LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LIV VC with Putri


Hari ini merupakan tepat satu bulan Bunga di rawat di rumah sakit, namun belum ada tanda-tanda kalau Bunga aja sadarkan diri. Sedangkan Putri, saat ini dibawa pulang Alan ke rumahnya. Di sana Alan telah membuat rumah kaca untuk tempat perawatan Putri. Putri harus dirawat di tempat yang benar-benar bersih termasuk udaranya karena itu ia membuat rumah kaca di belakang rumahnya.


Hingga saat ini ternyata mereka belum menemukan pendonor yang memiliki HLA yang cocok dengan Putri. Tentu hal tersebut membuat khawatir keluarga besar mereka. Sebenarnya mereka juga bisa menggunakan tali pusat bayi dari sang adik, tapi bagaimana bisa membuat adik untuk Putri, sedangkan Bunga saja masih belum sadarkan diri hingga saat ini.


"Sayang, sampai kapan kau mau memejamkan mata, hm? Apa kau tidak merindukan Putri sama sekali, sayang?" bisik Nathan yang kemudian mencium kening, kedua mata, pipi, hidung, dan terakhir berlabuh di bibir. "Kau tahu sayang, bibirmu ini adalah canduku. Rasanya tetap manis seperti dahulu. Ah, andai saja kau sudah sadarkan diri, pasti aku sudang memakan bibir ini seperti dahulu. Kau tahu, saat di Amrik aku tak pernah tergoda dengan seorang wanita pun. Aneh, padahal di sana gadis-gadisnya lebih cantik dan seksi, tapi kok aku nggak tertarik ya! Atau jangan-jangan kamu udah pelet aku supaya nggak bisa berpaling ke lain hati. Sampai cuma sekedar mencicip bibir gadis-gadis yang menyukaiku saja aku tak berminat," seloroh Nathan seraya terkekeh berharap Bunga mendengarkan setiap ocehan tak jelas dari mulutnya.


"Sayang, aku mau bilang kalau Putri udah tinggal di rumah orang tuaku. Putri membutuhkan lingkungan yang benar-benar bersih dan bebas polusi juga menenangkan. Jadi di sana papa buat rumah kaca untuk Putri. Untuk sementara ini juga Putri libur dulu dari sekolahnya. Putri nggak boleh capek atau tubuhnya akan melemah lagi," tuturnya sambil menggenggam tangan Bunga erat.


"Sayang, sebenarnya ada satu cara untuk mengobati Putri. Meskipun cara ini bukan 100% ampuh untuk mengobati Putri, tapi menurut penelitian, untuk penderita kelainan darah, hanya ini satu-satunya jalan, yaitu melalui prosedur cangkok sumsum tulang belakang. Tapi yang jadi masalahnya hingga kini belum ditemukan pendonor yang cocok. Entah HLA mu cocok atau tidak. Tapi bagaimana mau periksa, kalau kau masih memejamkan mata seperti ini. Bangunlah sayang, aku tahu engkau enggan bangun karena takut Putri tidak bisa disembuhkan. Namun kini, kita sudah menemukan caranya. Bangunlah, masih ada kesempatan untuk Putri sembuh. Semua tergantung atas kemauanmu. Bila kau benar-benar mencintai Putri, maka bangunlah sayang," tukas Nathan sambil mengusap punggung tangan Bunga dengan lembut.


"Ah, sayang, lihat, putri kita melakukan video call! Kau pasti merindukan Putri, bukan! Sebenarnya aku ingin sekali membawanya kemari, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Kau tahu bukan, sistem imun Putri begitu lemah. Aku takut membawanya kemari justru membuatnya makin sakit. Apa kau mau bicara dengan Putri? Kalau iya, ayo kita video call dengan Putri," tukas Nathan yang kemudian segera menggeser ikon hijau di ponselnya ke atas. Tak lama kemudian, muncullah wajah Putri kecilnya dengan suaranya yang lucu memanggil dirinya.


"Papa," panggil Putri antusias.


"Assalamualaikum, anak papa," ucap Nathan sambil tersenyum lebar.


"Eh, lupa. Wa'alaikum salam, papa," jawab Putri seraya terkekeh.


"Putri lagi apa?"


"Putri lagi baca buku dongeng sama Oma, papa. Papa dimana?"


Tampak sekali Putri begitu penasaran dengan keberadaan Nathan. Terlihat dari wajah mungil gadis kecilnya yang memenuhi layar seolah dengan begitu ia bisa melihat ke dalam ponsel. Bahkan kini hanya matanya saja yang tampak karena berniat mengintip ke dalam ponsel, tempat Nathan berada. Terang saja, Nathan terkekeh geli melihatnya.


"Papa di ruangan Mama di rumah sakit, sayang," ucap Nathan akhirnya. Putri terdiam sejenak, kemudian bertanya.


"Mama mana, pa? Apa mama udah bangun?" tanya Putri dengan binar kerinduan di netranya yang bulat.


Kemudian Nathan mengarahkan kamera belakangnya ke arah Bunga yang sedang tak kunjung membuka mata hingga satu bulan telah berlalu.


"Mama masih betah bobok, sayang."


"Emang mama nggak capek pa bobok terus?"


"Emmm ... itu, mama. Putri ... mau ngomong?" tanya Nathan dengan sedikit tercekat.


Nathan mengganti kameranya kembali dengan kamera depan kemudian ia meletakkan kepalanya di samping kepala Bunga agar ia pun dapat melihat wajah mungil Putri.


Tak lama kemudian, mata Putri berkaca-kaca.


"Mama," panggil Putri lagi membuat Stefani yang duduk di samping Putri lantas memeluk tubuh mungil cucunya itu.


"Sayang, kau lihat kan, putri kita sangat merindukanmu. Apakah kau tidak merindukannya? Bangunlah, sayang! Aku mohon!" lirih Nathan yang kini ikut terisak.


Nathan menempelkan wajahnya di leher sang istri. Bahunya bergetar. Dadanya begitu sesak melihat putri kecilnya begitu merindukan ibunya. Sebenarnya Nathan belum ingin memperlihatkan keadaan Bunga pada Putri, tapi ia pun tak bisa lagi menghalanginya sebab ia takut hal itu justru makin memperparah keadaan Putri. Setelah berkonsultasi dengan ayahnya, akhirnya Alan merencanakan agar Putri melakukan video call saat ia sedang bersama Bunga.


Saat ia terisak dengan wajah tertelungkup di leher Bunga, pipinya bersentuhan dengan Pipi Bunga. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya. Nathan pun segera mengangkat wajahnya. Mata Nathan terbelalak seketika saat mendapati kelopak mata Bunga bergerak-gerak seperti hendak membuka namun terasa berat.


Nathan pun segera turun dari atas ranjang dan menekan tombol khusus yang biasa digunakan untuk memanggil tenaga medis agar segera datang ke ruangan itu. Dalam hitungan menit, dokter Stefan ditemani beberapa rekannya pun telah berada di dalam ruangan itu.


"Ada apa, Nath? Apa terjadi sesuatu pada istrimu?" tanya Stefan yang segera memasang stetoskop di telinganya.


"Om, tadi kelopak mata Bunga bergerak-gerak. Bahkan tadi aku bisa merasakan, Bunga ikut menangis saat aku menangis," ujar Nathan yang langsung menjelaskan apa yang baru saja terjadi.


Mendengar penuturan tersebut, terang saja Stefan menjadi antusias. Ia pun segera memeriksakan denyut nadi Bunga, detak jantung, hingga kelopak matanya. Setelahnya Stefan tersenyum lebar.


"Ini tanda-tanda bagus, Nath. Sepertinya, istrimu sedang berusaha untuk bangun. Coba kau ajak bicara lagi!" titah Stefan pada sang keponakan.


"Bunga, kau bisa mendengarku, hm? Sayang, ayo, buka matamu pelan-pelan! Ah, kau pasti merindukan Putri kan! Ayo, bukalah matamu! Setelah itu, kita video call Putri lagi ya! Pasti putri kita senang melihat mamanya sudah bangun dari tidurnya," ucap Nathan dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Bunga. Ditatapnya dengan lekat, pergerakan kelopak mata yang mulai mengerjap itu.


"Nath," panggil Bunga lemah. Sontak saja, air mata berlomba-lomba turun dari sudut mata Nathan. Ia benar-benar bahagia akhirnya bisa mendengarkan suara wanita yang ia cintai lagi.


"Iya, sayang. Ayo, bukalah matamu! Aku di sini," ucap Nathan lagi sambil mengusap pipi Bunga.


Perlahan, Bunga pun membuka matanya. Matanya mengerjap beberapa kali karena silau yang tiba-tiba masuk ke netranya.


Tanpa aba-aba, Nathan pun langsung memeluk tubuh Bunga yang baru saja benar-benar membuka matanya. Nathan meluapkan kebahagiaannya dengan menangis sekencang mungkin. Terserah bila orang-orang mengatakannya cengeng sebab ini merupakan ungkapan rasa syukur dan bahagianya.


"Ya Allah, terima kasih, terima kasih, terima kasih. Terima kasih sayang, akhirnya kau mau membuka matamu lagi. Kau tahu, satu bulan ini aku benar-benar berada dalam ketakutan. Aku benar-benar takut kau meninggalkanku, sayang. Terima kasih karena kau telah kembali. Kami merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu," ujar Nathan sambil tergugu. Sedangkan Bunga, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Berusaha mencerna satu persatu kejadian yang dialaminya. Mata Bunga terbelalak, saat ia kembali teringat, ia telah mengalami kecelakaan karena merasa gagal menjadi seorang ibu.


"Nath, Putri ... "


"Kau jangan khawatir, sayang. Putri baik-baik saja. Dia tinggal di rumah mama dan papa. Kau diperiksa dulu ya. Aku janji akan melakukan video call dengan Putri setelah kau diperiksa terlebih dahulu," pungkas Nathan dengan senyum merekah sempurna.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...