
Meski berduri, kecantikannya melebihi duri yang menancap di tiap dahan dan tangkainya.
Harum semerbak, mewangi.. " hhmmm segar,".. Nina menyukai bunga mawar merah.
Kebun di pekarangan rumah di hiasi pohon-pohon mawar. Di kala kuncupnys mulai mekar, mawar merah merona menggoda setiap mata untuk melirik.
"Alhamdulillah, hujan turun". Nina senang ketika hujan.
Tetesan air hujan mendarat perlahan, bumi basah bunga mawar pun bermekaran.
Mawar yang sudah mekar akan di petik, lalu di simpan di ruang tamu, di atas meja dekat ruang makan, di meja tamu, di meja teras rumah, di kamar Nina juga. Ia akan memilih pot yang bagus untuk menyimpan bunga mawar yang ia petik dari kebun dan pekarangan rumah.
"Tak perlu pewangi, ini sudah cukup membuat ruangan wangi dan harum". Ucap Nina
Aroma khas bunga mawar.
"Kamu cantik deeeh",
Nina menggoda mawar merah yang sudah tersimpan rapih di depan meja belajar. Ia cium lebih dekat lagi, di hirup kempas-kempis hidung Nina.
Pot yang di pilih terbuat dari beling, bening sebening kristal, warna pot yang bening membuat kontras dengan mawar berwarna merah.
Nina anak semata wayang, hobi menanam bunga mawar, ia akan mengisi waktu luang dan di kala libur sekolah.
Perawakan Nina tinggi semampai, wajah tirus, lesung pipi mempercantik Nina di kala tersenyum. Kulit sawo matang, bulu mata lentik, bola matanya coklat, dengan alis yang tebal.
Sosoknya periang dan selalu menghangatkan suasana rumah. Meski anak satu-satunya, ia tidak manja. Mandiri, pintar dan telaten.
Di sekolah menjadi bintang kelas, teman laki-laki segan mendekati Nina, "Takut di kasih jurus rumus Matematika". Kelakar Andi.
"Bayangin deh ngobrol sama kutu buku Pasti membosankan". celetuk Alif dari ujung kelas.
Koridor-koridor kelas bersih, suasana sekolah nyaman, tenang dan asri untuk belajar. Gazebo-gazebo tertata dengan rapih. d
Dikala bosan belajar di dalam kelas, fasilitas belajar di luar ruangan tersedia. Ruang Laboratorium Bahasa, IPA, komputer lengkap. perpustakaan menambah daftar fasilitas sekolah.
Nina setiap hari mengunjungi perpustakaan, ada atau tidak ada tugas. Terkadang hanya sekedar membaca buku atau meminjam beberapa buku koleksi perpustakaan untuk di baca di rumahnya.
Rumah Nina sederhana, dengan cat warna putih. Bergaya minimalis. Pekarangan rumahnya luas, kiri dan kanan banyak tumbuh pohon mawar merah.
Awal ketertarikan Nina dengan bunga mawar, sebenarnya ketika ia pergi jalan-jalan ke Bandung bersama keluarga. Di villa yang telah di pesan yang di booking ayahnya ada sekuntum mawar merah bertengger di atas pot. "Cantik meski sendiri, indah meski tak ada kawan". Gumam Nina dalam hatinya. cantik tak mesti di umbar, mewah tak mesti berkoar-koar. seperti ada bisikan magis. Semenjak itulah Nina jatuh cinta pada bunga mawar merah.
liburan telah usai, Nina sudah berencana menamam bunga mawar di sekeliling kebun rumahnya. Beberapa bibit pohon bunga mawar di beli, oleh-oleh liburan Nina membeli bibit, pupuk dan beberapa bahan yang di perlukan.
Nina sangat girang, satu persatu bunganya berbunga.. bibit-bibit bunga mawar pun bertambah.
***
Pernah suatu hari yang lalu, mungkin sebulan yang telah berlalu. Mang Ijah tidak sengaja mematahkan pohon mawar, mang Ijah terpeleset karena cuaca hujan dan agak licin di kebun sebelah kanan rumah.
Nina yang melihat langsung menjerit, " Mang iiijjjjaaaaaaah".
Kontan mang Ijah kaget dan mencari sumber suara yang sudah ada di depan mata.
" Ya, neng Nina ada apa? Koq udah ada di depan mamang, mamang kaget neng?". Mang Ijah tidak menyadari sepatu bot yang ia kenakan menginjak pohon mawar.
Nina berlari kecil di temani hujan gemerincik menghampiri mang Ijah.
"Itu mang, kaki mamang".
Mang Ijah langsung melihat kebawah.
Tukang kebun yang setia mengurus kebun dan seisinya.
"Mang cepet benerin lagi, jangan sampai bunga yang mau mekar jadi gak mekar, kan kasihan, sayang". Nina cemberut.
"Siap, neng. Mamang nanti nyari penyangga biar pohon mawarnya bisa kembali berdiri, dan bunga mawar nya mekar".
Bergegas mang Ijah mencari pohon bambu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri untuk menahan pohon mawar.
"Hampir saja aku!" Mang Ijah masih kaget dengan kejadian tadi.
"Untung neng Nina suasana hatinya lagi senang, kalau tidak bisa-bisa aku di pecat".
Masih dengan perasaan shock mang Ijah menancapkan bambu berukuran kecil sesuai dengan pohon mawar.
"Alhamdulillah....sudah beres". Perasaan mang Ijah tenang, menyakiti satu pohon mawar ibarat menyakiti seluruh tubuh Nina.
Saat-saat tertentu ia berbicara dengan bunga mawar, tersenyum bahkan tertawa. Mawar merah bernyawa dalam buaian Nina.
Bernyanyi bisa menstimulasi bunga-bunga untuk tumbuh dan mekar.
Nina menyirami bunga mawar merah sambil bernyanyi ceria, "Sugesti yang baik juga benyanyi. Aku senang bunga juga senang, horrrrreeeee". Fase terbahagia saat menyiram bunga mawar dibarengi bernyanyi.
Earphone siap di telinga, musik pun bergema. Jangan di tanya kalau Nina sedang menyiram bunga mawar, bisa berjam-jam. "bisa mengobati penat setelah belajar di sekolah". Sehabis sholat ashar ia akan mempersiapkan diri terjun ke kebun di temani mang Ijah.
Selepas beres berkebun, Nina membersihkan diri. Berganti pakaian, membawa secangkir teh manis dan beberapa kue cemilan duduk di teras rumah dan membaca buku novel kesukaannya.
Membaca buku menjadi favorit Nina dari kecil, buku seperti teman yang setia kemanapun pergi Nina membaca buku. Buku nya tidak melulu buku pelajaran, sains atau berbobot tinggi, ia akan membaca buku novel, kumpulan cerpen, komik, dan majalah remaja.
Nina tidak seperti gadis kutu buku pada umunya, tak berkaca mata tebal. Matanya tidak minus, normal dan tatapannya masih normal.
"Hebat kamu" , Ria tersenyum canti menggoda Nina.
"Apanya yang hebat Ri?". Nina balik bertanya.
"Kutu buku tapi enggak bermata empat". hehehehe
"Jangan mengejek yaah", buk... buk. Ria kena timpukan buku oleh Nina.
"Untung tidak tebal". Ria masih meras beruntung buku yang di pegang Nina tipis. paling sekitar 123 halaman.
Bayangin kalau saat itu Nina memegang buku sains, ensiklopedia atau Kamus, pasti Ria merasakan sakit.
"Untung-untung" Ria mengelus dada, lalu memeluk sahabatnya. Nina.
Nina pribadi yang sopan, tidak banyak bergaul, berbicara secukupnya. "Tidak pernah menyakiti perasaan orang", celetuk Dinar.
"Kayaknya diam lebih baik, dari pada berbicara salah atau membuat sakit hati orang". Tika menimpali.
Di kantin sekolah mereka selalu bertemu, sahabat yang terpisah kelas. Bercanda ria di kala istirahat tiba.
*****
Musim kemarau tiba, bunga mawar tidak lagi bermekaran, layu.
Sedih melanda, Nina rajin menyirami bunga-bunga kesayangannya pagi dan sore.
Nina sakit, seiring bergugurannya bunga-bung mawar merah.