
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," sahut Bunga dan Putri bersamaan. Bunga yang tadinya sedang menemani Putri menonton serial kartun anak kembar berkepala botak asal negeri Jiran itupun gegas beranjak untuk menyambut sang suami yang baru saja pulang bekerja.
"Di sana aja, sayang. Nggak usah jemari," sergah Nathan saat melihat Bunga yang segera berdiri. Kebiasaannya semenjak mereka menikah adalah menyambut kepulangannya, mencium punggung tangannya, dan menyambut tas kerjanya. Hati Nathan begitu bahagia bisa mendapatkan perhatian yang luar biasa besar dari sang istri.
"Tapi sayang- ."
"Udah, mulai sekarang, kamu nggak perlu langsung bergerak menyambut kepulanganku. Bukan aku tak suka, sayang, hanya saja ... aku tak tega melihatnu mondar-mandir dengan keadaan kayak gini, perut gede, kaki kamu juga bengkak, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang. Jadi mulai saat ini, kamu cukup jawab salam aku sambil duduk manis, biar aku yang datang padamu, mengerti sayang," ucap Nathan sambil mengusap pipi sang istri yang kini terlihat begitu berisi. Entah karena faktor makanan dan gizi yang tercukupi dengan baik atau karena faktor kehamilannya yang juga sudah masuk bulan ke sembilan.
Bunga tersenyum sumringah, suaminya memang seperhatian itu. Ia selalu memperhatikan segala kebutuhannya pun keinginannya. Nathan tak pernah mengeluh bahkan saat ia tak enak badan dan tidak bisa mengurusi segala kebutuhan Putri, maka Nathan akan dengan senang hati menggantikan posisi sang istri untuk mengurusi buah cinta mereka itu.
"Iya, sayang," sahutnya.
"Putri udah mandi?" tanya Nathan pada sang Putri yang tampak begitu fokus menonton kartun si anak kembar berkepala botak itu.
"Udah dong, pa. Nih, Putri udah cantik dan wangi, masa' papa nggak kelihatan sih!"
Nathan terkekeh gemas, "oh iya yah! Maaf papa nggak tahu soalnya anak papa satu ini kan selalu cantik, jadi nggak kelihatan udah mandi atau belum. Kalau wangi atau nggak, papa nggak tahu, mau cium tapi belum boleh. Kan papa baru pulang, pasti banyak debu yang menempel. Kalau gitu, papa mandi dulu ya, sayang," tuturnya pada sang Putri. "Aku mandi dulu ya, sayang," ucapnya pada sang istri yang diangguki ibu dan anak itu bergantian.
"Baju kamu udah aku siapin di kasur, Yang," ucap Bunga pada Nathan yang diangguki Nathan sambil mengacungkan jempolnya.
...***...
Usia kandungan yang sudah mendekati hari kelahiran membuat gerakan Bunga kian terbatas. Bunga semakin kesulitan untuk berjalan sebab kedua kakinya yang kurus kini agak membengkak, belum lagi ia harus menopang perutnya yang sudah membulat sempurna. Cepat lelah, itu sudah pasti, Nathan bahkan sampai meringis saat melihat istrinya yang kesulitan saat melangkahkan kakinya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Nathan dengan suara sedikit serak karena ia yang terbangun dari tidurnya akibat gerakan Bunga yang berusaha turun dari ranjang. Padahal Bunga sudah bergerak sepelan mungkin, sebab ia merasa kasihan bila suaminya itu terbangun setelah seharian bekerja keras demi mereka.
"Eh, maaf, sayang, kamu kebangun gara-gara aku ya?" ucap Bunga sedikit menyesal karena membuat suaminya terbangun di dunia hari seperti ini.
"Nggak papa, sayang. Kamu mau kemana, hm?" tanya Nathan lagi. Lalu ia melirik jarum jam yang ada di dinding ya ng sudah menunjukkan pukul 01.16. "Ini masih dini hari, kamu mau kemana, hm?" tanyanya lagi sambil mendudukkan tubuhnya dan mengusap matanya agar membuka lebar.
"Aku ... laper dan pingin minum teh hangat, sayang."
"Ya udah, yuk!" ajak Nathan yang kini sudah turun dari ranjangnya. Sebelum mendekati Bunga, ia meraih kaos dalam yang sempat ia lempar asal berikut segitiga pengaman dan celana bokser miliknya kemudian mengenakannya dengan cepat.
"Eh, nggak usah. Aku bisa sendiri, sayang. Kamu tidur lagi aja," sergahnya tak ingin merepotkan suaminya.
"Udah, yuk! Nggak usah bantah. Aku juga jadi laper lagi tau. Tadi makannya belum benar-benar kenyang soalnya," dusta Nathan sebenarnya, hanya ingin membuat istrinya itu merasa nyaman dan tidak merasa merepotkan dirinya.
"Ya mana tau, Yang, taunya aku lapar lagi. Nggak sabar makan. Oh iya, baru ingat, kan tadi kita habis olahraga, sayang, jadi wajar energi kita banyak terkuras," ujar Nathan seraya terkekeh geli. Nathan bahkan menjawil pipi Bunga yang kini sudah bersemu merah.
"Iya juga sih. Kamu sih, kayak udah lapar banget sampai minta beronde-ronde," sungut Bunga membuat Nathan tergelak.
"Ya aku kan cuma sedang berusaha, Yang. Kan di trimester akhir itu sangat disarankan untuk sering-sering bercinta, supaya jalan lahir terbuka dan mempermudah kamu untuk lahiran. Selain itu, aku kan juga mau puas-puasin, kan nggak lama lagi aku harus puasa, sayang. Nggak tanggung-tanggung, 40 hari, bewh ... kira-kira aku bisa tahan nggak ya nunggu selama itu?" tutur Nathan membuat Bunga mendengkus lalu mencubit pinggangnya gemas.
"Tahan nggak tahan harus tahan. Awas kalau sampai macam-macam! Aku gorok Otong kamu entar jadi 10 bagian," ancam Bunga membuat Nathan bergidik ngeri lantas tertawa kencang.
"Astaghfirullah, serem amat istriku. Udah melebihi psikopat," ledek Nathan dengan bibir yang tak henti bergetar karena tertawa. "Tenang aja, sayang, aku nunggu kamu 6 tahun aja sanggup, apalagi hanya 40 hari. Lagipula banyak jalan menuju Roma kan!" ucap Nathan ambigu membuat Bunga mengerutkan keningnya sambil membuka pintu kulkas untuk mencari makanan di dalamnya.
Stefani memang kerap menyetok aneka makanan di dalam kulkasnya, apalagi saat ini Bunga tengah hamil, ia tentu tahu perempuan hamil kerap tiba-tiba lapar di waktu tak menentu. Bahkan saat tengah malam atau dini hari pun perempuan hamil bisa tiba-tiba terbangun karena lapar. Karena itu, ia kian gemar menyetok makanan demi menantu dan calon cucunya itu. Tak terkecuali Putri yang juga gemar mengemil.
"Maksudnya?" tanyanya sambil mengeluarkan mie homemade, sayuran, udang, bakso aneka bentuk, dan bumbu yang sudah ditumis sebelumnya agar bila Bunga hendak memakan mie, ia tinggal merebusnya saja dengan mencampurkan sayuran, bumbu, dan pelengkap lainnya sesukanya. Yang pastinya mie ini lebih sehat dan bergizi. Hal inilah yang membuat Bunga betah di rumah mertuanya itu. Mereka bukan hanya baik, tapi penuh kasih sayang dan perhatian.
"Ada deh, rahasia," sahut Nathan sambil mengulum senyum. Tentu ia tak mau memberitahukan apa yang ada di dalam otak mesyumnya saat ini. Banyak jalan menuju Roma, bukan. Tak bisa bercinta, tapi banyak cara untuk dirinya mencapai puncak, bukan. Hahaha ... Nathan tertawa sendiri tanpa sadar membuat Bunga bingung lalu menyemburkan dengan air yang baru saja hendak ia minum.
Byurrr ...
"Awww ... kamu kenapa sembur aku sih yang?" protes Nathan sambil menyeka wajahnya yang basah.
"Kirain kamu kerasukan, sayang soalnya tertawa sendiri," ejek Bunga membuat Nathan menganga kemudian terkikik sendiri.
"Hehehe ... aku nggak kerasukan kok. Aku cuma mikirin ... ah, sudahlah. Mie nya udah mateng?" tanya Nathan antusias sambil memperhatikan istrinya yang sudah mengaduk mie di dalam panci.
"Sebentar lagi. Tolong mangkuknya dong, sayang."
Dengan sigap, Nathan pun mengambilkan mangkuk. Lalu ia menawarkan diri untuk menuangkan mie yang baru saja matang tersebut ke dalam mangkuk yang cukup besar.
"Makan satu mangkuk berdua lebih nikmat, sayang. Apalagi kalau kita makannya sambil suap-suapan, hmmm ... pasti enaknya jadi berkali-kali lipat," tutur Nathan membuat Bunga tersenyum lebar.
Begitulah sifat Nathan aslinya, kadang sedikit manja tapi sarat akan perhatian. Hal inilah yang membuat Bunga meskipun pernah disakiti, tapi tak pernah bisa membuatnya melupakan dan benar-benar membencinya. Rasa cintanya justru kian membara apalagi setelah mereka menikah. Nathan memang benar-benar membuktikan janjinya ingin membahagiakan dirinya dan Putri.
"Ya udah, ayok!" sahut Bunga dengan binar penuh kebahagiaan di wajah cantiknya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...