Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 51


Loralei mengalungkan tangan di leher Agathias, menyembunyikan wajah di dada sang pria supaya tak nampak tersenyum menang. Dia jadi yang melakukan banyak akal demi mendapatkan sentuhan suami. Seakan berperan menjadi sosok si bos yang dahulu.


Pantas saja pria itu selalu mencari banyak cara demi bisa bercumbu. Loralei baru tahu kalau tak enak jika sedang ingin tapi diabaikan.


Agathias merebahkan si kelinci seksi ke atas ranjang. Dia langsung mengungkung dan mengunci pandangan. Jemari mengusap lembut area pipi hingga wajah, penuh gelenyar sensual.


“Jadi, sudah menentukan mau merasakan gaya apa?” tanya Agathias sekali lagi.


Bagaimana Loralei bisa menjawab, pria itu membungkam mulutnya dengan bibir. Tapi, dinikmati juga dengan balas menarik lidah. Sembari tangan mengusap punggung kekar Agathias.


“Bingung?” Agathias kembali berucap. Kali ini bibirnya kian turun, memberikan sesap di leher hingga dada. Pastilah meninggalkan bekas merah di sana.


Kejernihan pikiran Loralei sudah hilang sejak dia memutuskan menjadi kelinci seksi. Baru mendapatkan pemanasan, sudah terlihat memejamkan mata dengan sesekali menggigit bibir karena tak kuasa menahan sengatan di aliran darah.


“Em ... gaya kelinci haus belaian suami,” jawab Loralei. Entah apa itu, asal saja bibir berucap. Tak tahan, gairahnya langsung terisi penuh, padahal baru dicium dan beberapa tanda kepemilikan.


“Oke.” Agathias menyudahi aksi bibir yang sudah menjalar ke mana-mana, terutama area kesukaan, dada.


Pria itu justru berangsur duduk, membuat Loralei menatap kesal lagi. Baru juga mau terbang ke atas, dihempas begitu saja. “Kita belum jadi ke inti percumbuan, kenapa disudahi?” protesnya.


“Katamu, gaya kelinci haus belaian. Jadi, kau berdirilah di sana, lalu berjoget untuk menggodaku. Baru akan ku beri sesuai yang kau mau.” Agathias menunjuk space kosong yang sangat luas di ujung ranjang.


Agathias juga memindah posisi duduk menjadi di ujung ranjang. Jadi, kini ia bisa bebas menyaksikan lekukan tubuh sang istri dari atas sampai bawah.


“Aku tidak bisa bergoyang yang seksi erotis,” ucap Loralei. Bingung sendiri bagaimana caranya menjadi wanita menggairahkan.


“Kau pernah ku aja meeting dengan client di club malam, bukan? Biasanya ada penari wanita yang seksi, ingat?”


Loralei mengangguk. “Seperti itu yang kau mau?”


“Ya, kelinci seksi yang nakal dalam imajinasiku, kurang lebih begitu.” Dua telapak tangan Agathias berpegang di sisi ranjang. Meski wajahnya datar, tapi ada sorot mata yang selalu mendamba.


Hilang akal Loralei demi dibelai. Salahku juga, kenapa harus mengatakan gaya tadi. Dia merutuki diri sendiri.


Pinggul Loralei mulai meliuk, terkesan kaku. Tangan juga meraba tubuh sendiri dari atas dan perlahan turun, begitu sensual. Wajah memperlihatkan raut bergairah.


Rasanya Agathias ingin tertawa. Dia seperti orang sakit pinggang. Tapi, berusaha untuk tak menunjukkan ekspresi selain hasrat. Pasti Loralei akan malu. Jadi, membiarkan wanita itu bergoyang sesuka hati.


Kaki Loralei perlahan maju ke arah suami. Tetap dengan gaya pinggul meliuk. Berhenti tepat di depan Agathias, mulai menggoda pria itu.


Seru juga ternyata menjadi si kelinci haus belaian suami. Loralei mulai menikmati peran. Membungkukkan badan dan mencium bibir Agathias hingga dibalas dan merasakan ada telapak kekar merengkuh pinggul.