Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 43


Hari sudah malam saat Loralei pamit pulang dengan sang ibu. Dia sebenarnya ingin bermalam untuk menemani di rumah sakit, tapi dilarang. Jadi, setelah memastikan orang tuanya terlelap, barulah memesan taksi.


Loralei berjalan keluar lift menuju unit apartemen tempat tinggalnya sekarang. Pandangan mata seperti kosong karena memikirkan suaminya. Dia masih tercengang sampai sekarang. Seakan tidak menyangka kalau Agathias meminta izin dengan orang tua, dan membayar tagihan rumah sakit juga meninggalkan deposit untuk bulan-bulan berikutnya.


Tapi ... meski Agathias sudah tahu kondisi ibunya, pria itu tidak pernah bertanya atau mengungkit. Loralei dibuat bingung dengan perilaku suami sendiri. Melakukan segala sesuatu secara diam.


Ada baiknya juga, Loralei jadi tak perlu mengeluarkan uang atau memakai kartu kredit Agathias. Tapi, ia juga merasa jahat karena pikiran selalu berperang kalau memikirkan suaminya. Entah pria itu sungguh baik dengannya secara tulus, atau sebagai langkah penindasan. Antara malaikat dan setan, bercampur menjadi satu.


Loralei menghela napas saat menekan pin dan mendorong pintu. Ia mengernyit ketika mendapati suasana sepi dan gelap.


“Aga?” panggil Loralei. Ia melepaskan sepatu yang tadi dipakai ke luar dan mengganti sendal khusus untuk di dalam.


Tidak ada yang menyahut, bahkan sampai menyebut sebanyak tujuh kali. Loralei membuka setiap pintu, tetap saja kosong semua.


“Apa dia pergi?” gumam Loralei seraya menghempaskan tubuh di sofa.


Wanita itu menelusupkan tangan ke tas, mengambil ponsel yang seharian tidak disentuh. Memastikan apakah suaminya mengirimkan pesan atau tidak. Ternyata ... nihil.


“Ke mana suamiku pergi?” Loralei membuka kontak Agathias. Sedikit ragu mau menghubungi atau tidak, sekedar bertanya.


Tapi, setelah dipikir-pikir, Loralei justru menekan tombol power hingga layar gelap. “Nanti juga pulang.” Dia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh yang terasa lengket setelah seharian di luar.


Memilah pakaian mana yang akan di pakai malam ini. Namun, mata Loralei terhenti kala melihat sebuah papperbag pemberian sang suami beberapa hari yang lalu.


Loralei mengeluarkan isi di dalamnya. Bunny girl costume. Melihat betapa seksi pakaian itu. “Apa malam ini ku pakai saja? Agathias sudah membayarkan tagihan rumah sakit, walau aku tak minta. Setidaknya sebagai bayaran atas kebaikannya.” Ia bergumam dan berpikir sebentar.


Belum sempat berganti pakaian, telinga Loralei menangkap ada suara orang menekan pin dan membuka pintu. Mungkin itu suaminya. Dia mengembalikan papperbag tersebut ke almari.


Masih memakai bathrobe, Loralei keluar kamar untuk memastikan. Ternyata benar, Agathias baru saja masuk.


“Dari mana?” tanya Loralei.


“Makan di luar, aku bawakan untukmu juga.” Agathias meletakkan sebuah papperbag ke atas meja makan. Dia mengabaikan sang istri yang menutup tubuh dengan satu helai kain.


“Kenapa tidak mengirimkan pesan atau menelepon untuk memberi tahu?” Loralei tetap berada di depan pintu kamar, menatap Agathias yang kembali membuka laptop tanpa melihat ke arahnya. Ada sesuatu yang dirasa mengganjal di dada saat pria itu tak memandangnya.


“Katamu, jangan menghubungi kalau tidak penting dan mendesak. Memangnya, apa yang ku lakukan penting bagimu? Tidak, kan? Jadi, untuk apa memberi tahu kalau keluar untuk makan?” Agathias mulai menggerakkan jemari di atas keyboard.


Sementara Loralei, dia kembali tercengang. Agathias terasa berbeda hari ini. Pria itu seakan tidak antusias seperti biasanya. Jadi, sedikit aneh ketika tidak mendapatkan keusilan suaminya yang menyebalkan.