LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)

LUKA BUNGA (AKIBAT HAMIL DI LUAR NIKAH)
BAB. LXIII Definisi mencintai


Tiba-tiba Nathan terpikirkan sesuatu. Lantas ia segera menarik Bunga ke pelukannya lalu memandang lekat perempuan yang telah menjadi istrinya itu.


"Siang nanti kita ke rumah sakit, ya!" ajak Nathan membuat Bunga panik.


"Kamu sakit? Tapi ... nggak panas ... "


"Bukan, bukan aku yang sakit tapi aku hanya ingin memastikan sesuatu aja," ujar Nathan sambil tersenyum menggoda.


"Memastikan apa?" tanya Bunga penasaran.


Kemudian Nathan meletakkan telapak tangannya di atas perut Bunga, kemudian ia membisikkan sesuatu yang membuat Bunga membulatkan matanya.


"Ha-hamil?"


Nathan mengangguk pasti.


"Tapi ... tapi aku nggak ngerasain apa-apa kok, sayang. Nggak kayak pertama hamil dulu," ujar Bunga ragu tapi entah mengapa Nathan begitu yakin saat ini istrinya itu tengah mengandung anak ke dua mereka. Meskipun belum ada tanda-tanda, hanya ada perubahan sikap Bunga yang lebih sensitif, terkadang mellow, terkadang mudah merajuk, terkadang juga ketus dan mudah marah-marah, sungguh bukan merupakan sifat Bunga yang lemah lembut.


"Atau kita periksa pakai test pack dulu?" tanya Nathan menganjurkan. Ia memang yakin, tapi tidak salahnya memastikan terlebih dahulu bukan sebelum mereka ke dokter. Apalagi untuk periksa ke dokter itu tidaklah sebentar, butuh waktu ke rumah sakit, belum lagi antriannya, jadi lebih baik ia memastikan terlebih dahulu saja menggunakan alat tes kehamilan.


Semenjak ia menggauli Bunga untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya ia tidak menyentuh Bunga, di sela-sela waktu senggangnya, ia kerap menyempatkan diri mencari tahu berbagai hal mengenai kehamilan. Ia begitu antusias menyambut kehamilan istrinya. Cukup saat kehamilan pertama Bunga saja ia tidak ada andil sama sekali, namun tidak untuk kehamilan kedua ini. Ia ingin menjadi suami dan ayah yang siaga. Ia ingin menebus rasa bersalahnya karena tidak ada di sisi Bunga saat kehamilan pertamanya dahulu.


Dan inilah hasilnya, garis 2 yang terlihat cukup jelas membuat senyum pasangan suami istri itu merekah sangat lebar. Mata mereka berdua berkaca-kaca lalu dengan sekali sentak, Nathan meraih tubuh Bunga masuk ke dalam dekapannya sambil mengecupi kepala Bunga hingga berkali-kali. Ia begitu senang, bahagia, dan juga terharu. Ia amat sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk melihat istrinya yang kembali hamil. Dalam hati, Nathan berdoa semoga anak-anaknya semua lahir dengan sehat


Setelah memastikan dugaannya menggunakan alat tes kehamilan, Nathan pun mengajak Bunga memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit.


"Selamat ya pak, Bu, atas kehamilan Bu Bunga. Dan berdasarkan penghitungan HPHT, usia kandungan istri bapak sudah masuk Minggu ke-lima. Sekali lagi selamat ya pak, Bu," ujar dokter yang memeriksakan kehamilan Bunga.


Nathan memandang wajah Bunga yang tersenyum sumringah. Ia lantas meraih kepala Bunga dan mengecup dahinya dengan penuh cinta. Sang dokter yang baru saja memeriksa pun tersenyum lebar melihat betapa besarnya cinta Nathan pada Bunga.


"Terima kasih, sayang. Engkau merupakan kado terindah dalam hidupku. Dan terima kasih atas bonus buah hati kedua kita. Aku sangat mencintaimu, sayang."


Sekali lagi, Nathan mengecup dahi dan puncak kepala Bunga. Setelah mendapatkan beberapa wejangan dari dokter, Nathan pun mengajak Bunga keluar. Ia meminta Bunga duduk di salah satu kursi tunggu selagi ia menebus resep ke bagian apoteker.


Saat sedang menunggu, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya membuat Bunga mendongak.


"Bunga," lirih seseorang membuat Bunga pun mendongak menatap balik seseorang yang menatapnya dengan sendu.


"Kak Edgar. Ah, apa kabar kak?" sapa Bunga ramah. Lalu ia melirik seorang perempuan yang berada di sisi Edgar kemudian menyapanya dengan tersenyum.


"Aku ... baik. Bagaimana kabarmu? Ah, iya, perkenalkan, dia ... Rinda, istriku," ucap Edgar lirih.


"Ah hai, salam kenal. Aku Bunga," ucapnya pada Rinda sambil mengulurkan tangan.


"Rinda, salam kenal," sahut Rinda dengan tersenyum getir. Bunga dapat menangkap kegetiran itu, tapi ia tak mau mempermasalahkannya. Ia tak perlu tahu apa arti senyuman itu.


"Oh ya, kabarku baik kak. Kalian mau berobat?" tanya Bunga sekedar basa-basi.


"Sayang, aku udah selesai tebus vitaminnya. Ayo, kita pulang!" ucap Nathan sengaja agar Edgar mendengarnya. Saat masih menunggu di depan konter obat tadi, ia melihat Edgar menghampiri Bunga. Meskipun Bunga telah menikah dengannya dan telah utuh menjadi miliknya, tapi rasa cemburu itu masih saja ada. Apalagi ia sangat tahu Edgar menyukai wanitanya. Padahal Edgar tengah berjalan dengan seorang wanita, tapi entah ia menangkap hubungan keduanya tidaklah harmonis. Tak ingin memberikan celah bagi para pebinor, Nathan pun gegas bergerak. Ia harus mengamankan istrinya segera dan menegaskan kepemilikannya atas Bunga sebagai istrinya.


"Eh, iya, sayang!" sahut Bunga dengan senyum manisnya yang sontak saja mengundang tatapan penuh tanya dari Edgar.


"Ah, hai, kamu ... apa kabar?" sapa Nathan basa-basi saja sebenarnya.


"Kabarku baik. Kalian?"


"Oh, iya, kami ... sudah menikah 2 bulan yang lalu dan kami baru saja memeriksakan kehamilan istriku," ucap Nathan dengan binar bahagia membuat Edgar terperangah.


Terlihat jelas tatapan penuh luka di netra Edgar. Ia menatap nanar perempuan yang masih bertahta di hatinya itu. Mendengar perempuan yang ia cintai telah menikah dengan laki-laki masa lalunya, jelas saja membuat hati Edgar cukup terguncang. Belum lagi kenyataan Bunga telah hamil padahal usia pernikahan mereka baru 2 bulan, membuat Edgar tambah sedih.


Bukan tanpa alasan, ia telah menikah lebih dari 3 bulan tapi istrinya tak kunjung hamil, sedangkan ibunya sudah rewel menanyakan Rinda, wanita yang ibunya jodohkan padanya, kenapa tak kunjung hamil. Itulah sebabnya pada hari ini, mereka datang ke rumah sakit bersama untuk memeriksakan diri. Mereka khawatir salah satu dari mereka mengalami infertil.


Mereka juga bermaksud untuk berkonsultasi bagaimana caranya agar mereka berdua bisa segera memiliki momongan.


"Ah, kalau begitu, selamat atas pernikahannya dan selamat juga atas kehamilannya," ucap Edgar tulus.


Meskipun ia tak dapat memiliki Bunga, setidaknya ia harus mendoakan kebahagiaan Bunga. Sedikit banyak, ia tahu bagaimana kehidupan Bunga di masa lalu, jadi ia berharap, Bunga bisa meraih kebahagiaannya meskipun tidak bersama dia. Bukankah cinta itu tak mesti harus memiliki. Ia memang mencintai Bunga, tapi bahagia Bunga bukanlah bersamanya.


Bila ingin mengikuti ego dan tetap mempertahankan Bunga, bukannya ia memberikan kebahagiaan pada Bunga, justru kesedihan dan penderitaan. Apalagi ibunya secara terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya pada Bunga. Ia tak mau dicap durhaka karena menentang keinginan orang tuanya. Selain itu, ia sebenarnya juga tahu, hati Bunga masih terikat dengan cinta masa lalunya, ayah dari Putrinya.


Oleh karena itu, dengan hati yang lapang, ia mengikhlaskan Bunga bahagia dengan yang lain. Bila tak mampu membahagiakan orang yang kita cintai, setidaknya kita mendoakan kebahagiaannya. Itulah definisi mencintai menurut Edgar.


"Terima kasih, banyak. Kalau begitu kami permisi. Ki ingin menyampaikan kabar baik ini pada keluarga besar kami," ucap Nathan lagi yang disambut senyuman tak kalah lebar oleh Edgar.


"Terima kasih, kak. Kami pamit dulu, ya kak, Rinda," pamit Bunga juga yang kemudian mereka pun segera berlalu setelah mendapatkan anggukan dari Edgar dan Rinda.


Senyum di wajah Edgar belum juga surut. Ia turut berbahagia untuk Bunga, apalagi saat mendengar Nathan menyebutkan kalimat 'keluarga besar mereka'. Dapat Edgar lihat, Bunga kini terlihat lebih cerah dan berbinar. Tak ada raut kesedihan di wajahnya. Sudah dapat ia pastikan, Bunga kini hidup dengan bahagia dan dikelilingi orang-orang yang mencintainya.


'Alhamdulillah, semoga kau selalu bahagia Bunga.' batin Edgar.


Kemudian ia membalikkan badannya menghadap Rinda dan menggandengnya.


"Ayo!" ajak Edgar yang diangguki Rinda.


...***...


Siap-siap end! 😁


Siap-siap juga hadiah pulsa buat 3 top fans.


Ditunggu dukungannya ya! 😍


...Happy reading 🥰🥰🥰...