
Setibanya di sekolah, Bunga dan Nathan segera berlarian masuk ke dalam sekolah untuk menemui guru dan mencari tahu kondisi anaknya. Setelah bertemu dengan guru, guru tersebut pun menceritakan awal mula kronologis Putri yang mimisan tiada henti dengan begitu derasnya.
Ternyata sama seperti sebelum-sebelumnya, ada anak yang mengejek Putri tidak memiliki ayah. Putri menjelaskan kalau ia pun punya seorang ayah sama seperti temannya itu, tapi anak itubtak percaya dan terus-terusan mengejek Putri. Putri yang marah lantas mendorong tubuh anak itu. Tidak terima, anak itu pun mendorong Putri lebih keras hingga ia jatuh terduduk.
"Apa hak anak Anda mengejek Putri saya tidak memiliki seorang ayah, hah? Apa ini ajaran Anda? Apa Anda tidak memiliki hati nurani sampai tega menceritakan yang tidak-tidak tentang Putri saya? Saya tahu, ini ulah Anda kan? Sebab bukan kali ini saja anak Anda menghina Putri, tapi sudah berkali-kali. Bahkan aku pun tak pernah luput dari sasaran mulut dan hati busukmu itu. Kau memang tak punya hati. Semoga saja kau tidak menuai karma yang lebih menyakitkan akibat perbuatanmu ini!" hardik Bunga meluapkan emosinya pada ibu dari anak tersebut.
Wanita itu hanya bungkam. Ia tidak menyangka, masalahnya akan membesar seperti ini. Ya, wanita itu memang tidak menyukai keberadaan Bunga sejak lama. Karena itu ia menceritakan hal yang tidak-tidak pada putrinya agar putrinya ikut menjelek-jelekkan Putri. Kini, akibat perbuatannya, ibu-ibu anak murid lainnya tampak mencibir dirinya. Sepanjang jalan menuju keluar sekolah, semua orang nampak menatapnya mencemooh. Kenapa justru dirinya yang dicibir pikirnya?
Saat telah berada di dalam mobilnya, ia melihat laki-laki yang tadi mendampingi Bunga tampak menggendong Putri dengan panik menuju mobilnya. Tangan wanita itu mendadak dingin, takut perbuatannya tadi berdampak buruk pada Putri.
Kini Putri sudah dibawa ke rumah sakit terdekat. Putri langsung masuk ke ruangan emergency untuk menjalani pemeriksaan. Setibanya di sana, Putri sudah dalam keadaan pingsan membuat rasa khawatir memenuhi rongga dada Bunga dan Nathan.
Bunga masih terisak pilu. Putri memang kerap mimisan, tapi darahnya kali ini keluar begitu banyak dan seperti enggan berhenti, terus mengalir membuat tubuh Bunga bergetar hebat.
Nathan yang ingat Bunga takut darah lantas memeluknya erat. Berusaha menenangkan walau sebenarnya dirinya pun juga tak tenang. Ia pun begitu mengkhawatirkan keadaan Putri.
"Nath, Putri Nath, Putri. Darahnya ... darahnya banyak sekali. Padahal biasanya tidak sebanyak itu," ujar Bunga dengan bibir bergetar dan disertai isakan.
"Biasanya? Apa selama ini Putri juga sering mimisan?" tanya Nathan pada Bunga yang sedang berada di pelukannya.
Bunga mengangguk di dada Nathan.
"Tapi biasanya nggak sebanyak itu dan nggak selama ini. Tapi kenapa ... kenapa hari ini darahnya banyak banget, Nath. Aku ... aku takut Nath. Bagaimana ... bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Putri? Aku memang seorang ibu yang buruk. Aku ... aku ibu yang bodoh.n," racau Bunga frustasi.
"Tenang lah, Nga! Mari kita berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Putri," bisik Nathan seraya mengusap punggung Bunga.
Tak lama kemudian, pintu ruangan dimana Putri berada terbuka. Seorang laki-laki berpakaian khas dokter keluar dari dalam sana dengan raut wajah gusar.
"Orang tua pasien?" tanya dokter itu pada Bunga dan Nathan yang telah berdiri di hadapannya.
Bunga dan Nathan mengangguk kompak.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?" tahta Nathan yang tak sabar mendapatkan kejelasan dari dokter tersebut.
Dokter itu menghela nafasnya, kemudian mengajak Nathan dan Bunga ke ruangannya.
"Kondisinya sudah stabil. Tapi di kakinya saya menemukan memar, apa itu sering terjadi?" tanya dokter itu yang diangguki Bunga.
"Iya dok, saya-saya pikir itu karena Putri sering membentur sesuatu jadi ... jadi saya tidak terlalu memusingkannya," jawab Bunga terbata membuat dokter itu menunduk sambil melihat data-data pasien.
"Melalui ciri-cirinya, saya curiga pada satu penyakit. Tapi ... saya belum bisa memastikannya sekarang. Kita harus menunggu hasil lab nya terlebih dahulu. Saya mohon, bapak dan ibu bersabar. Semoga dugaan saya salah. Tapi untuk mendapatkan hasil spesifiknya, membutuhkan waktu tidak sebentar sebab kami pun memeriksanya di rumah sakit lain yang lebih besar dan lengkap. Kalau Anda mau mendapatkan hasil lebih cepat, sebaiknya Anda membawa Putri Anda ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap seperti Cinta Medika. Di sana, bukan hanya lengkap, tapi dokter ahlinya lebih banyak. Pun hematolog terbaik di negeri ini ada di sana," tukas dokter itu.
"Hematolog?" beo Nathan yang kurang mengerti tentang sebutan dokter ahli. Meskipun ayahnya seorang dokter bahkan dokter spesialis Onkologi, tapi Nathan benar-benar tidak mengetahui perihal dunia medis. Terang saja ia bingung.
"Ya, hematolog. Dokter spesialis darah. Putri Anda harus segera menjalani serangkaian tes darah," ucap dokter itu yang kini terdengar bagai sambaran petir di otak Bunga dan Nathan.
...***...
Akhirnya atas rujukan dari rumah sakit sebelumnya, kini Putri telah dibawa ke rumah sakit Cinta Medika. Rumah sakit yang di bawah sokongan dari Angkasa Grup itu juga merupakan rumah sakit tempat dokter Alan, ayah dari Nathan bekerja.
Setelah mendapatkan rujukan, Putri pun segera menjalani pengambilan sampel darah untuk dilakukan rest yang lebih spesifik lagi. Hasil akan keluar dalam 2x24 jam. Selama itu pula, Nathan dan Bunga tak kunjung bisa memejamkan matanya. Mereka terlalu khawatir dengan keadaan Putri.
"Kau mau makan sesuatu?" tawar Nathan pada Bunga yang tengah duduk di kursi yang ada di samping brankar Putri.
Namun Bunga menggeleng lesu. Bagaimana ia bisa makan, sedangkan kondisi putrinya saja sedang tidak baik-baik saja. Sejak siang tadi hingga malam ini Putri masih memejamkan matanya. Melihat wajah pucat Putri, Bunga tak mampu membendung air matanya. Ia merasa telah lalai dalam menjaga Putri.
Hatinya benar-benar hancur, bagaimana bisa bila Putri ternyata mengidap penyakit yang berbahaya? Ia harus apa? Ia harus bagaimana?
Sepasang lengan menarik pundak Bunga lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya. Hati Nathan benar-benar hancur melihat Bunga yang terisak pilu seperti ini.
"Bunga, aku tahu kau merasa hancur melihat keadaan Putri seperti ini. Tapi ... kau pun harus menjaga kesehatanmu. Kamu harus makan agar bisa terus menjaga Putri. Bagaimana kamu bisa menjaga Putri kalau kamu tiba-tiba sakit, hm? Putri pun pasti sedih kalau tau mamanya sakit karena menjaganya. Kamu makan ya? Kamu mau apa, nanti aku belikan!" ujar Nathan berusaha membujuk. Pia pun sebenarnya ingin menangis, tapi sebisa mungkin ia tahan. Ia mendongakkan wajahnya ke atas agar bulir bening hangat itu tidak luruh. Ia harus kuat. Demi Putri. Demi Bunga. Ia tidak boleh bersikap lemah. Bunga kini tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirinya. Ia harus kuat agar Putri nya bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala.
Bunga mencoba menenangkan dirinya. Benar kata Nathan, bila ia sakit, bagaimana ia bisa menjaga Putri? Ia tidak boleh lemah. Ia harus kuat. Bunga terus memotivasi dirinya agar tidak lemah.
Bunga melepaskan pelukan Nathan. Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Nathan lega.
"Baiklah. Kau tetap di sini. Aku membeli makanan untuk kita dahulu. Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi aku!" tukas Nathan sebelum keluar dari ruangan itu.
Tak ingin pergi jauh-jauh, Nathan lebih memilih membeli makanan di kantin rumah sakit. Bunga menyerahkan keputusan makanan apa yang akan dibeli padanya. Bila dituruti, mereka sebenarnya tidak memiliki napsu makan sama sekali. Tapi mereka tetap harus makan. Minimal untuk sumber tenaga agar bisa terus kuat menjaga Putri.
Nathan membeli nasi soto dan kerupuk di kantin rumah sakit. Karena hari sudah larut, hanya ada 2 jenis makanan itu yang tersisa di kantin. Nathan juga membeli air mineral dan teh hangat. Setelah selesai, ia pun segera kembali ke ruangan Putri. Namun tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang memandang Nathan penuh atensi saat melihatnya masuk ke ruangan serba putih itu. Ia pun segera mencari tahu melalui petugas informasi siapa yang dirawat di kamar tersebut. Dan orang itu benar-benar terkejut saat mengetahui fakta tak terduga itu.
"Anak? Anak Nathan? Bagaimana bisa?" gumam orang tersebut dengan mata membulat tak percaya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...