
“Maaf, aku lelah, mau istirahat di mobil,” tolak Loralei. Dia bukan takut menghadapi mantan kekasih suaminya, tapi sedang malas berurusan dengan wanita seperti Aretha yang sejak bertemu di perusahaan sudah melotot ke arahnya. Intinya, tidak mau kalau pada akhirnya hanya mengajak adu mulut.
Loralei sudah tahan banting menghadapi orang dengan sifat menyebalkan. Setiap hari saja bertemu seorang bos penjajah, penindas, otoriter, dan cabul. Jadi, pelototan Aretha bukanlah sesuatu yang mengusik atau perlu ditakuti. Agathias lebih menyeramkan lagi.
“Sombong sekali, baru juga jadi istri Agathias.” Tapi, Aretha tetap memaksa. Diseretlah tangan Loralei hingga mau tak mau kaki pun ikut berjalan ke arah tujuannya.
“Ck! Ya sudah, cepat katakan!” Loralei menarik tangan dengan tenaga yang lumayan. Mengusap pergelangan yang terasa panas. Aretha seakan sengaja melukainya.
Dua wanita itu berdiri di deretan mobil berjajar rapi, tempat parkir. Saling berhadapan. Loralei memasang wajah malas, sementara Aretha sangat angkuh.
“Kembalikan yang seharusnya menjadi milikku!” titah Aretha.
Loralei mengernyitkan kening, jelas kalau sedang bingung. “Memangnya apa yang ku ambil darimu? Kita saja tidak terlalu kenal, untuk apa juga mengambil barangmu.”
“Bukan barang. Tapi, orang.” Kedua tangan sengaja dilipat pada depan dada supaya terlihat angkuh dan Loralei takut padanya.
Padahal, Loralei biasa saja menghadapi orang seperti Aretha. Justru ia masih santai, menjawab tanpa melibatkan emosi. “Orang?”
“Ya, Agathias. Dia adalah milikku, dan tidak pantas untukmu. Maka, kembalikan sekarang juga!” Aretha menekan setiap kalimat, ditambah mendorong pundak Loralei karena ia muak sekali melihat wajah wanita itu yang dipuji cantik oleh mantannya.
Dua tangan Aretha mengepal. Apa pun jawaban Loralei, baginya sangatlah menyebalkan. “Asal kau tahu saja, dia menikahimu bukan karena cinta!” ungkapnya dengan suara lantang supaya wanita itu bisa mendengar jelas.
“Tidak masalah, yang penting kami bahagia. Mau dia menikahiku berlandaskan cinta atau tidak, sekarang kondisi sudah lain.” Loralei menyunggingkan senyum. Ternyata mantan kekasih suaminya sedang berusaha mencari gara-gara, dan ingin merusak rumah tangganya yang sudah tenteram.
Aretha menatap sinis, ditambah cebikan di bibir menunjukkan rasa bencinya. “Aku sudah memperingatkanmu. Jangan sampai kau menyesal dikemudian hari kalau tiba-tiba Agathias kembali padaku.” Kakinya maju satu langkah, tatapan dua wanita itu hanya berjarak dua jengkal. “Dia menikahimu karena aku menyinggungnya. Jadi, kau hanyalah alat balas dendam Agathias padaku. Bisa disimpulkan bahwa dia masih mencintaiku.”
Loralei menaikkan alis kiri. Tapi, Loralei tidak terpengaruh sedikit pun atas kalimat yang masuk ke gendang telinga. “Dengar, jika memang Agathias masih mencintaimu dan ingin kembali padamu, silahkan kau katakan padanya untuk menceraikan aku.”
“Untuk apa? Seharusnya kau yang sadar diri!” Aretha mendorong dada Loralei hingga wanita itu sedikit terhuyung ke belakang. “Ceraikan Agathias, secepatnya!”
Loralei menghela napas kasar. Sudah benar tadi menolak saat diajak bicara, ujung-ujungnya bertengkar juga, kan? Dia malas meladeni wanita seperti Aretha.
“Agathias yang menikahiku. Jadi, minta saja padanya untuk mengakhiri hubungan kami. Semua kewenangan ada di tangan Agathias. Percuma kalau aku yang menceraikan, jika dia tidak terima pun akan digagalkan dengan beribu macam cara.”
“Kau seharusnya juga mencari cara untuk berce—” Aretha gagal menyelesaikan kalimat intimidasinya. Sebab, ada suara seorang pria yang sejak tadi menjadi bahan perdebatan mereka.
“Ada keributan apa ini?” tanya Agathias berintonasi dingin, langsung berdiri di samping sang istri dan menatap tajam mantannya.