LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
Bab. LXV Hari Bahagia


Hari yang ditunggu-tunggu pasangan Nathan dan Bunga pun tiba. Resepsi pernikahan yang cukup mewah tersebut disponsori langsung oleh Aglian sebagai hadiah tanda persahabatannya untuk Stefani. Aglian menyewakan secara khusus ballroom sebuah hotel mewah sebagai tempat untuk pelaksanaan pesta pernikahan Nathan dan Bunga.


Nathan sampai berdecak kagum karena sahabat mamanya itu ternyata begitu royal sampai-sampai menyewakan secara khusus ballroom hotel untuk pelaksanaan pesta pernikahan dirinya.


Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Diiringi alunan musik yang indah membuat suasana makin terasa menyenangkan. Mengusung nuansa serba putih dengan hiasan berbagai bunga warna-warni di beberapa tempat membuat membuat mereka seolah memasuki taman bunga.


Di sana, terdapat beberapa stand makanan untuk para tamu nikmati selagi menunggu serangkaian acara hingga ke puncak pesta. Nathan dan Bunga mengusung konsep makanan jajanan Nusantara, yang menyediakan mulai dari minuman es dawet ayu dan aneka makanan seperti getuk, putu ayu, klepon, pempek, sate kerang, sate telur puyuh, bolu pisang, donat, risoles, kue lapis, dan lemper. Sedangkan untuk menu utama terdapat rendang, ayam kecap, sambal kacang plus hati ampela, rempeyek udang, telur balado, sup iga sapi, aneka lalapan, sambal buah, pisang, melon, dan kerupuk. Sungguh semua menu yang ada di pesta pernikahan Nathan dan Bunga sangat menggugah selera.


Sementara para tamu undangan telah berdatangan di ruangan pesta, Bunga nampak baru saja selesai didandani oleh MUA profesional. Nathan yang sudah lebih dahulu bersiap nampak terperangah tak percaya saat melihat penampilan Bunga yang sungguh luar biasa. Dengan gaun putih yang menjuntai hingga ke lantai, membuatnya bak putri dari negeri dongeng. Belum lagi, mahkota yang terbuat dari bunga yang dirangkai sedemikian rupa membuat Bunga sudah seperti peri yang baru saja diturunkan dari negeri khayangan.


"Cantik, sangat-sangat cantik," puji Nathan saat melihat Bunga telah berdiri tepat di hadapannya.


Bunga yang mendapatkan pujian tersebut hanya bisa tersipu malu dengan semburat merah di kedua pipinya.


"Sayang, kita nggak usah keluar ya!" ucap Nathan membuat Bunga melongo.


"Kenapa? Kamu malu orang-orang lihat istri kamu yang ternyata dari kalangan biasa? Atau kamu malu karena aku nggak sesuai ekspektasimu? Kamu jahat tau nggak! Aku udah bahagia banget bisa merasakan jadi pengantin, tapi kamu malah tiba-tiba berubah pikiran. Kamu kok tega banget sama aku?" raung Bunga tiba-tiba yang sudah terisak sambil memukul-mukul dada Nathan.


Nathan yang terkejut dengan reaksi istrinya lantas segera menangkap kedua tangan Bunga yang sibuk memukuli dadanya.


"Hei, sayang, tenang! Kamu salah paham," sergah Nathan sambil menahan tangan Bunga agar tidak kembali memukulinya.


"Nggak usah berkelit. Kamu emang jahat banget sama aku. Kamu ... "


"Kamu salah paham, sayang. Maksud aku justru sebaliknya." Nathan tetap berusaha menjelaskan.


"Kalau salah, jadi yang benarnya apa?" ketus Bunya dengan wajah memerah. Untung saja make up yang dipakai Bunga waterproof jadi meskipun ada beberapa titik air mata yang sempat mengalir, tidak sampai membuat make up nya kacau. Kalau tidak, bisa-bisa kegiatan make up nya harus diulang kembali dan tentu saja itu sangat membuang waktu.


Nathan tersenyum kemudian mengecup bibir Bunga singkat, "ya, justru sebaliknya. Aku takut pada mata-mata yang terpesona padamu. Dan yang lebih ku takutkan lagi adalah kau mendapatkan tatapan lapar dari para laki-laki menyebalkan," terang Nathan yang justru mendapatkan kekehan dari bibir Bunga.


"Emang aku semenggairahkan itu? Ada-ada saja kau, sayang," cetus Bunga yang sudah geleng-geleng kepala.


"Tapi itulah kenyataannya, sayang. Kau tahu, seandainya di luar bukanlah pesta pernikahan kita, aku pasti sudah akan mengungkungmu dan menikmati setiap inci kulit tubuhmu dengan sepuasnya," ucap Nathan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bunga.


Bugh ...


"Nakal bin mesyum. Dasar omes. Dah ah, yuk kita segera turun," tandas Bunga sebelum Nathan benar-benar merealisasikan ucapannya.


Nathan hanya bisa menghela nafas pasrah. Apalagi Bunga sudah melingkarkan tangannya di lengannya dengan wajah berbinar bahagia.


"Padahal awalnya nggak mau dipestain, eh sekarang malah antusias. Dasar bumil kesayangan," ucapnya pelan di dekat telinga Bunga membuat Bunga memicingkan matanya kemudian ia terkekeh membenarkan kata-kata sang suami.


Saat keduanya tiba di muka para tamu undangan, sorak-sorai terdengar begitu ramai. Apalagi setelah MC mulai mengumbar kata-kata mutiaranya membuat acara itu kian hidup.


Setelah puncak acara, para tamu dipersilahkan untuk menikmati segala hidangan utama yang ada di acara itu. Setelah selesai, mereka pun satu persatu naik ke atas pelaminan untuk memberikan doa dan harapan yang disambut Bunga dan Nathan dengan binar penuh kebahagiaan.


"Capek," bisik Nathan lirih. Tentu ia mengkhawatirkan keadaan sang istri apalagi Bunga tengah hamil, tentu rasa capek lebih mudah dirasakan dibandingkan sebelumnya.


"Lumayan sih, tapi aku nggak papa kok, sayang," balas Bunga mencoba untuk menenangkan sang suami sambil menggenggam sebelah tangannya, sedangkan tangan sebelah lagi ia gunakan untuk mengusap lengan Nathan agar tidak terlalu khawatir akan keadaannya.


"Tapi kalau kau merasa sudah capek, aku mohon katakan atau tidak segera istirahat, oke! Aku nggak mau terjadi sesuatu pada dirimu dan calon buah hati kita," ujar Nathan mengungkapkan kekhawatirannya.


"Iya, iya, honey, bunny, sweety. Udah yah, tuh yang mau salaman udah pada antri, persis kayak mau antri ambil sembako gratis," seloroh Bunga yang sukses membuat Nathan terkekeh.


Hingga tibalah saat dimana ada sepasang orang tua yang bersalaman sambil bercengkrama dengan orang tua Bunga. Sepertinya mereka sangat mengenali orang tua Bunga, hingga tibalah kedua suami istri itu bersalaman dengan Bunga. Mata mereka terbelalak, termasuk dua orang di belakangnya yang merupakan anak dan menantunya.


"K-kau ... "


"Kalian saling mengenal?" tanya Pak Broto sambil merangkul pundak Bunga. "Dia adalah putriku. Anak keduaku," ucap Pak Broto dengan bangga.


"Kenapa kau tidak bilang selama ini pada kami siapa kamu?" tanyanya dengan raut wajah yang sulit Bunga arti. "Bila kau cerita, mungkin semua ini takkan terjadi dan yang pasti kami akan menerimamu dengan tangan terbuka."


"Maaf Om, Tante, yang aku ingin itu diterima dengan lapang dada dan apa adanya, bukan karena ada apa-apanya," ucap Bunga ringan tapi mampu menohok sanubari kedua orang tua itu.


Mata kedua orang tua itu mendadak terasa panas saat melihat gerakan Nathan yang merangkul Bunga kemudian mengusap perutnya. Terlihat jelas betapa besar cinta Nathan untuk Bunga, wanita yang pernah mereka tolak untuk jadi bagian anggota keluarga mereka. Bahkan mereka sempat menghina dan mencemooh Bunga dan putrinya. Bahkan demi menolak Bunga menjadi bagian anggota keluarganya, mereka berpura-pura bersedia menerima Bunga menjadi istri Edgar asalkan Bunga melepaskan Putri, entah itu ke ayahnya atau ke panti asuhan. Hal yang sampai saat ini sangat mereka sesali. Kini mereka telah menuai karmanya.


Entah ini yang namanya karma atau bukan sebab kini anak dan menantunya divonis sulit memiliki keturunan. Suatu fakta yang amat sangat menyakitkan. Hanya tersisa penyesalan yang tiada berguna. Seandainya mereka tidak mencemooh nasib Bunga dan Putri, seandainya mereka mau menerima Bunga saat itu, mungkin saja mereka bisa memiliki cucu. Meskipun tidak berasal dari Edgar, tapi mereka bisa menganggap anak Bunga sebagai cucu mereka. Ah, lagi-lagi penyesalan tiada lagi berguna. Yang bisa mereka lakukan kini hanyalah mengucapkan permohonan maaf atas perbuatan mereka sebelumnya.


"Tante dan Om benar-benar minta maaf atas kata-kata dan perbuatan kami sebelumnya. Kami ... benar-benar menyesal," lirih orang tua Edgar.


"Tante tidak perlu meminta maaf, Bunga mengerti kekhawatiran Om dan Tante saat itu. Yang namanya orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bunga nggak marah kok. Terima kasih Om dak Tante sudah bersedia datang di hari bahagia kami," tukas Bunga yang makin membuat rasa bersalah kedua orang tua itu makin menjadi. Bagaimana mereka bisa begitu buta sehingga tidak bisa melihat berlian seindah Bunga? Sebab meski sudah disakiti tapi Bunga masih mampu bersikap bijak dan menganggap perbuatan mereka wajar.


Oh Bunga, sesuai namamu, kau memang indah meskipun sempat mekar di tempat yang tak semestinya.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


...***...