
Di sebuah tempat, di salah satu gundukan tanah yang tak lagi merah. Tampak banyak helaian daun kering menutupi pusara itu, menandakan sudah cukup lama gundukan itu tak dikunjungi.
Dengan tatapan sendu dan hati yang hancur, Nathan memunguti daun-daun kering itu. Rumput yang mulai meninggi, ia siangi hingga nampak bersih. Tak lupa batu bertuliskan nama sang penghuni, ia lap hingga bersih dan nampaklah nama yang tertulis di atasnya dengan jelas.
...Putra Buana Wiryatama...
Itu adalah nama putranya. Bulir bening dan hangat lagi-lagi meluncur begitu derasnya. Nathan tergugu. Kedua tangannya ia tangkupkan ke wajahnya. Ia tak mampu membendung rasa sesak, pedih, dan hancur saat mengetahui kalau sebelumnya anaknya lahir kembar. Namun karena kondisi kesehatan Bunga buruk, gizi yang tak tercukupi dengan baik, kelelahan, stres, ditambah pendarahan hebat, dan kehilangan tenaga saat kontraksi yang kian menjadi, membuat anak pertamanya, putranya, saudara kembar sang putri harus lahir dalam keadaan sudah tak bernyawa.
Hatinya hancur lebur saat itu juga. Ia yang hanya mendengar cerita dari sang mantan kekasih sekaligus ibu dari anaknya saja merasa hancur, patah, tersiksa, apalagi Bunga di kala itu. Seorang diri, ia harus menghadapi fakta ia kehilangan salah satu anaknya. Di saat titik terendahnya, ia tetap harus berusaha tegar dan kuat untuk sang putri. Bahkan di saat-saat terpuruk pun, ia harus tetap berpikir untuk mencari nafkah.
"Nak, maafin papa, maafin kebodohan papa. Papa memang jahat. Papa sudah membuat mama terluka dan kecewa. Papa juga yang telah membuat dirimu harus pergi tanpa sempat berkumpul dengan mama dan Putri. Papa memang jahat. Papa benar-benar jahat. Papa harus apa nak supaya bisa menebus segala kesalahan papa? Atau ... papa ikut menemanimu saja supaya kamu nggak kesepian, nak? Papa rela, nak. Papa bersedia asalkan ... asalkan papa bisa menebus segalanya," ujar Nathan sambil tergugu.
"Nath," sergah Bunga yang juga berjongkok di samping Nathan. Sungguh, ia membenci Nathan. Tapi melihat betapa hancurnya laki-laki itu saat tahu kenyataan kalau ia pun memiliki seorang putra yang telah tiada, ia pun merasa tak tega.
Bunga tidak menyangka Nathan akan sehancur ini saat mengetahui fakta yang tidak pernah diketahui orang lain itu. Apalagi saat mendengar ratapan penyesalan Nathan, sungguh, hatinya ikut pilu mendengarnya.
"Jangan ... jangan bicara seperti itu! Bagaimana dengan Putri bila itu benar-benar terjadi? Apa kau tega meninggalkannya seperti Putra meninggalkannya? Jangan Nath! Jangan bicara seperti itu!" imbuh Bunga tak suka mendengar kata-kata sarat putus asa dari Nathan.
"Tapi Nga, dosa dan salahku begitu besar. Kini aku sadar apa arti mimpiku selama ini," ujar Nathan ambigu. Ia terdiam dengan bibir bergetar. Sesekali terdengar suara isakan yang belum benar-benar berhenti dari bibirnya.
"Mimpi?" beo Bunga penuh tanda tanya.
Nathan mengangguk, "ya mimpi. Selama 5 tahun ini aku kerap bermimpi. Mimpi yang sama dan selalu berulang."
"Mimpi apa?" Bunga makin penasaran dengan mimpi yang Nathan alami.
"Aku bermimpi didatangi seorang anak laki-laki. Dia selalu memakai pakaian serba putih. Di mimpi itu, anak laki-laki itu menatapku dengan tatapan penuh kesedihan. Kini aku sadar, itu pasti Putra sebab wajahnya mirip denganmu dan ada sedikit bagian wajah Putri di wajahnya. Putra pasti begitu kecewa denganku, Nga. Dia marah, dia benci, dia sakit hati sebab gara-gara aku kalian ... hiks ... kalian menderita."
Bunga yang sudah dari tadi berusaha membendung kesedihannya, kini sudah tak mampu lagi mengontrol air mata itu. Bulir hangat itu tumpah ruah mengalir di wajahnya.
"Udah Nath, udah. Aku sadar, semua ini bukan murni salahmu. Bagaimana pun, kita berdua sama-sama salah. Dan aku ... aku punya andil besar dengan kepergian Putra yang begitu cepat. Andai aku berhati-hati, andai aku bisa menjaga kandunganku dengan baik, andai aku ... hiks ... hiks ... "
Tak sanggup melihat Bunga kembali meratap pilu dan menyalahkan dirinya sendiri, Nathan pun langsung meraih pundak Bunga dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama. Menumpahkan segala kesedihannya bersama. Meraung bersama. Meratap bersama. Mereka tak menyangka, perbuatan mereka di masa lalu membuahkan luka dan kesedihan luar biasa seperti ini.
Saat mereka sedang menangis bersama, tiba-tiba ponsel Bunga berdering nyaring. Awalnya Bunga mengabaikannya, namun ternyata sang pemanggil tak kunjung berhenti mencoba menghubungi Bunga.
"Lihat saja dulu, Nga! Siapa tahu penting!" ujar Nathan seraya menyeka pipi Bunga yang basah dengan ibu jarinya.
Bunga pun mengangguk dan segera mengambil ponsel uang ada di dalam tas kecil yang biasa ia pakai.
Mata Bunga terbelalak saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Nathan penasaran saat melihat wajah Bunga yang tampak tegang.
Tubuh Bunga seketika membeku. Ia menutup mulutnya tak mampu menyembunyikan ketakutan dan juga keterkejutannya.
"Bunga, Bunga, kamu kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi dengan Putri? Bunga, aku mohon bicaralah?" tukas Nathan panik saat melihat wajah pucat Bunga dengan air mata yang kini mengalir lebih deras dari sebelumnya. Rasa takut, cemas, khawatir, panik, semua bercampur aduk menjadi satu.
"Putri ... Putri ... Nath, cepat kita ke sekolah Putri sekarang! Ayo, Nath! Cepat! Aku mohon!" seru Bunga panik sambil reflek berdiri.
"Aaakh ... "
Karena terlalu lama berjongkok, kaki Bunga mendadak keram. Sehingga saat ia hendak berdiri dengan cepat, ia langsung memekik kesakitan. Untung saja Nathan sigap menangkap tubuhnya hingga tidak jatuh terjerembab ke tanah.
"Hati-hati!" seru Nathan tak kalah panik.
"Ayo, Nath! Aku mohon cepat antar aku ke sekolah Putri! Ya Allah, aku mohon, jaga Putri, lindungi Putri, aku mohon!" racau Bunga dengan bibir bergetar.
"Tenanglah, Bunga! Tenang! Kau jangan panik seperti ini!" sergah Nathan mencoba menenangkan Bunga. Padahal ia pun sedang panik karena tak mengerti apa yang tengah terjadi pada Putrinya hingga Bunga sepanik ini.
"Katakan bagaimana caranya aku tak panik saat tahu anakku lagi-lagi kesakitan! Coba katakan bagaimana caranya!" bentak Bunga. Karena rasa panik yang luar biasa, ia sampai tak mampu mengontrol emosinya.
Deg ...
Bunga memejamkan matanya, ia sadar ini bukan waktunya marah-marah. Ia hanya terbawa panik sehingga mudah tersulut emosi.
"Maaf," cicit Bunga merasa bersalah. Namun ia tak menghentikan langkahnya sama sekali menuju mobil Nathan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Jelaskan! Putri kenapa?" tanya Nathan setelah berada di dalam mobil. Ia segera menyalakan mobilnya dan menjalankannya menuju sekolah Putri.
"Putri ... dia tadi bertengkar dengan temannya. Lalu dia ... dia kembali mimisan. Guru-guru sudah berusaha menghentikan mimisannya sampai membawanya ke puskesmas yang ada di samping sekolah, tapi mimisannya tak mau berhenti. Aku takut Nath, aku ... aku takut terjadi sesuatu dengan Putri. Aku ... aku harus bagaimana Nath? Aku harus bagaimana?" Bunga tergugu pilu.
Sontak saja, apa yang dikatakan Bunga membuat Nathan tak kalah panik. Ia pun segera menaikan kecepatan mobilnya. Ia pun sama dengan Bunga, tak ingin terjadi sesuatu pada putrinya yang berharga.
...***...
...Promosi Novel Baru...
...SILAHKAN MAMPIR KAK! JANGAN LUPA MASUKKIN KE LIST FAVORIT, LIKE, DAN KOMEN YA! MOHON DUKUNGANNYA! 🥰🥰🥰...
...****...
...Happy reading 🥰🥰🥰...