Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 57


Agathias terus merangkul dan membawa Loralei menuju private room yang sudah dipesan. “Anggap saja dia tidak ada.” Ia memalingkan wajah sang istri supaya tak terpengaruh oleh keberadaan Aretha. Mantannya memang lumayan mengganggu ketenangan.


“Sepertinya dia membenciku, melotot terus sejak di perusahaan tadi siang,” adu Loralei.


“Biarlah orang membencimu, yang penting aku tidak.” Meski suara dan wajah Agathias datar, tapi usapan di puncak kepala Loralei cukup menenangkan juga meyakinkan kalau pria itu memang peduli dengan istri.


Loralei pun tidak memperdulikan mantan suaminya yang duduk di tempat reguler. Toh, ia akan masuk ke ruang private.


Agathias dan Loralei datang paling awal. Sementara orang yang ingin bertemu dengan si bos, belum sampai.


“Mau makan sesuatu? Pesanlah dulu.” Agathias menawarkan sembari menyodorkan menu.


“Terserah saja, aku bingung memilih.” Loralei menggeleng, memang sedang tak menginginkan sesuatu juga. “Aku makan apa yang kau pesan saja, satu hidangan untuk berdua.”


Agathias mengernyitkan kening. Permintaan istri semakin aneh saja. Biasanya juga Loralei sering memesan sendiri dan tidak mau kalau satu berdua. “Yakin?”


Kepala Loralei mengangguk. “Aku sedang malas makan banyak. Daripada pesan sendiri tapi tak habis, lebih baik berdua.”


“Nanti aku yang habiskan.”


Tetap ditolak, dan akhirnya Agathias mengikuti kemanuan Loralei. Tidak lama, makanan yang dipesan datang, justru orang yang hendak mereka temui belum sampai juga.


“Mau aku suapi?” tawar Loralei.


“Boleh.” Agathias pun membuka mulut untuk menerima makanan.


Baru mendapatkan satu suap, Agathias terus memperhatikan cara makan istrinya yang lahap. Loralei sampai lupa kalau ia belum disuapi lagi.


“Ah—maaf, ternyata masakannya enak.” Loralei menyengir, menunjukkan rentetan gigi rapi.


“Tak apa, asal kau senang,” balas Agathias. Jemarinya mengusap pipi Loralei yang terasa lembut, lalu perlahan jempol itu turun ke bibir.


Pandangan mata si bos terus tertuju pada bibir yang selalu menggoda. Selagi orang yang akan ditemui belum datang, Agathias menangkup dua pipi Loralei. Perlahan mendekatkan wajah hingga tersisa satu jengkal untuk saling pandang. “Aku cukup merasakan dari bibirmu.” Dan ... mereka berciuman. Ada rasa dari lasagna yang dihabiskan oleh istri, menambah kenikmatan sensasi, juga menjadi tak hambar karena dibumbui oleh debaran di dada.


Baru mulai hanyut oleh situasi intim, pintu ruangan pun tiba-tiba ada yang membuka. Loralei langsung mendorong dada bidang Agathias sebelum dilihat orang lain. Ia mengusap bibir, siapa tahu belepotan atau basah akibat ulah suami.


“Maaf, sedikit terlambat.”


“Ya, tidak masalah.” Agathias kembali duduk tegak.


Mata tajam si bos langsung tajam menusuk orang yang baru datang. CEO perusahaan Okrona menatap istrinya terus. Agathias berdeham, sengaja dikeluarkan secara kencang untuk menegur. “Jadi, apa yang ingin kau diskusikan denganku?” Suaranya sangat dingin.


“Oh ... aku ada proyek baru. Siapa tahu kau ingin bergabung lagi? Nominalnya cukup besar. Karena perusahaanku sangat percaya denganmu, maka ku tawari lebih dulu.” Seharusnya menatap Agathias ketika menjelaskan. Tapi, dia justru mencuri pandang ke Loralei.


Loralei sampai menahan diri supaya tidak menunjukkan kalau risih. Dia jadi tak nyaman. “Aku keluar saja, ya? Mata CEO Okrona genit,” bisiknya tepat di telinga Agathias.


Tangan Agathias yang ada di bawah meja itu mengusap paha sang istri. Kepala mengangguk untuk mengizinkan. “Tunggu di mobil.” Dia mengangsurkan kunci.


Loralei lekas berdiri dan keluar dari private room. Untung sudah makan. Jadi, dia tidak akan kelaparan saat menunggu.


Baru juga mau keluar restoran. Loralei dibuat terhenti karena dihadang oleh mantan kekasih suaminya. “Kenapa?”


“Aku ingin bicara denganmu, penting!”