
Loralei keluar dengan memakai piyama pendek. Ia urungkan niat menggunakan bunny girl costume karena melihat suaminya yang mendadak berubah.
Duduk di ruang makan, tepat depan Agathias. Dia hanya memegang papperbag berisi makanan yang dibawakan oleh suaminya. Mata tertuju pada pria yang terus fokus ke layar MacBook.
“Kenapa?” tanya Agathias dengan alis terangkat sebelah saat sadar tengah diperhatikan.
“Tak apa.” Loralei menggeleng. Mungkin hanya pikirannya saja terlalu berlebihan. Pria itu pasti sedang sibuk menyelesaikan disertasi.
“Mau ku panaskan makanan itu sebelum di makan?”
“Ha? Tidak.” Kepala Loralei bergeleng. “Aku bisa sendiri.”
“Oh ... ya sudah.” Loralei menelan ludah kala Agathias kembali mengabaikan dirinya. Biasanya, pria itu akan melakukan semua hal yang berlawanan arah dengan keinginannya.
Loralei jadi merasa aneh dan hampa saat suaminya mendadak berubah. Entahlah kenapa Agathias jadi seperti sekarang. Pria itu terkesan asing, bukan si bos galak, cabul, penindas, dan penjajah seperti yang ia kenal.
Biasanya, setiap tidur pasti memaksa dirinya untuk memeluk. Tapi, tidak dengan malam ini. Justru ada jarak diantara mereka saat berada di atas ranjang. Sampai Loralei bisa melihat punggung Agathias kala pria itu telah mengambil posisi untuk tidur.
“Aga?” panggil Loralei. Dia sampai tak bisa terbang ke alam mimpi.
“Hm?” Hanya gumaman yang diberikan.
“Kenapa tumben tidak tidur memeluk aku?” tanya Loralei. Dia merasa ada yang kurang ketika kebiasaan selama menjadi istri tidak lagi dilakukan.
“Kau tidak suka ku peluk, bukan?” Agathias membalikkan tubuh hingga mereka bisa saling tatap.
Loralei mengangguk ragu. Benar juga. Kenapa dia bertanya tentang itu pada suaminya. “Ya sudah, selamat istirahat.” Dia memutar posisi hingga sekarang memunggungi sang pria.
Dan ... kejadian itu berlangsung bukan satu hari. Tapi, satu minggu penuh. Jadilah Loralei setiap malam selalu kesulitan terlelap, terasa ada yang hilang.
Mereka juga jadi jarang berbincang, kecuali hal penting. Loralei menatap bosnya yang sedang rapat di dalam sebuah ruangan. Karena banyak pikiran, dia jadi kurang fokus, jadilah tidak menyahut saat Agathias memanggil.
“Ha? Maaf, Tuan.” Loralei langsung gelagapan.
Tapi, baru kali ini Agathias tidak marah-marah saat ada yang berbuat salah. “Kau lelah? Kurang tidur? Keluar saja istirahat, tidak perlu ikut rapat.”
“Oh, tidak, aku masih kuat.” Loralei kembali menegakkan posisi duduk.
“Yakin?”
“Ya.” Jemari Loralei diletakkan ke keyboard dan bersiap untuk menulis sepanjang rapat berlangsung.
Sampai selesai, bahkan Agathias pun berjalan keluar untuk mendahului. Membuat Loralei muram saat menatap punggung suaminya yang kian jauh.
“Dia kenapa, ya?” gumam Loralei dengan segenap kebingungannya.
Helaan napas tak paham pun dikeluarkan dari bibir. Loralei berjalan tak bersemangat menuju ruang CEO yang mana ruang kerjanya juga. Dia mendapati Agathias sudah duduk di singah sana dan fokus ke komputer tanpa menatap ke arahnya.
Melihat jam yang sudah menunjukkan makan siang, Loralei pun meminta izin. “Aga?”
“Hm?”
“Aku mau makan di kantin perusahaan.”
“Ya.”
Loralei sampai dibuat mengernyit oleh seluruh jawaban suaminya. Tumben sekali tanpa banyak perdebatan. “Oke, aku pergi dulu.”
Tidak mendapatkan jawaban, Loralei pun lekas berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, dia kembali menengok ke belakang untuk memastikan.
Dia sungguh tidak mau menggangguku lagi? Tumben tak mendadak mengekor saat aku mau pergi.