Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 66


Dengan mata yang masih tidak percaya, bibir Loralei tersungging getir, penuh kemirisan. Alih-alih membujuk dan mencoba menemuinya untuk menyelesaikan semua yang terjadi hari ini, justru mendapati suami duduk dalam satu ruangan bersama mantan. Membuat hatinya terasa diremas, cabik, tusuk, dan sampai hancur berkeping-keping.


Loralei bertepuk tangan sinis. Bahkan ia sampai lupa kalau ingin menendang sesuatu di pangkal paha Agathias. Terlalu dongkol perasaannya saat ini.


“Wah ... jadi seperti ini balasanmu? Aku hanya mengkonsumsi tiga butir obat itu, kau sudah marah besar. Lalu, sekarang menjaga mantan yang sedang sakit, begitu?” Loralei menggelengkan kepala seakan tak percaya. “Hebat ... bosku luar biasa, suamiku paling bisa mempermainkan hati wanita.”


Agathias tidak langsung menanggapi, tapi melirik dan menatap tajam Aretha. “Kau yang memberi tahu dia?” tebaknya dengan suara penuh ancaman.


“Tidak, sejak kapan kau melihatku memegang ponsel?” elak Aretha. Padahal jawabannya adalah iya, dia meminta perawat kenalannya untuk diam-diam memotret dan dikirimkan pada nomor Loralei. “Sejak tadi ponselku ada di situ.” Ia menunjuk atas nakas.


Si bos menghela napas. Semakin kacau saja urusan rumah tangganya. Agathias berdiri, menghadap istri yang sudah berurai air mata.


“Sayang—” Baru juga satu kata yang keluar, sudah dipotong oleh Loralei.


“Jangan panggil aku sayang lagi! Aku membencimu, sangat!” teriak Loralei. Niatnya tidak mau menangis. Tapi, nyatanya susah juga, dada terasa sesak, dan perut bagaikan diaduk. Membuatnya tak kuasa untuk terlihat tegar karena entah kenapa sekarang menjadi mudah sedih, marah, dan bahagia. Mood bisa berubah begitu drastis.


“Oke, Loralei, dengarkan dulu penjelasanku,” ucap Agathias kian mengikis jarak.


Tapi Loralei juga semakin mundur. “Apa yang perlu ku dengarkan? Buktinya nyata, kau menjaga mantanmu dibandingkan berusaha membujukku untuk mau bertemu denganmu.” Dia tak bisa lagi ke belakang, punggung sudah terpentok di pintu.


“Tidak perlu pedulikan aku, urus saja mantanmu!” Loralei menepis tangan Agathias yang hendak meraih wajahnya. Rasanya kesal sekali, ingin meluapkan semua amarah yang menggunung dalam waktu sekejap.


“Kita periksa sekarang, selagi di rumah sakit,” bujuk Agathias. Meski istrinya terus marah-marah, tapi dia membalas dengan sangat tenang seolah tidak merasa memiliki kesalahan sedikit pun.


Bagaimana Loralei tidak bertambah geram jika menghadapi suami yang modelannya seperti si bos. Sudah terpergok sedang berduaan, bukannya minta maaf, justru sok peduli. Lebih kesal lagi karena saat ia melirik wanita yang terbaring di atas ranjang pasien itu sedang menyunggingkan senyum ke arahnya.


“Aku tidak butuh kau, sejak awal memang aku tidak penting dalam hidupmu, kan? Hanya dijadikan alat balas dendam dan pembuktian pada mantanmu kalau kau bisa hidup bahagia. Selamat! Kau berhasil mempermainkanku.” Loralei mendorong dada bidang yang ada di depan matanya.


Tapi, tangan kekar itu justru menarik dan mendekap Loralei. Begitu erat seakan memaksa sang wanita supaya tidak memberontak. “Keluarkan saja semua sampai kau puas, umpati aku sesuka hatimu. Kita bicara lagi setelah kau mulai tenang.”


Loralei memukul dada suaminya dengan tak bertenaga, menangis hingga kemeja Agathias terasa basah. “Kau jahat, Aga ... kau membuatku jatuh cinta denganmu, tapi ternyata aku hanyalah alat balas dendammu.”


Agathias tidak mau menanggapi terlebih dahulu. Membiarkan wanita itu menumpahkan segalanya. Percuma saja menjelaskan dalam kondisi seperti ini, pasti hanya akan menjadi angin lalu.


“Aku membencimu.” Suara Loralei kian melemah, Agathias menangkap itu. Tak berselang lama, ia merasa tubuh dalam dekapannya terkulai lemas.