
“Nanti juga akan tumbuh kalau sudah saatnya ada buah hati di dalam sini,” balas Loralei sembari tangan memainkan rambut suami.
“Aku tidak sabar ingin ada member baru di keluarga kita,” tutur Agathias. Dia merubah posisi kepala menjadi di perut Loralei, lalu membisikkan sesuatu di sana. “Cepat tumbuh subur benih-benihku.” Diakhiri dengan mengecup kulit yang lembut.
“Kau mandilah dulu, bukankah siang ini ada ujian untuk disertasimu?” pinta Loralei. Dia sedang mencari cara supaya Agathias tidak selalu ada dijangkauannya. Sebab, ingin membuang obat dari Annora supaya tidak menjadi masalah besar.
“Tidak mau mandi bersama?” bujuk si bos yang mulai menunjukkan kecabulan.
Loralei menggeleng. “Sendiri-sendiri saja, ya? Aku sedang malas. Kalau berdua, pasti akan berakhir lama karena kau bukan sekedar membersihkan tubuh.”
“Baiklah.” Agathias mengecup kening Loralei terlebih dahulu sebelum meninggalkan wanita itu ke kamar mandi.
Dirasa aman, Loralei lekas mengambil obat di dalam tasnya. Ia keluar kamar dan menginjak tampat sampah hingga bagian tutup terbuka, lalu menjatuhkan obat tersebut. “Aku tidak butuh kau karena Agathias mencintaiku.”
Loralei kembali masuk kamar untuk memakai kaos supaya tubuh tidak begitu polos. “Masih lama? Aku buatkan sarapan sekalian, ya?” teriaknya.
Tapi, ternyata ada tubuh kekar terbalut handuk di bagian pinggang, sudah menyembul keluar. “Tidak perlu. Kau mandi saja, biar aku yang buatkan. Roti panggang, kan?”
Mengangguk sebagai jawaban, suaminya sampai hafal dengan kebiasaan Loralei. “Ya sudah, aku ke dalam dulu,” pamitnya dengan kaki mengayun.
Saat tubuh sejajar dengan Agathias, tiba-tiba pria itu memegang bagian dada tanpa alasan. Membuat Loralei terkejut dan mata melotot. “Kau itu kenapa? Suka sekali mendaratkan tangan di buah dada,” protesnya.
Agathias mengedikkan bahu. “Senang saja melakukannya.”
“Tapi kau suka, kan?” goda Agathias dengan dua alis naik turun.
“Iya, untungnya kau suamiku. Jadi, aku tidak marah.” Loralei lekas meninggalkan Agathias.
Pria itu tersenyum. Pilihannya menikahi Loralei ternyata tepat. Sekretarisnya selalu bisa membuat tiap detik yang dilewati terasa indah dan bahagia. Apa lagi tingkah menggemaskan wanitanya ketika sebal, itu bagian yang paling ia suka.
Agathias lekas memakai baju dan setelan lengkap rapi untuk pergi ke kampus. Jujur, sebenarnya tanpa kuliah strata tiga pun tidak masalah, dia CEO dan rekan bisnis juga sudah banyak. Tapi, ingin menambah gelar di nama supaya lebih panjang.
Selepas rapi, Agathias ke dapur. Dia mengambil roti yang ada di atas meja, memasukkan ke dalam toaster, dan menanti sampai matang.
Supaya lebih efisien, Agathias menyiapkan selai juga. Kaki menuju kabinet lagi untuk mengambil sebuah jar. “Sudah habis? Kenapa tidak dibuang?” gumamnya saat mendapati jar selai strawberry tidak ada isi lagi.
Agathias jarang sekali membuang sampah di dapur karena Loralei yang lebih sering membersihkan apartemen. Tapi, kali ini ia menghampiri tempat pembuangan itu.
Saat menginjak dan tutup terbuka, Agathias membuang jar kosong itu. Tapi, tidak membiarkan tertutup kembali saat menangkap ada sebuah tablet obat.
Karena penasaran, Agathias mengambil tablet tersebut. Dibacalah bagian tulisan yang ada di belakang.
Karena kurang paham, pria itu mengambil ponsel untuk mencari tahu di google. Dia tidak merasa mengkonsumsi obat-obatan. Jadi, berhubung yang tinggal di sana hanya dua orang, pastilah milik istrinya.
Duduk di ruang makan sembari membaca informasi yang ada dalam layar ponsel. Agathias terlihat marah ketika tahu obat apa itu. “Pantas saja tak kunjung hamil. Ternyata dia sengaja mencegah,” geramnya dengan tangan meremas benda dalam genggaman.