
"Assalamu'alaikum, sayang," ucap Bunga saat panggilan video yang dilakukan Nathan telah diangkat dan diarahkan ke wajah Putri.
Putri yang melihat keberadaan ibunya yang sudah membuka mata bahkan menyapanya sontak saja langsung terisak.
"Mama ... Putri kangen," pekik Putri dengan derai air mata yang berlomba-lomba keluar dari sudut matanya yang bundar.
Melihat Putrinya menangis tersedu, sontak saja membuat Bunga ikut tergugu pilu. Hatinya sakit melihat putrinya menangis karena merindukannya. Rasa sesal menyeruak memenuhi rongga dadanya. Bagaimana ia bisa bertindak begitu bodoh hingga menyebabkan dirinya kecelakaan hingga membuat buah hati tercintanya begitu terpukul dan bersedih. Apalagi ia baru tahu kalau ia telah mengalami koma selama 1 bulan ini. Artinya sudah satu bulan pula ia meninggalkan putrinya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Maaf, maafin mama, sayang. Maafin mama udah buat Putri sedih. Mama ... mama juga kangen Putri. Putri baik-baik di sana ya! Nurut kata Oma dan Opa," tukas Bunga berpesan yang diangguki oleh Putri.
"Iya, mama," jawab Putri sambil membersit ingusnya menggunakan baju yang dikenakannya membuat Nathan, Bunga, dan Stefani yang duduk tak jauh dari Putri terkekeh geli.
Kemudian Bunga pun mulai menanyakan aktivitas Putri selama tinggal di rumah orang tua Nathan. Putri pun bercerita dengan begitu riangnya. Sepertinya orang tua Nathan sangat menyayangi dan memanjakan Putri sehingga ia tampak begitu bahagia. Bahkan Bunga dapat melihat binar bahagia itu terpancar jelas di netra putrinya. Bunga merasa amat sangat bersyukur karena orang tua Nathan mau menerima Putri dengan tangan terbuka bahkan begitu menyayanginya.
"Mama, kapan mama ke sini? Putri kangen dipeluk mama. Putri juga kangen makan masakan mama," ujar Putri sambil merebahkan tubuh mungil di pangkuan Stefani.
"Emmm ... Mama belum tahu sayang," ujar Bunga sambil melirik Nathan. Ia memang belum tahu bagaimana kondisinya sebenarnya saat ini, sudah baikankah atau bagaimana, Bunga tak tahu.
Selain itu, ia takut untuk ke rumah Nathan. Orang tua Nathan memang baik, tapi apakah ia diizinkan datang ke rumah itu. Apalagi dengan statusnya yang ia yakini akan menimbulkan aib bagi keluarga itu. Ia merupakan seorang ibu dari Putri Nathan, tapi mereka tak memiliki ikatan apapun.
Ya, Nathan memang belum sempat bercerita kalau ia telah menikahi Bunga saat ia koma. Bahkan Bunga pun belum tahu kalau orang tuanya sudah tidak lagi marah padanya. Bukan hanya tidak marah lagi, tapi juga amat sangat menyesali perbuatan mereka pada Bunga hingga mengakibatkan penderitaan pada anak kedua keluarga mereka.
"Nanti ya sayang. Mama belum benar-benar sehat. Tapi papa janji, kalau mama udah benar-benar sehat, papa akan bawa mama pulang ke sana dan kita akan tinggal bersama seperti keinginan Putri selama ini," tukas Nathan membuat Bunga sontak menoleh dengan mata terbelalak.
Nathan hanya menoleh sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Bunga.
"Beneran pa?" tanya Putri memastikan.
"Beneran dong, masa' papa bohong sama Putri kesayangan mama dan Papa, iya kan sayang?" tukas Nathan yang kini kembali menoleh ke arah Bunga yang masih belum bisa mencerna maksud dari kata-kata Nathan tersebut.
"Yeayyy, horeeee!" sorak Putri kegirangan.
"Oh ya sayang, bagaimana hasil pemeriksaan tadi? Apakah semuanya sudah baik-baik saja? Nggak ada masalah kan?" tanya Stefani yang bertanya pada Bunga. Namun, karena Bunga yang tidak tahu apa-apa, justru tampak kebingungan.
"Alhamdulillah, mama senang dengarnya. Mama udah nggak sabar menantikan kedatangan menantu mama diri rumah ini. Akhirnya, mama bisa memiliki menantu juga," ucap Stefani membuat Bunga lagi-lagi terbelalak. Nathan sampai mengulum senyum melihat ekspresi Bunga yang kebingungan dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu tahu nggak sayang, mama sempat berpikir putra mama itu memiliki kelainan seksual alias belok soalnya bertahun-tahun mama nggak pernah sekalipun lihat dia bawa cewek ke rumah atau mengenalkan seseorang yang spesial ke mama. Sejak dulu cuma ada Aryo sama Andra aja yang pernah main ke rumah ini. Eh tiba-tiba aja mama diperkenalkan sama kamu sama Putri juga, mama sampai shock tahu. Dikirain belok tahunya hmmm ... udah punya anak aja. Anaknya udah mau gede juga. Dasar, anak nakal! Ternyata putra mama ini diam-diam menghanyutkan," tutur Stefani panjang kali lebar membuat Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia salah tingkah sendiri dijadikan bahan ghibahan oleh ibunya sendiri.
"Kayaknya Putri udah ngantuk. Kita lanjut ngobrolnya saat kamu datang aja ya sayang. Masih banyak yang mau mama ceritain ke kamu. Selain itu, mama juga mau minta maaf banyak-banyak sama kamu atas apa yang telah kamu jalani selama ini. Sekarang kamu istirahat aja ya, sayang. Mama mau temenin Putri tidur dulu," tukas Stefani tanpa menunggu tanggapan dari Bunya dan Nathan. "Assalamualaikum," imbuh Stefani mengucapkan salam sebelum menutup panggilan video itu.
"Wa'alaikum salam, ma," ucap Bunga dan Nathan serentak.
Setelah panggilan video ditutup, Bunga pun mengalihkan pandangannya pada Nathan. Ia membutuhkan penjelasan dari mantan kekasih sekaligus ayah dari putrinya itu.
"Nath, bisa kamu jelaskan, sebenarnya apa yang sudah terjadi selama aku, satu bulan ini? Dan kenapa Mama kamu tadi manggil aku menantu? Aneh, memangnya kita sudah menikah?" tukas Bunga dengan dahi berkerut.
Lantas Nathan mengubah sedikit posisinya sehingga mereka kini saling berhadapan. Lalu Nathan mengangkat jemarinya kemudian mengusapnya di dahi Bunga yang berkerut agar sedikit merenggang dan rileks.
Setelah itu, tangan Nathan beralih mengusap pipi Bunga. Entah karena merasa nyaman atau malas menepis, Bunga membiarkan saja mantan kekasihnya itu mengusap pipinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sayang, sebenarnya selama satu bulan ini banyak yang sudah terjadi. Salah satunya adalah aku ... telah menikahimu. Dan kau kini ... sudah resmi menjadi istriku," ucap Nathan seraya tersenyum semanis mungkin.
Sebaliknya, netra Bunga justru membulat. Matanya terbelalak tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir mantan kekasihnya sekaligus ayah putrinya itu.
"Ba-bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menikahiku? Sedangkan keluargaku ... " Nafas Bunga tercekat membayangkan ia menikah tanpa restu orang tuanya. "Selain itu, bukankah menikah itu membutuhkan wali yang sah, sedangkan aku ... Bagaimana dengan orang tua dan keluargaku? Apa yang menikahkan kita adalah wali hakim?" cecar Bunga menuntut penjelasan.
Nathan tersenyum simpul, "kau tenang saja sayang, kita menikah dengan restu kedua orang tua kita."
Dahi Bunga berkerut dalam merasa tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Kau tak percaya?" tanya Nathan dengan tersenyum simpul.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Bunga terbuka lebar. Kemudian Pak Broto masuk sambil mendorong kursi roda Karlina. Dibelakangnya ada Bayu dan Kia yang ikut masuk sambil menyunggingkan senyum membuat Bunga mendadak menegang kaku.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...