
Rasanya ingin berteriak! Namun semuanya sudah nyata didepan mata. Rasanya ingin memberontak dan memprotes semua akan keputusan yang sungguh memaksa. Aku belum siap. Siap akan semua keterkejutan ini mendengar berita akan kamu. Kabar mengenai dirimu yang kecelakaan diwaktu itu. Sedangkan aku disini menunggu mu karena janjimu.
Kini kamu sudah terbaring kaku. Dengan sedikit senyummu matamu terpejam tak berdaya akan semua keadaan mu. Rasanya akan aku kejar semua jiwamu. Rasanya akan aku cari ruh mu yang sudah terbang diambil YANG MEMILIKI kamu seutuhnya. Dan aku hanyalah persinggahan sementara saja dalam kisah hidup kamu. Nyatanya kamu tidak kuasa menolak semua takdirmu. Takdirmu yang mengharuskan berhenti melalui jalan- jalan hidup yang berliku. Memutuskan cerita bersama dengan aku dalam rencana- rencana indah untuk menciptakan histori cinta.
Hanya sekian ini saja kamu tamat kan sebelum kau munculkan konflik di rumah tangga kita. Sebelum kita memulai semuanya dalam ijab kabul yang suci itu. Kamu sudah menyudahinya.
*******
" Apakah arti semua ini?" tanyaku lirih dengan isak tangis dan kepedihan karena kini engkau telah tiada.
" Sabar Dina! Eza harus pulang." sahut Fanny sambil mengelus pundak ku yang masih bergetar karena tangisan ku.
" Ini tidak adil! Kenapa Tuhan harus mendahulukan Eza yang masih muda sedangkan masih banyak orang-orang yang sudah berumur menanti panggilannya." protes Dina yang dengan sadar berkata demikian. Mungkin saja Dina saat ini sedang kacau. Pikirkan tidak bisa berpikir secara sehat. Dia hanya kecewa dan sedih. Kenapa kekasihnya pergi meninggalkan dirinya dan dunia ini.
Fanny memeluk sahabatnya. Fanny sangat tahu, Dina paham betul akan teori takdir Nya. Namun ketika benar-benar dihadapkan dalam kenyataan dan menimpa pada dirinya sendiri, baginya juga butuh kekuatan dan sinergis yang positif untuk mengikhlaskan semua yang hilang dan pergi dari kehidupan nya.
" Aku masih ingin disini, menemani Eza. Eza sendiri berbaring disini." kata Dina sambil terisak dan menatap lekat wajah Eza yang diam terbujur kaku.
" Biar tante dan om Eza yang menemaninya. Mereka juga sangat terpukul dengan kepergian Eza. Orang tua Eza pasti bertambah sedih ketika melihat kamu seperti ini. Ayo Dina!" ajak Fanny kembali.
" Tidak! Nanti saja! Eza mau aku tetap disini. Lihat lah! Dia sedih ketika aku hendak pergi meninggalkan nya." kata Dina sambil mengusap pipi kaku milik Eza kekasihnya.
Fanny dengan sedikit memaksa mengangkat lengan Dina meninggalkan tempat duduk di dekat Eza. Dina masih belum bisa mengontrol dirinya ketika dalam kesedihan itu. Itu yang tidak bisa Fanny terus- terusan menyaksikan pemandangan itu.
" Ayo! Kita ambil air wudhu dulu dan sholat serta doakan Eza. Setelah kamu tenang, kamu bisa duduk menemani Eza. Tapi janji yah, duduk berdoa untuk Esa. Jangan lagi histeris menangisi kepergian Eza lagi." kata Fanny mengingatkan Dina.
Dina mengikuti ajakan Fanny mengambil air wudhu, sholat dan berdoa. Dina bukan tidak paham akan hukum agama. Dina bukan orang yang tidak akan tahun artinya takdir itu. Bahwa segala sesuatu sudah ditulis dalam kitab-kitab Allah. Ketentuan, ketetapan dari jodoh, rezeki, maut sudah tertulis dalam kitab Lauhul mahfud. Manusia hidup dan mati sudah tertulis di kitab itu baik meninggal karena sakit atau dengan cara apapun sudah ada ketentuan nya. Allahualambisowab.
(Jambi, 15 Januari 2022)