Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 39


Agathias menatap ke layar untuk memastikan sesuatu, dan kembali melihat Loralei yang masih menunggu jawaban. “Berapa lama kau pergi?”


“Em ... mungkin pulang malam hari.” Loralei menyengir penuh permohonan. “Ya? Please ....”


Pada akhirnya, Agathias mengangguk juga. “Tapi, kau harus berjanji menjaga diri.”


Sepasang mata membulat seolah tak percaya. Si bos memberikan izin begitu saja? Bagaikan sesuatu yang seperti mimpi. “Oke, laksanakan.” Loralei tersenyum girang.


“Berarti, aku tak perlu mengantar?” tanya Agathias. Matanya mengikuti pergerakan sang istri yang masuk ke dalam kamar.


Tapi, tak lama Loralei keluar lagi dengan tas yang sudah diselempang pada bahu. “Aku berangkat sendiri saja. Kau sedang menyelesaikan disertasi, kan?” Ia mendekat ke arah Agathias berada.


“Ya, malam ini harus segera ku kirim pada dosen.”


Agathias sudah menahan senyum saat wanitanya berada di depan mata, ia kira Loralei hendak memberikan salam berupa ciuman sebelum pergi. Ternyata, sang istri hanya mengambil selembar roti.


“Aku pergi dulu, bye ....” Loralei melambaikan tangan.


Agathias berdeham kasar hingga menghentikan pergerakan sang wanita. “Tidak mau menciumku? Atau mengecup? Sebagai ucapan terima kasih karena hari ini aku membebaskanmu pergi tanpa mengganggu.”


“Bilang saja kau mau, kan?”


“Ya, memang.”


Loralei terkekeh, blak-blakan sekali suaminya itu. Ia pun kembali menghampiri Agathias, meraih pipi yang terasa begitu tegas. Semakin ke depan wajahnya hingga bibir jatuh di kening.


“Pipi?” Agathias menunjuk bagian tersebut yang belum mendapatkan jatah.


Oke, Loralei turuti karena hari ini pria itu tidak terlalu menyebalkan. “Sudah, nanti waktuku semakin berkurang jika tak kunjung pergi.”


Namun, tangan Agathias mencekal. “Bibir belum.”


“Ya, jika kau mau hari ini terbebas, maka cium di bibir seperti saat aku melakukan untukmu.”


Berdecak sebentar, walau pada akhirnya Loralei lakukan juga. Dia mengecup bibir Agathias, namun tiba-tiba ada tangan kekar menahan tengkuk dan memaksa lidah untuk masuk ke dalam, hingga pada akhirnya saling melakukan tarik menarik lidah untuk sesaat.


Loralei yang mengakhiri. Bisa-bisa terbuai kalo terlalu lama. “Jangan menelepon, kecuali penting dan mendesak, oke?” Jemari halusnya mengusap rambut pria itu. Setelah mendapatkan respon anggukan, dia pergi meninggalkan apartemen.


...........


Kaki Loralei terayun menyusuri lorong rumah sakit. Di keluarganya, hanya tersisa ia dan sang ibu yang masih hidup di dunia. Ayah telah meninggal sejak dirinya tamat dari kuliah. Kedua orang tuanya memiliki sakit yang tergolong ganas.


Karena Loralei terlalu sibuk bekerja demi pengobatan, walau ia tahu semua yang dilakukan tidak akan menyembuhkan. Tapi, tidak apa, asalkan umur ibunya masih bisa lebih lama.


Loralei menitipkan orang tuanya di rumah sakit khusus penderita kanker. Dia tidak bisa merawat dua puluh empat jam karena bekerja. Juga merasa lebih lega saja kalau sang ibu ditangani oleh orang yang berpengalaman dalam bidang kesehatan.


Sebelum masuk, Loralei mengetuk pintu pelan. Kemudian mendorong ke dalam dan langsung disambut sebuah senyuman oleh wanita bertubuh kurus.


“Maaf, aku baru sempat datang. Beberapa minggu belakang sangat sibuk,” ucap Loralei. Ia langsung memeluk sang ibu dan melabuhkan kecupan di kening wanita tua itu.


“Ya, aku paham dengan kondisimu.” Linda Nyx, ibu Loralei mengusap pelan punggung anaknya.


“Mom sudah makan dan minum obat?” tanya Loralei sembari duduk di kursi dan menggenggam tangan tua yang puluhan tahun merawatnya.


“Sudah.” Pandangan mata Linda mengedar dan terhenti di pintu. “Kau datang sendiri?”


“Iya, seperti biasa.”


“Suamimu tidak ikut?”