
Loralei memutar stool yang diduduki oleh Agathias, hingga kini saling berhadapan. Begitu mudah untuk bertukar pandang. Tanpa malu, ia mendekat dan paha bisa menempel pada sudut kursi bar karena dua kaki suaminya terbuka lebar.
Sementara Agathias, pria itu membulatkan dua bola mata, tanpa berkedip ketika menyaksikan tubuh molek sang istri. Telapak kekar otomatis mendarat di pinggul. Menelusuri tampilan Loralei dari atas sampai bawah.
Bunny girl costume pemberiannya sangat menggugah hasrat. Membuat sesuatu yang tersembunyi, meronta ingin dikeluarkan dari sarang.
Menelan ludah ketika sorot mata berhenti pada sebuah garis yang membelah sesuatu di bagian dada. Gila ... pasti itu terasa sesak sekali. Kostum seksi pemberiannya membuat tubuh Loralei menjadi nampak lebih menonjol semua. Siapa yang tahan jika diberi tontonan seperti itu?
Namun, Agathias perlu menepis pikiran cabul yang sudah menjajah seluruh imajinasi pikiran. Pandangannya naik untuk menatap wajah cantik, bukan lagi di dada kesukaan. Dia harus ingat kalau tengah berada dalam mode meluluhkan hati Loralei. Jadi, tidak boleh mengikuti keinginan sendiri.
“Kenapa pakai yang seksi seperti ini?” tanya Agathias. Dia berusaha menyembunyikan getaran gairah yang mulai memberontak. Ada yang mulai mengeras hanya sekedar menyaksikan sang istri dengan pakaian minim.
“Kau suka?” Loralei justru balas bertanya. Namun, sembari memberanikan diri untuk duduk di pangkuan Agathias. Pria itu langsung melingkarkan tangan untuk menahannya supaya tak jatuh. Kemudian, tangan melingkar di leher sang suami yang sudah berhasil membuat hatinya berceceran.
Agathias mengangguk, masih terus menatap wajah Loralei. Dibuat bingung sendiri dengan perubahan istri. Mendadak menjadi wanita yang mencoba menggodanya. “Suka, kau terlihat cantik dan seksi.”
“Hanya itu?” Loralei berdecak. Sudah menurunkan harga diri dari langit ke tujuh hingga ke kerak bumi, respon Agathias masih saja datar. Menyebalkan! Membuatku malu!
Loralei menghela napas kasar. Semakin mengikis jarak hingga bisa merasakan ada sesuatu mengeras. Sudah tahu suami dalam mode bertegangan tinggi, tapi memang dasarnya dua minggu tidak dibelai, jadilah ia memeluk erat. Sengaja membisikkan sesuatu di telinga dengan suara sensual. “Jangan ditahan, bos galakku. Daripada pusing kepala, lebih baik keluarkan saja.”
Loralei tak tahu saja, dengan bisikan itu, membuat Bulu-bulu Agathias berdiri semua. Merinding, sekaligus langsung ada getaran yang sejak lama tertahan.
Agathias masih berusaha berada dalam jalur rencananya. Supaya tidak goyah, ia menarik napas sedalam mungkin, dan dikeluarkan perlahan. “Tidak, itu akan melanggar kesepakatan kita di awal. Kau belum menggunakan kartu kredit atau mobile bankingku untuk transaksi. Jadi, lebih baik ku tahan. Tak masalah kalau berakhir pusing.”
Loralei berdecak kesal. Mengendurkan pelukan dan sedikit mendorong dada Agathias hingga kini ia bisa memperlihatkan wajah yang tengah ditekuk. “Jadi, kau sungguh hanya mau bersetubuh saat aku menggunakan uangmu?”
Anggukan sebagai jawaban. “Ya, bukankah sejak awal kau yang ingin tak dirugikan dalam pernikahan ini? Jadi, aku hanya mengikuti apa maumu.”
Ada cebikan di bibir Loralei yang terlihat jelas. “Sudahlah ... jadi Agathias yang aku tahu saja, si galak, penindas, penjajah, cabul, dan menyebalkan. Jika seperti ini, aku justru tak mengenalmu lagi.”
Loralei pikir, saat Agathias melihat penampilan seksinya, akan langsung diterjang, cium, dan melakukan penyatuan tubuh. Di bar, mungkin, atau seret ke kamar. Dimanapun saja. Tapi, ternyata salah.
Agathias mengernyitkan kening. Kenapa Loralei jadi aneh? Sering sekali mengomel dan memintaku hal-hal di luar kebiasaannya.