LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LI Penyesalan


3 jam telah berlalu, namun lampu tanda operasi berlangsung masih menyala, membuat semua orang yang menunggu di depan ruang operasi merasa resah gelisah. Namun dalam hati semua berdoa, mengharap kemurahan dari sang Pencipta agar memberikan kelancaran dalam proses operasi pun kesembuhan pada Bunga.


Pak Broto, Karlina, Bayu, dan Kia tampak terkulai lemas. Kenyataan bertubi yang mereka dapatkan hari ini membuat perasaan mereka luluh lantak. Setelah keadaan Putri dapat ditangani, Nathan kembali ke depan ruang operasi dimana Bunga sedang menjalani operasi. Di saat itulah pihak keluarga Bunga meminta penjelasan mengenai kehidupan Bunga selama 6 tahun ini.


Setelah mendengarkan penuturan Nathan, hati mereka hancur lebur dan luluh lantak. Mereka tidak menyangka akibat keegoisan mereka membuat Bunga harus menjalani kehidupan yang sungguh menyakitkan. Hidup terlunta-lunta, berjualan koran di saat hamil besar, pendarahan, melahirkan prematur, salah seorang anaknya meninggal sebelum dilahirkan, hidup dikucilkan dan dicaci maki karena memiliki anak tanpa suami dan keluarga, hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, segala derita Bunga alami dan jalani seorang diri.


Pak Broto dan Bayu tak henti-hentinya mengutuk diri mereka sendiri, mengapa mereka yang seharusnya menjadi pelindung justru makin membuat Bunga menderita. Setelah dipikir, Nathan memang bersalah, tapi mereka ... jauh lebih bersalah. Mereka sebagai anggota keluarga, ayah dan kakak yang seharusnya jadi malaikat pelindung Bunga, tapi justru berbuat sebaliknya. Mereka justru bertindak layaknya malaikat pencabut nyawa sebab tanpa mereka sadari mereka lah penyebab penderitaan terbesar dalam hidup Bunga. Bukan sebentar, tapi bertahun-tahun. Mereka tidak pernah memberikan kasih sayang dan perhatian pada Bunga, akibatnya Bunga salah jalan dan terperosok dalam perbuatan yang merugikan masa depannya. Bukannya menguatkan, mereka justru bertindak yang berakhir penyesalan saat ini.


Seperti kata orang- orang, penyesalan itu di belakang, kalau di depan namanya pendaftaran, dan Pak Broto dan Bayu pun membenarkan. Seandainya mereka bisa berlaku baik dan adil, mungkin Bunga takkan terjerumus pada perbuatan terlarang itu. Dan seandainya mereka merangkul, bukannya mengusir, mungkin kehidupan Bunga akan lebih baik. Mungkin ia masih bisa lanjut kuliah, mungkin cucu laki-lakinya masih hidup, mungkin Putri takkan mengidap penyakit berbahaya itu, dan satu yang pasti Bunga pasti takkan mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya seperti ini.


'Ya Allah, hamba mohon, tolonglah Bunga, selamatkanlah putri hamba, Ya Allah. Hamba mohon,' lirih Pak Broto dalam hati. Bukan hanya matanya yang saat ini menangis, tapi batinnya pun ikut menangis. Rasa penyesalan itu benar-benar menggerogoti benak dan jiwanya. Seandainya bisa, ia rela bertukar nyawa demi putrinya. Semua asalkan putrinya selamat. Penyesalan, hanya itu yang ada saat ini. Seumur hidupnya, pak Broto menyadari, ia tidak pernah memberikan perhatian pada Bunga. Apalagi kasih sayang, sejak kecil ia tidak pernah memberikan itu. Hanya Karlina yang tulus menyayangi Bunga, padahal Karlina adalah ibu sambung dari Bunga. Tapi ia menyayangi Bunga. seperti putri kandungnya sendiri.


'Ya Allah, hamba mohon selamatkanlah adik hamba. Kasihan Bunga ya Allah, sepanjang hidupnya hanya dipenuhi dengan lara. Aku memang kakak yang jahat Ya Allah sebab sepanjang hidupku, kau tidak pernah memberikan perhatian dan menyayangi adik hamba itu. Hamba mohon ya Allah, berikanlah hamba kesempatan menjadi kakak yang baik bagi Bunga , hamba mohon,' lirih Bayu dengan air mata yang terus berlomba-lomba berdesakan keluar dari rongga matanya.


Tak lama kemudian, lampu tanda operasi berlangsung pun padam. Itu pertanda operasi telah selesai. Senyum terukir walaupun hanya tipis, berharap segala doa dan harap diijabah oleh sang Khalik.


Tapi sepertinya ujian mereka belumlah usai. Operasi memang berlangsung lancar, namun bukan berarti kondisi Bunga telah membaik. Karena kondisi Bunga yang belum sadarkan diri sama sekali sejak awal kecelakaan, mereka tetap harus menunggu dalam 1x24 jam. Bila Bunga tidak kunjung sadarkan diri, maka Bunga akan kembali masuk ke masa yang lebih mendebarkan, yaitu koma.


...***...


Terisak bersama, ini yang sedang dilakukan keluarga dari Bunga. Penyesalan itu kian menghantam batin mereka bertubi-tubi. Seandainya waktu bisa mereka putar kembali, ingin mereka kembali ke masa 6 tahun lalu. Mereka pasti akan merangkul Bunga hingga tidak terluka sendirian. Namun, waktu tak mungkin diputar kembali. Apa yang telah terlewati tak mungkin kembali. Mereka hanya bisa memperbaiki di sisa waktu yang tak seberapa ini. Ingat, semakin waktu bertambah, semakin berkurang juga masa kita di dunia. Mungkinkah mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki segala di sisa usia mereka? Hanya othor yang tau.


...***...


"Papa," panggil Putri lirih. Matanya sayu, bibirnya pucat, pipinya yang gembul pun kini terlihat lebih tirus. Hati Nathan bagai diiris sembilu melihat kondisi Putri kecilnya seperti ini.


"Iya, sayang, Putri mau sesuatu?" tanya Nathan lembut sambil mengusap puncak kepala Putri.


Putri menggeleng kecil, "mama. Mama mana, pa? Putri mau mama," lirih Putri dengan sorot mata penuh harap.


Nathan menggigit bibirnya, tidak mungkin kan ia katakan Bunga sedang tidak baik-baik saja karena mengalami kecelakaan.


"Emmm ... mama sedang di rumah, sayang. Mama sakit kepala. Jadi papa minta mama istirahat di rumah saja, kan ada papa, Opa, sama Oma juga yang jaga Putri. Putri nggak papa kan!" Dengan berat hati, Nathan sedikit berdusta. Ia tak ingin membuat Putri makin sakit karena mengkhawatirkan keadaan ibunya.


Putri mengangguk kecil, "pa, tadi Putri ketemu Abang Putra lho. Terus Abang ajak main Putri. Putri seneng deh."


Perasaan Nathan kian tak karuan setelah mendengar kata-kata itu. Nathan pun memaksakan tersenyum, walaupun hati gelisah, ia tak mungkin menunjukkan kekhawatirannya kan!


"Wah, pasti Putri seneng deh! Abang ada bilang sesuatu?"


Putri mengangguk, "kata Abang, Abang pingin banget liat mama dan papa sama-sama terus. Putri kan cerita kalau papa udah kembali jadi Abang bilang Abang ikut senang. Papa nggak akan tinggalin Putri lagi kan!" tanya Putri yang tiba-tiba merasa takut kembali ditinggalkan.


"Nggak kok, sayang. Papa janji, mulai saat ini hingga selamat, kita akan selalu bersama. Papa sayang sama Putri dan mama. Sama Abang Putra juga. Makanya Putri harus sehat ya biar kita bisa nemuin Abang terus doain Abang juga, Putri mau?"


Putri tersenyum lebar, "Putri mau, pa. Sama mama juga kan!"


"Iya, sama mama juga."


Nathan tersenyum lebar masih bisa berbincang dengan Putri. Biarpun tubuhnya lemah, syukurnya Putri masih mampu merespon dirinya. Sangat berbanding terbalik dengan Bunga yang kini seolah sudah kehilangan keinginan untuk hidup. Mungkin penderitaan yang dialaminya sejak lama membuat dirinya kehilangan semangat untuk bertahan. Hanya doa yang bisa mereka haturkan, semoga Bunga segera sadarkan diri.


Tok tok tok ...


Pintu ruangan Putri diketuk saat Putri baru kembali terlelap. Tak lama kemudian, masuklah Karlina, Kia, Bayu, dan Pak Broto didampingi Alan. Ya, tadi Alan dan Stefani sempat diperkenalkan oleh Nathan kepada keluarga Bunga. Bahkan mereka sudah sedikit berbincang mengenai masalah penyakit Putri yang ternyata belum ditemukan cara pengobatannya. Namun bukan berarti Alan akan menyerah begitu saja. Ia tetap akan mengusahakan yang terbaik apalagi ini menyangkut cucunya sendiri.


Hati Karlina dan Pak Broto berdenyut nyeri melihat kondisi Putri yang tak jauh berbeda dari Bunga. Begitu pula Bayu dan Kia Ada kasa dengan noda darah di bawah hidungnya dan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Sungguh memilukan. Masih sekecil ini tapi sudah harus menanggung penyakit yang cukup langka. . Dengan tangan bergetar, Pak Broto menyentuh pipi Putri.


Batinnya meronta, andai saja ia bisa lebih bijaksana, cucunya pasti takkan mengalami hal seperti ini. Meskipun penyakit ini karena faktor kelainan genetik, seandainya Bunga tidak diusir, pasti mereka bisa memeriksakan lebih awal tentang kelainan ini sehingga tidak makin parah seperti ini.


"Kamu kuat, sayang. Kakek dan nenek yakin, kamu pasti bisa melewati ini. Kamu anak yang kuat," ujar Pak Broto lirih.


Pak Broto melirik Karlina yang melamun sambil memandangi wajah pucat Putri.


"Bu," panggil pak Broto lirih. "Mikirin apa?"


"Nasib cucu kita, mas. Memang apa lagi? Dan ... nasib Bunga. Apa yang harus aku katakan pada mbak Lina saat tahu anak dan cucunya mengalami ini? Mbak Lina pasti sedih sekali di atas sana. Mbak Lina pasti kecewa sama aku karena nggak bisa menjaga Bunga dan cucunya," lirih Karlina semakin menambah daftar penyesalan dalam diri pak Broto.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...