
Hari-hari terus berlanjut seperti biasa. Loralei tetap bekerja menjadi sekretaris, tapi tidak terlalu banyak diberi pekerjaan karena Agathias mendadak mencari sekretaris kedua. Jadilah kalau di kantor Loralei hanya duduk dan menonton film. Wanita itu jadi seperti karyawan yang memakan gaji buta.
Setiap kali Loralei protes karena tugasnya kini dilimpahkan pada sekretaris baru, Agathias selalu mengatakan bahwa dirinya perlu bersiap-siap untuk berhenti bekerja dan menjadi Nyonya dari salah satu cucu Dominique.
Seharusnya senang, tapi Loralei tidak karena ia terbiasa menjalankan aktivitas. Jadilah kini ia bertugas untuk mengajari sekretaris baru supaya tidak salah dalam melakukan hal apa pun. Sebab, Agathias merupakan orang yang selalu ingin semua selesai dengan sempurna.
“Tidak bisa sekretarisnya diganti pria saja?” protes Loralei saat ia berdiri di depan suaminya. Ia baru selesai mendikte hal-hal yang perlu diperhatikan selama menjadi sekretaris.
“Memangnya kenapa?” tanya Agathias. Dia berdiri untuk menarik sang istri hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. Tidak lupa tangan yang selalu senang mengusap perut.
“Kau saja menyukaiku saat aku jadi sekretarismu. Bagaimana kalau hal itu terjadi lagi pada anak baru itu?” Loralei cemberut. Tidak bisa membayangkan kalau suaminya akan jatuh cinta pada wanita lain dan membuangnya begitu saja. Ah ... otaknya terlalu overthinking.
Agathias terkekeh, menggesekkan dagu yang memiliki bulu tipis kasar setelah cukur itu ke pipi Loralei. “Tidak mungkin, kau jauh lebih cantik dan segalanya.”
“Tidak ada yang tak mungkin.” Loralei mencebikkan bibir. “Sudahlah, aku saja yang jadi sekretarismu terus, sampai kapanpun. Lagi pula, kenapa tiba-tiba ingin aku berhenti kerja? Memangnya kinerjaku kurang memuaskan?”
“Tidak.” Agathias merubah posisi Loralei supaya lebih miring, sehingga ia bisa mencium bibir wanita itu dengan mudah. “Kau tidak berkeinginan memiliki anak dan merawat buah hati kita?”
Loralei mengernyitkan kening. “Ya ... ada, tapi aku belum hamil, untuk apa prepare pergantian posisi sejak sekarang?”
Agathias terkekeh, gemas sekaligus lucu. Istrinya terlalu cuek atau memang tidak sadar. Padahal dia sudah jelas selalu mengusap perut yang kian membuncit.
“Kita makan siang saja.” Agathias menurunkan sang istri hingga menapak lagi ke lantai. Langsung menggenggam tangan Loralei untuk diajak berjalan beriringan. “Nanti ku cari sekretaris baru, pria. Tapi aku yang akan training sendiri.” Akhirnya dia memilih mengalah, sejauh ini lebih suka hasil pekerjaan wanita karena rapi dan cekatan. Tapi, kalau istri tidak suka, ya menurut saja. Anggaplah ia memang sudah tergila-gila dengan Loralei.
Agathias senang sekali melihat sisi istrinya yang cemburu, menggemaskan. Diacak-acaklah rambut Loralei sampai berantakan. “Seharusnya kau beri tahu, atau nanti aku buat iklan besar di seluruh penjuru Finlandia, memberi tahu bahwa kau adalah istriku. Jadi, tidak akan ada yang berani macam-macam denganku.”
Loralei mencubit gemas perut suaminya. “Idemu selalu gila.”
Si bos justru terkekeh, menarik istri tercinta masuk ke dalam dekapan hangatnya.
Keduanya pun sampai di kantin, Loralei yang meminta mau makan siang di sana. Katanya rindu teman-teman.
Karena sudah mulai terbiasa melihat bos berkeliaran di kantin, semua karyawan mulai tidak merasa terganggu lagi. Kini semua lebih santai. Begitu juga dengan Ankie dan Rona yang selalu diajak duduk bersama oleh Loralei.
“Lo ... berapa bulan?” tanya Ankie seraya menunjuk perut buncit temannya yang mulai terlihat.
“Berapa bulan apanya?” Loralei duduk di depan temannya. Sementara Agathias sedang mengambilkan makanan.
“Hamilnya, kenapa tidak memberi tahu kalau sedang mengandung?” Rona semakin memperjelas sembari menikmati makanan.
“Siapa yang hamil? Jangan mengejek, aku memang gendut sekarang, gara-gara diberi vitamin penambah napsu makan oleh si bos menyebalkan.” Loralei mencebikkan bibir, menatap gemas suaminya yang mulai berjalan mendekat.
“Yakin tidak hamil? Kau jarang bertanya padaku apakah membawa persediaan menstrual cup atau tidak,” ucap Ankie.