
Dunia Nathan seakan runtuh saat itu juga saat mengetahui wanita yang masih begitu ia cinta, mengalami koma. Bukan hanya Nathan, tapi orang tuanya dan orang tua serta adik dan kakak Bunga pun merasa hancur saat itu juga.
Rasa sesal datang bertubi. Belum selesai masalah Putri, kini mereka harus mendapati Bunga yang tak sadarkan diri. Bunga hidup, tapi seperti mati karena matanya tak kunjung membuka padahal sudah seminggu berlalu semenjak kejadian kecelakaan. Bunga seakan putus asa dalam hidup sehingga begitu enggan untuk membuka mata menatap indahnya dunia. Baginya, dunianya gelap, tiada warna. Warnanya hanyalah Putri, lalu kini Putri menderita penyakit yang belum ditemukan obatnya, membuat asa dalam dadanya redup sehingga enggan tuk membuka mata walaupun sekejap.
"Bunga, aku mohon, bukalah matamu, sayang. Aku mohon! Aku ... tanpa kamu rasanya mati. Aku mohon Bunga. Demi aku, demi anak kita. Tidakkah kau merindukan Putri? Kau tahu sayang, Putri sering menanyakanmu. Dia rindu mamanya. Dia ingin berjumpa dan memelukmu. Bahkan ... dia ingin kita selalu bersama-sama. Dia sangat ingin merasakan indahnya keluarga lengkap, ada kau dan aku sebagai orang tuanya. Tidakkah kau ingin mewujudkan mimpi serta keinginannya? Bangunlah, sayang! Kau tahu betapa aku mencintaimu. Hanya kamu, selalu kamu, tak ada yang lain. Aku mohon, sayang. Berikanlah kesempatan aku untuk membahagiakan mu dan anak kita. Aku mohon sayang, dampingi aku untuk menguatkan Putr. Yakinlah, kita akan bersama-sama berjuang untuk kesembuhan Putri. Aku mohon sayang, bukalah matamu," lirih Nathan sambil menggenggam tangan Bunga. Air matanya berlomba-lomba turun membasahi pipi. Bahkan tangan Bunga yang ia genggam pun ikut basah karena ia tempelkan di dahinya.
Entah sudah berapa kali ia menangis selama 1 Minggu ini. Bahkan ia sampai mengajukan cuti panjang agar bisa fokus menjaga dan merawat Putri dan Bunga. Beruntung pemilik Mega Architecture baik hati jadi ia tidak mempermasalahkan Nathan yang padahal belum lama bergabung dengan perusahaannya, tapi sudah harus mengajukan cuti panjang. Alasan lainnya pemilik Mega Architecture memberikan izin sebab ia pun mengenal Stefani yang merupakan mantan sekretaris sekaligus sahabat dari CEO Angkasa Grup.
Pak Broto yang selama 1 Minggu ini juga ikut menjaga Bunga bergantian dengan Bayu dapat melihat ketulusan Nathan. Bahkan ia bisa melihat betapa besar cinta Nathan pada Bunga. Seandainya dulu ia bisa lebih bijak dan tidak termakan ego, mungkin hal ini takkan pernah terjadi. Bahkan mungkin saat ini Bunga, Nathan, dan Putri serta cucu laki-lakinya telah hidup bahagia.
Lagi-lagi, menyesal pun tiada guna. Semuanya telah diatur Yang Maha Kuasa. Takdir setiap manusia telah tercatat di Lauhul Maffudz jadi sebagai manusia kita hanya bisa menjalani sambil terus beristiqomah di jalan-Nya.
"Nak, bisa Om bicara sebentar?" tanya Pak Broto setelah menepuk pundak Nathan.
Nathan pun gegas menghapus kasar air bah asin di pipinya kemudian mengangguk. Lalu Nathan mengikuti langkah Pak Broto yang mengajaknya duduk di kursi yang di sediakan di ruangan itu. Nathan kemudian duduk di samping Bayu yang juga sejak tadi berada di sana.
"Om mau bicara apa?" tanya Nathan dengan suara seraknya.
"Om mau minta maaf pada kamu atas segala yang telah Om lakukan. Om dan Bayu bukannya mendengarkan permohonan maafnya, tapi justru memaki dan memukulmu. Om benar-benar menyesal," ujar Pak Broto sendu.
"Bapak benar, Nath. Kakak juga benar-benar minta maaf. Padahal semua ini terjadi bukan karena kesalahanmu, tapi kami pun ada andil. Sikap egois kami membuat Bunga seperti itu. Dan sikap tidak peduli kami, membuat Bunga mengalami penderitaan yang bahkan kakak tak sanggup membayangkannya," sambung Bayu dengan sorot mata berkaca-kaca, penuh penyesalan.
"Om dan kak Bayu, tidak perlu meminta maaf. Nathan memang pantas mendapatkannya. Nathan pun memiliki andil besar pada setiap apa yang Bunga alami. Karena itu, Nathan memohon izin Om dan Kak Bayu untuk menikahi Bunga. Izinkan Nathan bertanggungjawab atas segala yang menyangkut tentang Bunga dan Putri. Nathan ingin menjaga dan melindungi Bunga dan Putri. Nathan ingin menikahi Bunga, Om, kak. Nathan harap, Om dan kakak mau memberikan izin dan merestui. Bukan hanya untuk Bunga, tapi Putri. Nathan ingin memberikan kebahagiaan dan keluarga yang lengkap pada Putri. Nathan mohon Om, kak, Nathan mohon, berikan restu pada kami," ucap Nathan penuh keyakinan.
Pak Broto dan Bayu saling menoleh dengan raut wajah terkejut.
"Kamu serius?"
"Kamu yakin?"
Tanya Pak Broto dan Bayu serentak.
Nathan pun mengangguk tanpa keraguan sedikitpun.
"Saya benar-benar yakin dan serius, Om, kak."
"Tapi ... bagaimana bila Bunga ... tidak bisa bangun dari tempat tidur atau mengalami koma selamanya?"
" ... "
...***...
"Jadi bagaimana Pa dengan pengobatan Putri? Apa memang belum ada obatnya sama sekali?" tanya Stefani dengan raut sendu menatap wajah polos Putri yang sedang terlelap.
"Sejauh ini, memang penyakit Bernard Soulier Syndrome belum ditemukan obatnya, ma. Tapi mama jangan khawatir dan berputus asa. Insya Allah, semua penyakit pasti ada obatnya. Namun, untuk sementara memang papa dan dokter Agus, dibantu teman dokter Agus yang merupakan hematologi dari Jerman, akan terus mencari informasi tentang cara pengobatannya."
"Semoga Pa ya! Mama sedih, masih sekecil ini tapi cucu kita sudah harus mengidap penyakit langka seperti ini. Mama juga sedih lihat Nathan, Pa. Terlihat sekali, dia benar-benar terpukul atas apa yang menimpa Bunga dan Putri. Namun, mama juga kagum pada putra kita, di saat sulit begini, tapi ia tetap berusaha untuk tegar dan kuat. Mama yakin, Nathan benar-benar mencintai Bunga dan Putri karena itu ia sanggup melakukan apapun demi dua perempuan kesayangannya itu."
"Mama benar. Papa bangga dengan Nathan karena ia berani mempertanggungjawabkan kesalahannya. Padahal bisa saja Nathan bersikap acuh tak acuh toh mereka telah terpisah 6 tahun lamanya, tapi Nathan tak mau lepas tangan. Ia justru rela melakukan apa saja untuk Bunga dan Putri."
Tok tok tok ...
"Assalamualaikum, ma, pa," ucap Nathan kemudian langsung mencium punggung tangan ibu dan ayahnya.
"Wa'alaikum salam, nak," jawab keduanya serempak. "Dari mana, hm?" tanya Alan.
"Dari ruangan Bunga, Pa. Habis bicara dengan ayah dan kakaknya Bunga ."
"Habis bicara apa?"
"Emmm ... ma, pa, Nathan mohon restunya, Nathan ingin menikahi Bunga. Dan tadi Nathan sudah bicara sama Om Broto dan kak Bayu, dan mereka merestui niat baik Nathan yang ingin bertanggung jawab sepenuhnya pada Bunga dan Putri."
"Kamu serius?"
"Kamu mau menikahi hanya karena ingin bertanggung jawab atau ada yang lain?"
"Nathan serius, Pa. Tentu ada yang lain, ma. Alasan utamanya tentu karena Nathan masih sangat mencintai Bunga dan Nathan juga memiliki keinginan mewujudkan mimpi dan keinginan Putri yang ingin memiliki keluarga lengkap serta bahagia," tutur Nathan dengan binar harapan terpancar di netranya.
Stefani dan Alan lantas tersenyum sumringah, "tentu mama dan papa akan merestui, nak. Bahagiamu adalah bahagia kami," ucap Stefani yang kemudian langsung memeluk sang putra dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Alan pun kemudian ikut memeluk anak dan istrinya dengan penuh cinta.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...