Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 78


Loralei memang berencana untuk menjenguk orang tuanya setelah Agathias pulang. Padahal baru kemarin malam ia pulang dari rumah sakit, rutin setiap hari mengunjungi satu-satunya keluarga yang dimiliki, tapi memang belum bisa merawat dua puluh empat jam karena kondisi perut semakin besar.


Lalu, baru saja Loralei menerima panggilan dari rumah sakit, memberikan kabar kalau orang tuanya kritis dan masuk ICU. Demi apa pun, kemarin masih baik-baik saja, bisa bercanda juga saat bertemu dengannya.


Tanpa banyak bicara, Loralei langsung meminta Agathias untuk mengantar ke rumah sakit. Dia belum mau kehilangan ibunya. Ingin sekali merasakan merawat dua puluh empat jam dan terus berada di sisi orang tuanya hingga sembuh. Namun, kondisi tidak memungkinkan sejak dahulu, ia yang sibuk kerja dan sekarang hamil besar.


Wanita berperut buncit itu berurai air mata saat kaki terayun menyusuri lorong menuju ruang ICU. Dalam rangulan Agathias membuatnya tidak bisa berjalan cepat karena selalu ditahan oleh pria itu agar tak buru-buru ketika berjalan.


Loralei sesekali berdesis saat merasakan perut kembali kontraksi. Sebenarnya ia sudah merasakan hal itu sejak dua hari yang lalu, tapi untuk kali ini lebih menyakitkan berkali-kali lipat.


Mengabaikan sejenak rasa yang menyerang sekujur tubuhnya, saat ini Loralei hanya ingin bertemu ibunya terlebih dahulu. Dia harus memberikan semangat supaya bisa kembali pulih, walau tetap harus terus pengobatan tidak masalah, yang penting masih ada di dunia dan bisa dilihat wujudnya.


Belum apa-apa Loralei sudah membayangkan betapa pilunya kehilangan seseorang yang berharga. Dia pernah sedih hingga terpukul saat ayahnya tiada, menyaksikan juga bagaimana saat nyawa teregang di depan mata. Apa iya harus kembali menghadapi hal yang sama? Memikirkan saja tidak mampu.


Di depan ICU sudah ada dokter yang selalu merawat Linda Nyx. Dia hendak menjelaskan kondisi pasien pada keluarga yang bersangkutan secara langsung.


“Kondisi pasien mendadak turun drastis, detak jantung melemah saat saya cek, langsung dipindah ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan yang lebih intens lagi,” jelas dokter itu.


Loralei hanya mendengar dan mengangguk, tidak bisa menanggapi sedikit pun informasi yang menyakitkan di telinganya.


Dalam kondisi seperti itu untung ada Agathias yang bisa menopang tubuh Loralei supaya tetap kuat berdiri. “Terima kasih, boleh kami masuk untuk melihat?”


Ruang ICU di sana tidak sekali masuk langsung bertemu ranjang pasien. Ada bagian untuk sterilisasi supaya menghilangkan bakteri, kuman, atau virus agar tak terbawa masuk.


Setelah memakai pelindung lengkap dan masker, Loralei dan Agathias masuk ke dalam ruangan lagi di mana Linda Nyx berada.


Sejak mendapatkan informasi bahwa orang tuanya kritis, Loralei belum juga mengeluarkan suara. Menangis terus. Apa lagi sekarang dihadapkan langsung oleh raga yang terbujur dengan berbagai alat medis menempel di tubuh.


Loralei berdesis kala perutnya kembali merasakan sakit, padahal baru beberapa menit yang lalu kontraksi menyerang. Ia mendekati wanita renta yang masih memejamkan mata. Meraih tangan untuk digenggam walau tak lagi merasakan ada balasan.


“Mom ...,” panggil Loralei dengan suara bergertar. Tenggorokan sangat tercekat hingga membuatnya sulit bicara jelas.


Diusaplah permukaan kulit yang tidak lagi kencang, dituntun untuk menyentuh perut buncitnya yang tidak bersahabat karena kontraksi terus. “Bertahan, ya? Sebentar lagi anakku, cucumu akan lahir ke dunia. Jangan menyerah, oke?”


Memang terdengar egois, tapi Loralei belum siap kehilangan lagi untuk kedua kali. Dia tahu kalau pergi selamanya bisa menghilangkan sakit yang diderita ibunya. Tapi, itu juga berarti tak bisa bertemu lagi untuk seterusnya.


...*****...


...Cerita Annora udah ada ya bestie. Yuk ... baca juga. Judulnya Hug His Darkness. Langsung klik profil aku aja biar gampang dan cepet ketemu. Sebagai pengganti karena bentar lagi cerita Lolo dan Gaga tamat...