
❤️❤️❤️WELLCOME HOME PUTRI❤️❤️❤️
Tulisan itu tergantung tepat di tengah-tengah ruangan rumah Alan dan Stefani. Tentu saja tulisan itu untuk menyambut kepulangan cucu mereka tercinta. Setelah melalui prosedur yang cukup panjang dan berliku, akhirnya Putri diizinkan pulang ke rumah. Peningkatan kepulihannya meningkat cukup drastis. Meskipun belum bisa dikatakan pulih sepenuhnya, tapi setidaknya kesehatan Putri sudah jauh lebih baik. Mereka hanya harus terus menjaga dan mengontrol agar kesehatan Putri terus terjaga.
"Selamat datang cucu Oma yang paling cantik," seru Stefani saat melihat cucunya yang berada dalam gendongan Nathan masuk ke rumah mereka. Semua orang pun turut menyambut bergantian satu persatu.
"Selamat datang, sayangnya Opa," seru Alan seraya mengulurkan tangannya ingin menggendong Putri.
"Selamat datang cucunya nenek dan kakek," ucap Karlina dan Pak Broto dengan binar bahagia.
"Selamat datang dan pulang ke rumah keponakan om dan Tante yang cantik." Kini giliran Bayu dan Kia yang menyambut.
Hari ini benar-benar hari paling membahagiakan bagi Nathan dan Bunga sebab akhirnya mereka bisa benar-benar berkumpul secara utuh. Semua anggota keluarga berkumpul dan berbagi canda dan tawa. Penuh suka cita dan kebahagiaan.
"Wah, bonekanya gede banget, Om! Ini beneran buat Putri?" tanya Putri saat mendapatkan hadiah sebuah boneka Teddy dengan ukuran jumbo. Tentu saja Putri merasa sangat bahagia sekali. Sudah lama sekali ia ingin memiliki boneka besar yang lucu-lucu. Ia kadang iri melihat teman-temannya yang banyak memiliki mainan, tapi kini ia tak perlu iri lagi. Sebab di rumah orang tua Nathan bahkan kini telah disediakan ruangan khusus untuk Putri bermain dan di dalamnya tentu saja dipenuhi dengan berbagai mainan.
"Tentu dong princess nya, Om. Putri suka?"
"Suka Om, Putri suka banget. Makasih Om Bayu," ucap Putri dengan memamerkan deretan giginya yang putih dan kecil-kecil seperti biji mentimun.
"Wah, ada boneka hello Kitty juga! Ini ... "
"Itu dari Tante Kia, hadiah buat Putri, gimana, sayang? Putri suka nggak?" ujar Kia yang sudah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Putri.
"Suka Tante, Putri suka," sahut Putri antusias.
"Wah, ada kolam bola juga!"
Kini Putri sudah berlari mendekati sebuah kolam besar berisi bola-bola pemberian Karlina dan Pak Broto. Sedangkan Stefani dan Alan, membelikan tenda-tendaan berbentuk rumah untuk tempat bermain Putri.
Bunga sampai menitikkan air mata haru. Ia merasa begitu bahagia. Sangat-sangat bahagia.
...***...
"Ma, pa, pak, Bu, Nathan ingin sekali mengadakan resepsi pernikahan Nathan dan Bunga, bagaimana menurut mama, papa, bapak, dan ibu?"
Keluarga besar Nathan dan Bunga memang masih berkumpul bersama. Mereka kini baru saja selesai makan malam lalu berkumpul di ruang tamu. Nathan yang ingin sekali mengadakan resepsi pernikahannya pun meminta persetujuan.
Sebenarnya Bunga sudah menolaknya. Baginya resepsi itu tidaklah penting, namun berbanding terbalik dengan Nathan yang menganggap hal itu sangat penting. Ia sangat ingin mengabadikan momen spesial itu. Apalagi pernikahan mereka tempo hari dilakukan di rumah sakit dengan keadaan Bunga yang masih koma, tentu tak ada yang bisa diabadikan saat itu selain momen sakral saat Nathan menjabat tangan ayah Bunga saat melafazkan ijab kabul.
"Papa setuju, mama juga kan?" Alan menoleh pada Stefani yang juga mengangguk dengan sumringah.
"Mama juga. Bagaimana pun, kita memiliki teman, saudara, keluarga lainnya, rekan kerja, mereka perlu tahu apalagi kamu itu anak mama dan papa satu-satunya, tentu kami pun ingin mengabadikan momen spesial satu kali seumur hidup itu dengan meriah," imbuh Stefani membuat Nathan tersenyum bahagia sambil melirik Bunga yang merasa bersalah sebab sempat menolak ide Nathan itu. Ia lupa, pernikahan bukan hanya melibatkan dirinya dan Nathan saja, tapi kedua keluarga. Mereka harus sadar, keluarga mereka pun memiliki keinginan sendiri saya anak-anak mereka menikah. Tentu mereka ingin mengabadikan momen spesial itu dengan penuh suka cita.
"Bagaimana dengan bapak dan ibu?"
"Bapak benar. Ibu juga ingin sekali mengabadikan momen indah tersebut. Ibu pingin sekali melihat kalian duduk bersanding di pelaminan. Menjadikan kalian raja dan ratu sehari, pasti sangat menyenangkan," imbuh Karlina yang juga sangat menantikan momen indah tersebut.
Setelah berdiskusi, akhirnya keluarga itu pun menetapkan pesta pernikahan akan diadakan 2 Minggu dari sekarang. Pesta pernikahan itu akan diadakan di sebuah ballroom hotel. Bagaimana pun, Alan merupakan dokter Onkologi yang cukup ternama, ia memiliki banyak rekan dan kenalan tentu ia ingin mengundang teman-temannya sesama dokter untuk merayakan hari istimewa itu. Apalagi Nathan merupakan putra satu-satunya, tentu saja ia ingin mempersembahkan sesuatu yang istimewa untuk Putra dan menantunya tercinta.
...***...
"Papa, kenapa handuknya ditaruh di sini sih? Kan mama udah bilangin, gantung handuk di tempatnya, jangan asal lempar aja. Ck nyebelin banget sih!" omel Bunga pada kebiasaan Nathan yang suka melemparkan handuk basahnya ke sembarang tempat.
Nathan hanya nyengir lebar, "pagi-pagi udah ngomel, cantiknya entar hilang lho!" seloroh Nathan sambil memeluk tubuh Bunga dari belakang.
"Lepas, ih! Dingin tahu!" hardik Bunga sebab Nathan memeluknya dengan bertelanjang dada. Nathan yang tak pernah mengelap tubuhnya sampai benar-benar kering lantas lagi-lagi mengomel.
"Sayang, kok kamu sekarang makin cerewet sih?"
"Apa? Cerewet? Jadi papa ngatain aku cerewet? Ya udah, mama nggak mau ngomong sama papa lagi. Mama papa anggap cerewet kan! Ya, udah terserah papa mau ngapain, mama ogah peduli. Ra urus!" kesal Bunga. Begitulah perempuan, anti diejek apalagi dengan kata cerewet. Padahal cerewetnya perempuan itu bagus lho, tanda perhatian, tapi sayang, para lelaki sering menyalahartikan. Selalu memulai buruk sisi cerewet seorang perempuan.
"Eh, eh, aduh, ma, jangan marah please! Papa nggak bermaksud ngejekin kok. Papa kan cuma bercanda, sayang. Please ya, jangan marah. Ayo, ngomong dong, sayang." Nathan tampak memelas. Akhir-akhir ini memang Bunga jadi lebih sensitif. Ia kerap marah dan ngomel-ngomel. Apapun salah, apapun tidak sesuai dengan keinginannya, makan akan membuat Bunga marah dan mengomel.
"Mama udah bilang nggak mau ngomong sama papa. Titik, nggak pake koma!" hardik Bunga dengan mata melotot.
"Itu ngomong, katanya nggak mau ngomong?" seloroh Nathan dalam mode jahil.
"Siapa? mana ada. Mama nggak ngomong kok."
Sontak saja apa yang dikatakan Bunga membuat Nathan tergelak. Bilangnya nggak mau ngomong, tapi setiap perkataannya selalu saja disahuti meski dengan nada ketus.
Tiba-tiba Nathan terpikirkan sesuatu. Lantas ia segera menarik Bunga ke pelukannya lalu memandang lekat perempuan yang telah menjadi istrinya itu.
"Siang nanti kita ke rumah sakit, ya!" ajak Nathan membuat Bunga panik.
"Kamu sakit? Tapi ... nggak panas ... "
"Bukan, bukan aku yang sakit tapi aku hanya ingin memastikan sesuatu aja," ujar Nathan sambil tersenyum menggoda.
"Memastikan apa?" tanya Bunga penasaran.
Kemudian Nathan meletakkan telapak tangannya di atas perut Bunga, kemudian ia membisikkan sesuatu yang membuat Bunga membulatkan matanya.
"Ha-hamil?"
...***...
......Happy reading 🥰🥰🥰......