
Xing Wang menatap kerangka Phoenix Guntur yang berukuran sekitar sepuluh meter itu dengan tatapan penuh kekaguman.
Sebelumnya ia tidak merasakan sensasi apapun saat pertama kali masuk ke dalam ruang utama makam ini. Namun, sekarang semuanya berbeda setelah ia tepat berada di hadapan kerangka Phoenix Guntur dalam jarak yang sangat dekat kira-kira hanya sejauh dua meter saja.
Tekanan energi petir yang begitu kuat seolah-olah ingin menerobos masuk ke dalam tubuhnya melalui semua titik-titik meridian yang tersebar di tubuhnya. Akan tetapi, Xing Wang belum berani menerima energi petir itu karena takut akan bertentangan dengan energi api phoenix.
“Akhirnya kau tiba juga di tempat ini. Aku sudah lama menunggu kedatanganmu.”
Sisa-sisa jiwa Phoenix Guntur yang hanya berukuran tidak lebih dari setengah meter tiba-tiba muncul di hadapan Xing Wang seolah-olah sedang menyambut kedatangannya.
Xing Wang sudah mulai terbiasa dengan kejadian seperti ini dan sama sekali tidak terkejut karena ia juga mengalami peristiwa yang sama ketika mendapatkan warisan dari Phoenix Api.
Ia pun bertanya dengan santai. “Apakah kau seutas jiwa yang ditinggalkan oleh Phoenix Guntur di tempat ini untuk memilih siapa yang layak mendapatkan warisan kekuatannya?”
Xing Wang mencoba menyentuh sosok yang ada di hadapannya. Namun, tangannya gagal melakukan hal itu dan langsung menembus sosok itu seolah-olah sedang menyentuh sebuah bayangan.
“Aku memang seutas jiwa yang ditinggalkan oleh Phoenix Guntur untuk memilih dan membimbing orang yang berhasil mendapatkan warisan kekuatannya. Dari sikapku yang tak terkejut sedikitpun saat melihatku tampaknya kau pernah bertemu dengan seutas jiwa yang ditinggalkan oleh Phoenix lain. Apakah tebakanku ini benar?” jawab Phoenix Guntur lalu balik bertanya.
Xing Wang berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan dari jiwa Phoenix Guntur. Sebab, ia merasa bahwa pertanyaan tidak sederhana dan memiliki maksud tersembunyi yang berhubungan dengan warisan Phoenix Guntur.
“Aku memang pernah bertemu dengan sosok yang hampir mirip denganmu ketika aku mendapatkan warisan kekuatan yang ditinggalkan oleh Phoenix Api,” jawab Xing Wang dengan suara tegas tanpa keraguan sedikitpun di matanya.
Phoenix Guntur terkekeh. “Hehe … Ternyata Phoenix Api telah mendahuluiku. Tampaknya kerangka yang aku tinggalkan ini tidak akan gunanya lagi.”
Xing Wang mengerutkan kening karena tak dapat memahami arti dari ucapan Phoenix Guntur. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Kenapa kerangka itu tidak berguna? Bukankah kau harus menyatukan kerangka itu dengan tubuhku jika kau ingin mewariskan kekuatan yang kau miliki padaku? Atau jangan-jangan kau tidak ingin mewariskan kekuatan yang kau miliki padaku.”
Pertanyaan Xing Wang itu tentu saja membuat Phoenix Guntur menjadi tersinggung. Sebab, arti dari pertanyaan itu seolah-olah menuduh jika Phoenix Guntur sama sekali tidak berniat untuk mewariskan kekuatan yang ia miliki. Jika hal seperti itu sampai terjadi maka Phoenix Guntur telah melanggar kesepakatan yang ia buat dengan para Phoenix yang lain di masa lalu.
Phoenix Guntur menatap tajam ke arah Xing Wang. “Lebih baik kau berpikir ulang sebelum mengajukan pertanyaan padaku atau aku akn menghancurkan tubuhmu tanpa tersisa.”
Petir yang sangat dahsyat mulai bergemuruh di langit-langit Goa ini sebagai pertanda jika Phoenix Guntur sedang marah.
Tekanan energi petir yang sangat kuat seketika menyerang Xing Wang dan mengunci pergerakannya. Xing Wang tidak bisa berbuat banyak karena energi petir itu seolah-olah telah mengunci semua titik-titik meridian yang tersebar di tubuhnya sehingga semua saraf yang ada di dalam tubuhnya tidak dapat bekerja dengan baik.
“Apa yang ingin kau lakukan! Jika kau tidak ingin memberikan warisanmu padaku maka aku akan pergi dari tempat ini. Kau tidak perlu menyerangku seperti ini,” protes Xing Wang mulai geram.