap salah satu resepsionis.
"Biarkan dia ikut saya. saya kenal sama dia." ucap Gio sambil menatap Nisa.
Akhirnya Gio mengajak Nisa menuju ke ruangan Alvin yang ada di lantai paling atas. saat ini mereka berada di dalam lift.
"Maaf, apa Bapak mengenal saya?" tanya Nisa kepada Gio.
"Kamu Istrinya Alvin, masa kamu tidak mengenalku. padahal aku datang loh ke pernikahanmu." jawab Gio
"Iyakah? pantas wajahnya tidak asing. tapi saya lupa lihat Bapak dimana."
"Jangan panggil Bapak! panggil saya Gio saja." pinta Gio
"Baiklah" jawab Nisa
Setelah pintu lift terbuka keduanya segera keluar dari dalam.
Kini mereka sedang berada di lorong menuju ke ruangan Alvin.
"Kamu sendiri saja yah, saya masih ada urusan sama karyawan yang lain." ucap Gio
"Iya Pak eh Gio, saya tidak apa-apa kok."
"Kamu jalan lurus saja nanti ada ruangan yang depannya tulisan Direktur Utama. nah itu ruangan Alvin." Gio memberitahu ruangan Alvin kepada Nisa.
"Baiklah, terima kasih yah."
"Sama-sama" jawab Gio
Lalu Nisa melangkah pergi setelah melihat kepergian Gio.
Kini Nisa sudah berada di depan ruangan Alvin. dia yang akan mengetuk pintu tak jadi saat dia mendengar suara seorang wanita dari dalam ruangan itu. ternyata pintunya tidak tertutup rapat.
Nisa membuka pelan pintu itu. dia sangat terkejut saat melihat suaminya sedang asyik b*rciuman dengan seorang wanita. Nisa kembali berbalik dan pergi dari sana. dia merasakan sesak di dadanya.
Kenapa dadaku sesak? apa aku cemburu? apa aku sudah jatuh cinta kepadanya?" batin Nisa sambil memegangi dadanya.
Sebenarnya siapa wanita itu? apa dia kekasihnya Alvin? kalau memang kekasihnya, kenapa Alvin mau menikah denganku." Nisa masih bertanya-tanya dalam hatinya.
°°