
Sepanjang jalan menuju pulang, hanya diisi dengan kesunyian. Tak ada sepatah katapun yang keluar baik dari bibir Nathan, Bunga, maupun Putri sebab sudah tertidur di pangkuan Bunga.
Nathan sesekali meringis saat tangannya harus bergerak memutar kemudi maupun menekan persneling. Sepertinya bahu kirinya mengalami cedera akibat tendangan ayah Bunga tadi. Sebenarnya Bunga menyadari hal tersebut, namun bibirnya justru bungkam. Hanya ekor matanya saja yang diam-diam mengamati pergerakan Nathan. Saat ini, pikirannya terlalu penuh sesak. Kata-kata ayah dan kakaknya tadi benar-benar membuatnya bingung dan penasaran.
'Aku penyebab istri ayah meninggal? Aku membuat ibu kak Bayu meninggal? Karena hamil aku ... apakah itu artinya ibu bukanlah ibu kandungku? Jadi ... siapa ibu kandungku sebenarnya? A-apa ibuku meninggal karena melahirkanku? Sebab itulah baik ayah maupun kakak tampak tidak menyukai keberadaanku? Tapi apa salahku? Kenapa mereka menyalahkanku? Memangnya aku menginginkan semua itu terjadi pada ibuku sendiri? Sedangkan saat itu saja aku baru lahir. Mengapa semesta tak pernah adil padaku? Memangnya mereka sendiri saja yang merasakan kehilangan dan aku tidak? Mereka semua kejam. Mengapa mereka semua sekejam ini padaku? Mengapa semesta begitu kejam padaku?' lirih Bunga dalam hati.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Bunga sampai tak sadar kalau mobil mereka telah tiba di tempat biasanya Nathan memarkirkan mobilnya. Bahkan Nathan telah membukakan pintu untuk Bunga. Ia baru sadar setelah tangan Nathan terulur untuk mengangkat Putri ke dalam gendongannya. Ia melakukan itu sebab nanti Bunga pasti kesulitan membuka kunci pintu rumahnya bila ada Putri dalam gendongannya apalagi tubuh Putri cukup berat. Rasa kagum Nathan pada Bunga kian menjadi. Dalam keadaan serba kekurangan dan kesulitan, tapi Bunga tetap mengusahakan yang terbaik untuk Putri baik itu untuk keperluan sekolah, makanan, dan sus. Walaupun bukan susu yang mahal, tapi itu memang perlu untuk menunjang pertumbuhan Putri.
"Aaaaakh ... " Bunga tersentak saat tiba-tiba Nathan meraih tubuh gempal Putri.
"Mari aku bantu gendong, Putri! Nanti kau buka kunci pintu rumahmu," ujar Nathan lembut sambil sesekali mendesis karena luka di tepi bibirnya dan rahangnya yang membiru. Bunga yakin, sebenarnya itu sangatlah sakit, namun Nathan tetap berusaha untuk bersikap biasa saja.
Bunga mengangguk, lalu keluar dari mobil itu. Ia menyusuri jalan kecil menuju rumahnya diikuti Nathan yang menggendong Putri.
Setelah pintu rumah terbuka, Nathan pun melepas sepatunya dan membawa Putri masuk kemudian membaringkannya di atas kasur lipat milik Bunga dan Putri. Batin Nathan menjerit, bagaimana selama ini Bunga dan Putri tidur di atas kasur yang begitu tipis itu. Berbanding terbalik dengan dirinya, kasurnya bahkan sangat tebal dan empuk sebab memang ibunya membeli kasur kualitas terbaik demi kenyamanan dan kesehatan katanya. Pun kasurnya di apartemen, memiliki kualitas yang bagus dan sangat nyaman. Nathan pernah menawarkan membelikan Bunga kasur, tapi ibu dari anaknya tersebut menolak mentah-mentah. Ia yang tahu Bunga paling anti dipaksa pun hanya bisa pasrah. Mungkin suatu hari nanti, ia bisa mencoba menawarkannya lagi. Kalau perlu, ia akan memboyongnya ke apartemen miliknya. Lagipula apartemen itu jarang ia tempati. Ia lebih sering pulang ke rumah untuk menghalau kesepian. Kecuali saat ia ingin menyendiri, barulah ia tidur di apartemen.
Saat hendak menyelimuti Putri, tiba-tiba Nathan terkesiap. Sebab dari balik rok Putri yang sedikit tersingkap, ada seperti memar kebiruan di sana membuat Nathan menduga-duga. Namun ia tak yakin bila Bunga akan menyakiti putrinya sendiri. Tapi kenapa pahanya tampak biru seperti bekas dipukul atau dicubit? Nathan menggeleng pelan, mungkin Putri membentur sesuatu sehingga meninggalkan bekas kebiruan seperti itu.
Setelah memasangkan selimut sebatas dada, Nathan pun segera beranjak keluar bersamaan Bunga yang hendak masuk ke dalam. Di tangan Bunya ada sebuah baskom kecil berisi air dan kain.
"Kamu mau membersihkan badan Putri? Sebaiknya nanti saj, kasihan nanti dia terbangun lagi," ujar Nathan yang mengira Bunga ingin membersihkan tubuh Putri. Tapi Bunga menggeleng dan memberikan kode dengan dagunya agar duduk di karpet tempat mereka biasa bertamu.
Setelah keduanya duduk, Bunga memeras kain uang terendam dalam air hangat tersebut lalu dengan pelan-pelan membersihkan luka yang ada di wajah Nathan. Nathan terkesiap. Ternyata di balik sikap dingin dan acuh Bunga, ia masih memiliki perhatian untuknya. Jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Hanya Bunga yang mampu membuat jantungnya berdebar dan darahnya berdesir seperti ini.
"Jangan GR! Aku melakukan ini hanya karena luka ini dibuat oleh bapak dan kakakku," ketus Bunga seolah menyadari apa yang ada di dalam pikiran Nathan.
"Ternyata kau masih sama seperti dulu. Aku sangat bersyukur akan hal itu," sahut Nathan lembut. Ia tak mempedulikan sikap ketus mantan kekasihnya itu.
Bunga tak mengacuhkan ucapan Nathan sama sekali. Kini ia sedang mengoleskan salep di pipi Nathan yang memar. Salep itu memang selalu Bunga sediakan sebab ia kerap menemukan memar di tubuh Putri. Entah Putri membentur apa sehingga ia kerap menemukannya baik itu di paha maupun lengan.
"Bunga, kau baik-baik saja?" lirih Nathan sambil menatap lekat wajah Bunga yang tetap cantik seperti dahulu. Hanya saja sekarang terlihat lebih tirus dengan lingkar hitam di matanya.
"Apa kau pikir aku akan baik-baik saja setelah apa yang aku alami hari ini?" dengan Bunga sembari menyimpan kembali obat-obatan di dalam sebuah kotak kecil.
"Ya, kau memang sumber bencana bagiku. Kaulah penyebab penderitaan yang aku rasakan kini. Sekarang kau puas? Kau ... aku membencimu," lirih Bunga sambil mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya.
"Tapi aku mencintaimu."
"Tapi aku membencimu. Sangat membencimu."
Melihat air mata Bunga yang makin berderai, Nathan lantas menarik bahu Bunga dan menenggelamkan wajahnya di dadanya. Tangisan Bunga akhirnya benar-benar pecah. Ia menangis sambil memukul-mukul punggung Nathan. Nathan menerimanya saja. Meskipun terasa cukup menyakitkan apalagi saat tangan itu menghantam memar di tubuhnya yang tertutup pakaian, ia tetap diam saja. Mungkin ini cara Bunga untuk meluapkan emosinya yang selama ini tertahan dalam benaknya. Nathan justru mengusap punggung Bunga yang bergetar, berharap Bunga dapat sedikit melepaskan beban dan lukanya.
"Jangan terlalu pikirkan ucapan ayahmu tadi! Mungkin ia masih marah. Aku yakin, seiring bergantinya waktu, ayah dan kakakmu akan memaafkanmu," bisik Nathan yang masih mengusap punggung Bunga sebab wanita itu belum juga menghentikan tangisannya.
"Apakah itu mungkin? Kau dengarkan tadi, kata mereka akulah penyebab ibuku meninggal. Artinya, ibu bukanlah ibu kandungku. Aku memiliki ibu yang lain dan dia sudah meninggal gara-gara aku. Pantas saja selama ini ayah seperti tak menyayangi ku. Pantas saja, kak Bayu tak pernah memperhatikan aku, tidak seperti sikapnya dengan Kia yang begitu perhatian. Aku ... sepertinya memang pembawa sial. Semua terjadi karena aku, Nath. Semua yang terjadi pada Putri pun karena aku, ibunya yang pembawa sial. Bagaimana bila aku tak mampu membahagiakan Putri, Nath? Aku ... benar-benar seorang ibu yang tak berguna. Aku ... seorang ibu yang hanya bisa memberikan penderitaan pada putrinya," lirih Bunga yang makin sesegukan karena tak bisa meredakan tangisnya barang sejenak.
Nathan melepaskan pelukannya kemudian menangkup kedua pipi Bunga.
"Tidak. Siapa bilang kau pembawa sial? Mereka salah. Justru kau adalah sumber kebahagiaanku dan Putri. Siapa bilang Putri menderita? Bahkan walau hanya hidup berdua kau sanggup memberikannya kebahagiaan yang belum tentu semua orang bisa lakukan. Kau ibu yang hebat, Nga dan Putri sangat beruntung bisa memiliki ibu seperti dirimu," ucap Nathan sambil menatap lekat netra Bunga yang terus-menerus berembun. Lalu Nathan memberanikan diri mengecup kening Bunga cukup lama dan dalam. Berharap, apa yang ia lakukan dapat sedikit menenangkan batin Bunga yang tengah berkecamuk.
Nathan pun sebenarnya penasaran dengan apa yang dikatakan ayah Bunga dan kakaknya tadi. Ia berjanji, nanti akan mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.
"Aku harus pulang dulu. Baik-baik di rumah. Jangan bersedih lagi! Nanti Putri ikutan bersedih bila tau kau terus-terusan menangis seperti ini. Lihat, matamu sampai membesar dan menghitam seperti biji salak. Jelek," canda Nathan berusaha menghibur Bunga. Bunga mendengus dan menepis tangan Nathan yang masih berada di pipinya. Kemudian ia segera berdiri dan mendorong tubuh Nathan keluar dari dalam rumahnya.
"Pergi sana!" usir Bunga melengos membuat Natah terkekeh kecil lalu mengusap puncak kepala Bunga seperti yang sering ia lakukan dulu membuat darah Bunga berdesir. Namun ia tepis jauh-jauh perasaan itu. Cukup sekali ia dilukai laki-laki itu dan ia tak ingin mengulang hal yang sama untuk kedua kalinya.
Brakkk ...
Bunga menutup pintu dengan kasar membuat Nathan berjengit.
"Astaga, galaknya ibu dari anakku ini!" gumam Nathan. Kemudian seutas senyum terbit di bibirnya. Setelah itu, ia pun segera beranjak dari sana untuk segera pulang ke apartemennya. Ya, apartemen. Tak mungkin ia pulang ke rumahnya dalam keadaan babak belur seperti ini, bisa-bisa mamanya tak henti-hentinya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang menyulitkannya untuk menjelaskan. Sebab ini belum saatnya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...