
"Assalamu'alaikum," ucap beberapa orang dari teras konter. Bunga yang sedang mengetik novelnya pun tersentak mendengar suara itu. Matanya membeliak, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"I-ni, Kia, kalian ... " Mata Bunga seketika berkaca-kaca. Bunga pun gegas beranjak dari tempat duduknya menuju tamu dadakan itu dan memeluknya.
"Udah, jangan nangis lagi. Apa kamu nggak capek nangis terus? Ibu aja yang lihat kamu dari kemarin nangis terus aja capek, ya nak Nathan. Kamu sependapat kan sama ibu?" Tiba-tiba Karlina melontarkan pertanyaan dengan Nathan yang berdiri di belakangnya sambil mendorong kursi rodanya.
"Eh-i-emmm ... ibu tadi ngomong apa ya?" Nathan gelagapan sendiri, salah tingkah. Ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal sama sekali karena merasa malu. Ia terlalu fokus menatap sang mantan kekasih sehingga tidak mendengar pertanyaan yang dilontarkan ibu Bunga tersebut.
"Makanya, fokus ... fokus ... " cibir Kia membuat Nathan terkekeh sumbang untuk menutupi rasa malunya. Ibu Bunga menghela nafasnya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Nathan.
"Masuk dulu yuk Bu, Kia," ajak Bunga pada ibu dan adiknya agar mengikutinya masuk ke dalam konter.
"Lho, kak Nathan nggak diajak masuk mbak?" celetuk Kia merasa heran dengan sikapnya. Sepertinya kakak perempuannya itu masih marah dan benci dengan mantan kekasihnya itu.
"Kursinya cuma ada 3, nggak cukup buat dia jadi tunggu di luar aja," sahut Bunga acuh tak acuh sambil menarik 2 buah kursi untuk ibu dan adiknya.
"Kan ibu udah bawa kursi sendiri, Nga, jadi boleh kan aku masuk!" celetuk Nathan memelas tidak terima dia justru disuruh duduk di luar.
Kia dan ibu Bunga pun terkekeh, membenarkan apa yang dikatakan Nathan.
"Terserah!" ketus Bunga mode senggol bacok.
"Nga, nggak baik ketus gitu. Nggak baik. Bagaimana pun, berkat nak Nathan ibu bisa datang ke mari. Ada yang hendak ibu ceritakan sama kamu," tukas Karlina lembut.
"Iya, Bu, iya. Silahkan duduk bapak Nathan Wiryatama yang terhormat," seloroh Bunga sambil bersungut-sungut. Bukannya kesal apalagi marah, Nathan justru terkekeh. Karlina geleng-geleng kepala melihat tingkah Bunga yang ternyata tidak berubah sepenuhnya atau ia sengaja karena masih marah dengan kepergian Nathan saat itu.
Sebelum ke konter memang Nathan sempat menceritakan masa lalunya dengan ibu Bunga. Karlina memang kecewa, tapi ia juga harus menempatkan diri di posisi mereka saat itu. Jiwa labil, masa muda yang menggebu, membuat mereka terperosok dan tidak mampu berpikir dewasa. Belum lagi kontrol orang tua yang memang kurang, sedangkan untuk Bunga, jiwa yang terlalu dikekanglah yang membuatnya salah jalan. Terbuai pada kebahagiaan semu membuatnya terjerumus pada suatu perbuatan yang tak seharusnya hingga salah jalan.
Kemudian Bunga membuatkan 3 cangkir teh untuk Karlina, Kia, dan Nathan. Setelah selesai, ia pun duduk berhadapan dengan sang ibu.
"Jadi Bu, apa yang hendak ibu sampaikan? Apa itu masalah ... siapa ibuku sebenarnya?" tanya Bunga hati-hati. Kedua tangannya saling meremas. Gugup, itu yang dirasakannya saat ini.
Karlina lantas menggeser kursi rodanya agar lebih dekat dengan Bunga kemudian menggenggam tangannya sambil mengangguk. Mata Karlina tampak berkaca-kaca saat menatap wajah Bunga yang sangat mirip dengan ibunya. Ada yang bilang, bila wajah anak sangat mirip dengan orang tuanya, maka salah satunya akan kalah. Maksudnya, salah satu dari mereka akan pergi lebih dahulu, tapi entahlah. Wallahu'alam.
"Ibu kamu namanya Marlina. Dia adalah ... kakak perempuan ibu."
Deg ...
Bukan hanya Bunga, tapi Kia dan Nathan pun terkejut dengan fakta itu.
"Kamu dan Bayu adalah anak bapak kamu dengan mbak Lina. Saat Bayu berusia 7 tahun, ibu kamu hamil lagi. Tapi kehamilan keduanya ini tidak seperti kehamilan pertama. Ibu kamu kerap sakit-sakitan. Tubuhnya lemah. Dokter sampai menyarankan untuk merelakan kamu, tapi mbak Lina kekeh mempertahankan kamu. Puncaknya, mbak Lina mengalami pendarahan hebat saat usia kandungannya 8 bulan. Dokter bilang, hanya satu yang bisa dipertahankan. Karena bapak sangat mencintai ibu kamu, dia lebih memilih mbak Lina. Tapi mbak Lina marah. Dia maksa bapak untuk mengutamakan keselamatan kamu. Kalau tidak, mbak Lina akan membenci mas Broto seumur hidup. Dengan berat hati, bapak kamu menuruti permintaan mbak Lina. Awalnya, ayah senang karena ibu kamu tampak baik-baik saja. Tapi ... satu jam kemudian, kondisi kesehatan mbak Lina menurun. Lalu ... setelah selesai memberikan asi pertamanya untuk kamu ... mbak Lina meninggal. Itulah sebabnya bapak seakan membenci kamu. Padahal, ibu yakin, bapak pasti sayang banget sama kamu. Apalagi wajah kamu mirip banget sama mbak Lina," tutur Karlina sambil terisak. Diusapnya pipi Bunga yang basah karena air mata dengan rasa haru yang membuncah.
"Sebulan kemudian, karena nggak ada yang urusin kamu, kakek dan nenek kamu menyarankan agar bapak menikah dengan ibu. Awalnya bapak kamu tidak setuju, tapi karena saat itu nggak ada yang bisa nenangin kamu saat nangis, jadilah bapak menuruti permintaan kakek dan nenek."
Tangis Bunga kian pecah. Ia tak menyangka nasibnya seperti itu. Wajar saja ayah dan kakaknya tampak tidak menyukai dirinya. Sekuat tenaga ia berupaya membanggakan kedua orang tuanya, tapi hanya ibunya saja yang mengapresiasi dirinya. Ayah dan kakaknya nampak masa bodoh dan acuh tak acuh. Karena itu, kehadiran Nathan bagaikan oase di pada yang yang tandus hingga ia sampai lupa kalau apa yang telah ia lakukan akan ia sangat ia sesali di masa akan datang.
Kalau ditanya apakah Bunga menyesali perbuatannya dahulu jawabnya iya, tapi ia tak pernah menyesali kehadiran Putri dalam rahimnya. Baginya, Putri merupakan anugrah dari sang pencipta meski dengan cara yang salah.
...***...
"Mbak, kok ngelamun aja dari tadi? Mbak ada masalah?" celetuk Niko yang sudah duduk di kursi samping Bunga.
Bunga menoleh lalu tersenyum tipis, "nggak kok, Ko," kilah Bunga.
"Atau ini ada hubungannya dengan kak Edgar?"
"Eh, kok nyambungnya ke sana?"
"Ya bisa aja. Maafin mama dan papa kaki ya mbak. Mereka mau gitu, Niko sampai bingung mau nasihatinnya kayak gimana," ujar Niko merasa bersalah pada Bunga. "Kak Edgar juga udah coba membujuk mama dan papa, tapi mereka masih aja kekeh nolak," imbuhnya lagi.
"Mbak nggak papa kok, Ko. Mbak nggak ada nyalahin orang tua kamu kok. Bagi mbak sebenarnya apa yang mereka lakukan itu wajar. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Mungkin kalau kita di posisi mereka kelak akan berbuat sama."
"Nggak lah. Aku nggak bakalan kayak gitu. Bagi aku kebahagiaan seorang anak itu yang utama. Kita nggak boleh memaksakan kehendak kita. Nanti bukannya bikin mereka bahagia, tapi justru sebaliknya."
Bunga tersenyum sumir, " waw, udah dewasa aja kamu, Ko! Kamu pasti bakal jadi orang tua yang bijak kelak."
"Ya iya dong. Atau ... mbak nikah sama aku aja, aku pastiin mama dan papa pasti nggak bisa nentang secara aku lebih keras dibanding kak Edgar. Niko janji deh bakal jadi papa yang baik buat Putri dan bahagian mbak Bunga juga tentunya."
"Nggak boleh," tegas seseorang membuat Bunga dan Niko berjengit kaget. "Pokoknya yang boleh jadi papa Putri cuma papa Nathan. Putri nggak mau papa yang lain pokoknya. Hanya papa Nathan," tegas Putri sekali lagi membuat Niko mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki yang berdiri tegap sambil menggandeng tangan Putri.
"Papa Nathan?" beo Niko sambil memicingkan matanya ke arah Nathan.
"Iya soalnya papa Nathan ini papa Putri beneran."
Niko yang membutuhkan penjelasan lantas menolah ke arah Bunga. Bunga menghela nafasnya kemudian mengangguk membuat Niko tercengang.
'Wadidau, wajar aja mbak Bunga sampai klepek-klepek terus bisa hamil di luar nikah, cowoknya aja secakep itu. Makan apa sih nih orang, udah tinggi, kekar, putih, cakep, kayaknya lumayan tajir juga. Apalah dayaku yang punya tampang pas-pasan. Kak Edgar aja yang udah cakep masih kalah, apalagi gue yang benih sisa,' gerutu Niko dalam hati sambil mencebikkan bibirnya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...