
Loralei menghempas kedua tangan Agathias secara paksa dan kasar. Tidak lupa wajah cemberut juga ditampilkan supaya suaminya tahu kalau saat ini ia sedang kesal.
Turun dari pangkuan, Loralei melengos dan sengaja berjalan dengan meliukkan tubuh hingga terkesan sangat seksi. Tapi, dia semakin menjauh, masuk ke dalam kamar.
Brak!
Ditambah membanting pintu supaya tidak nampak malu sekali sudah menurunkan harga diri.
Agathias menghela napas berat. “Aku tersiksa, kalau Loralei berpakaian seksi.” Tangannya mengusap pelan sesuatu yang masih mengeras. “Sabar ... tahan ... jangan beringasan.”
Tidak melanjutkan menyelesaikan disertasi, Agathias justru meletakkan sikut ke meja bar dan memijat pelipis. “Pusing dalam waktu kilat.”
Sembari menanti denyutan di kepala hilang, Agathias memejamkan mata. Namun, ada bunyi notifikasi, membuatnya meraih ponsel untuk membaca. Kening mengernyit, email masuk yang memberi tahu bahwa baru saja ada pemindahan dana sebesar satu juta euro ke rekening Loralei Nyx.
Agathias bukan terkejut, justru tersenyum dan meletakkan ponsel. “Mari lihat, apa lagi yang akan istri unikku lakukan.”
Pria itu kembali menegakkan tubuh, pura-pura duduk menatap layar. Telinga Agathias bisa mendengar ada suara pintu kamar dibuka dan seseorang melangkah ke arahnya. Melirik sebentar, ternyata sang istri masih memakai kostum kelici seksi.
Sesampainya di meja bar, Loralei meletakkan ponsel sedikit kasar. “Baca!” titahnya.
Agathias mengikuti perintah, walau sebenarnya sudah tahu. Notifikasi dari bank yang tadi dibaca. “Oh ... satu juta euro saja? Tidak kurang?” Ia bertanya sembari tersenyum tipis.
Memutar stool hingga posisi tubuh menghadap Loralei, Agathias meraih kedua tangan wanita itu dan sedikit di tarik supaya merapat padanya. Ketika tak ada jarak, ia memeluk tepat di pinggul.
Berhubung tinggi Loralei saat berdiri dan Agathias duduk adalah sejajar, satu tangan pria itu terangkat naik untuk membelai lembut pipi. “Mau buat apa uang sebanyak itu? Kau sedang butuh atau menginginkan sesuatu?”
Loralei menggeleng. Bibir yang masih cemberut itu menampakkan sosoknya yang menggemaskan. Agathias selalu suka menyaksikan sisi kesal sang istri. Walau tahu dan merasa jika sejak tadi terus digoda, ia masih berusaha untuk tenang, menetralisir hasrat dan gelora panas yang kembali menjalar di tubuh.
“Aku hanya ingin melakukan transaksi menggunakan uangmu. Karena tak tahu mau membeli apa, jadi aku transfer saja ke rekening pribadi,” jelas Loralei, walau nadanya bercampur intonasi sebal.
“Pergunakan sesukamu, itu hakmu, dan silahkan dihabiskan untuk apa pun. Jika habis, minta lagi. Pasti akan ku beri.” Agathias beralih mengusap puncak kepala sembari menikmati ekspresi kesal Loralei yang menjadi mimik favorit. “Sekarang, gantilah pakaianmu. Tidak perlu membayar dengan tubuhmu, karena kau bukan seorang wanita bayaran yang harus ku beri upah setelah bercinta.” Namun, jemari mengusap bibir yang ingin diserang saat ini. Tahan!
Dua bola mata Loralei mendelik. Posisi sudah di depan mata, begitu intim juga karena Agathias bertelanjang dada dan memakai celana pendek, lalu ia yang seksi bukan main. Masih di tolak?
Ini tidak boleh terjadi. Sudah lama jarang dibelai. Loralei merindukan sentuhan pria itu. Walau awalnya ia selalu tak senang dicabuli, ternyata lebih tidak enak ketika diacuhkan.
Telunjuk Loralei mendorong dada Agathias berulang kali, sembari mengomel. “Aku sudah seksi, menurunkan harga diri, mempermalukan diri sendiri. Tapi, kau mengabaikan begitu saja? Tidak mau bercumbu? Di mana sifat cabulmu? Aku rindu!” Terakhir, dia memukul dada bidang suami.
“Sudahlah, percuma memancing, kau tak lagi napsu denganku!” Loralei menghempas paksa tangan kekar yang merengkuh pinggul.
Ketika baru tiga langkah menjauh, tiba-tiba Agathias berdiri dan menggendong tubuh sang Istri bak pengantin baru. “Mau gaya apa, hm?”