Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Obrolan Senja


Memulai pembicaraan di temani secangkir kopi hitam, kue brownis dan kue satru. Halaman rumah mulai di datangi ayam, kucing yang ikut berpartisipasi menjadi partisipan aktif kaum ibu-ibu yang sedang mengobrol.


Obrolan sederhana saja, tentang kehidupan, roman picisan, undangan pernikahan, undangan khitanan, suka-duka, harga beras, harga cabe, harga bawang merah yang melambung tinggi, dan kesusahan yang lainnya.


Empat ibu muda asyik mengobrol. Yanti, Tina, Entin, dan Enong. Selepas melepas lelah. Usianya random. Yanti empat puluh dua tahun, Tini empat puluh tiga tahun, Entin empat puluh empat tahun dan Enong dua puluh lima tahun. Jarak usianya berdekatan, hanya enong yang paling muda diantara mereka.


"Surat undangan ti Saha?(Surat undangan siapa)?". Entin memulai pembicaraan.


"Pak Anwar arek nikahkeun anakna nu kadua, anu lulus kamari kuliah (Pak Anwar mau menikahkan anaknya yang ke dua, yang kemarin baru saja lulus kuliah )". Enong menjawab sambil memperlihatkan surat undangan.


"Kamari keneh di wisuda, atos Aya NU ngalamar (Baru kemaren wisuda, sudah ada yang melamar)". Yanti ikut nimbrung.


"Ya, namina Oge Atos jodohna, atanapi calon suamina kabogoh basa keur kuliah, bisa wae kan? (Ya namanya juga sudah jodoh kali, atau calon suaminya pacar waktu kuliahnya, kan bisa jadi)". Tini memberikan tanggapan.


"Enya Oge (Bisa jadi)", Serempak Enong dan Entin.


Meski bukan ibu-ibu sosialita dan berkelas tinggi dengan lulusan kuliah. Ibu-ibu muda ini wanita Sholehah yang taat terhadap suami masing-masing.


Hanya ibu-ibu yang tinggal di pedesaan yang kini beranjak kekota-kotaan.


Menyediakan sarapan, membuatkan kopi, memenuhi segala kebutuhan suaminya. Merawat dan menjaga anak-anaknya. Dan menjaga nama baik suami.


Bahkan mereka lupa dengan kebahagiaan mereka, malah cenderung melupakan kebahagiaan.


Bangun tidur hingga tidur lagi yang di utamakan adalah isi dan pengisi rumah. Tidak perduli rambutnya yang awut-awutan, badannya belum wangi. Sebelum anak-anak nya dan suaminya bersih dan rapih.


Baru setelah anak-anaknya beres, rapih, suaminya siap mencari nafkah, pekerjaan rumahnya beres. Baru lah ke empat ibu muda itu benenah untuk dirinya.


Mandi, bersolek seadanya. Berbincang-bincang santai.


Mereka selalu kompak dan peduli dengan keadaan masing-masing, saling menolong dan memperhatikan.


"Etin, Bogoh teu KA salaki Entin?( Entin, suka enggak sama suami Entin?".


"Baheulamah hente? Ngarana Oge di jodohkeun?, Tapi Ari geus saimah


mah asa engges nempel, kadoang kancing jeung baju, nempel bae". ( Dulumah enggak, namanya juga di jodohkan, tapi kalau sudah serumah seperti sudah menempel, seperti kancing dan baju, nempel bae). Entin yang kini sudah mempunyai anak tiga menjelaskan awal mula pernikahan dirinya dengan suaminya.


"Komo Aya anakmah, tambah hese lesotna. Anak pamageh, arek balaga Oge ningali Soca sareng raray anak, jadi insaf sareng sadar Kana taqdir nu Kawasa. (apalagi ada anak, susah lepasnya, penguat, mau banyak gaya juga lihat mata dan mata anak, jadi insaf dan sadar terhadap taqdir yang Kuasa).


"Ari kumaneh kumaha Tin? (Kalau kamu bagaimana Tin?". Tanya Enong.


" Ari abdimah bobogohan heula jeng bapakna barudak, Aya tilu tahunan mah, samemeh nikah.(kalau saya mah pacaran dulu sama bapaknya anak-anak, tiga tahun, sebelum menikah). Loba perjuangana tina ker bobogohan oge neupi ka ayeuna, hehehehe (banyak perjuangannya dari pacaran juga sampai sekarang, hehehehe).


"Anu hajat ayeunamah kedah siap-siap bae, harga marahal, bawang beureum, komo cabe mah hargana meuni awis (yang hajat sekarang mah, harus siap-siap saja, harga pada mahal, bawang merah, apalagi cabe. harganya mahal banget). Ujar Enong.


Srruuuupppuuutt.. Suara kopi di minum. enong meneguk kopi dan kue Satru yang sedari tadi belum di makan, padahal sudah hidangkan. Saking asiknya mengobrol mereka lupa dengan hidangan yang ada di hadapan.


Kopi hitam selalu menjadi andalan, tidak mesti laki-laki kini menjadi penikmat kopi hitam. Kaum hawa sudah menjadikan kopi hitam sebagai pilihan.


"Beas oge mahal (beras juga mahal)". ujar Yanti.


"Pokoknamah segala bahan marahal, makana salut anu tiasa hajat ageung tur ngondang artis atawa organ sagala (pokoknya segala bahan mahal, salut orang bisa hajat besar terus bisa mengundang artis atau organ juga). Tina sambil menimang anaknya yang baru berusia satu tahun. dalam pelukan anaknya tertidur pulas, nyenyak menjemput impiannya.


"Baheulamah boro-boro hajat gede, di dandanan kadoang panganten ayeuna (dulu boro-boro hajat besar, dandan seperti pengantin sekarang). Entin mengenang pernikahannya.


"Mudah-mudahan urang salawasna awet rumah tangga urang sadayana dugi ka jadi Nini jeng aki, sanajan Aya gogodan bisa di lewati" (semoga rumah tangga kita semua awet selamanya, sampai menjadi nenek, kakek. Meski ada godaan bisa di lewati). Entin mengakhiri obrolan senja itu.


"Aamiin". Kompak ke empatnya mengamini.


"Pameuget mah janten raja, kedahna urang oge salaku istrina janten ratu, nu kitu nu sae mah. (suami menjadi raja, dan sebagai istri menjadi ratu, yang begitu yang bagus mah). Entin mengaggap suami adalah raja, dan nahkoda dalam rumah tangganya.


Setelah itu mereka berpisah kembali ke habitat masing-masing, menuju rumah sebagai istananya.


Istana tempat kembali pulang, tempat berteduh, istirahat, dan tempat menitipkan doa dan harapan. Doa untuk suami dan anak-anaknya.


Obrolan tidak mesti lama, sebentar saja cukup. Untuk berbagi rasa, menghilangkan penat dalam fikiran.


Dengan berbagi cerita beban di pundak terasa ringan. Tak sendiri merasakan kesedihan dan kekurangan.


Mungkin bahasa intelektualnya sharing. Berbagi untuk mendapatkan solusi, bukan untuk merendahkan, dan membuat teman terjerumus dalam kenistaan.


"Ngariah-riahkeun hate jeng fikiran (menghibur hati dan fikiran)". Enong tersenyum manis sebelum masuk ke dalam rumahnya.


*****


Cinta bisa datang kapan saja, dengan seringnya pertemuan, komunikasi bahkan saling perhatian, iba atau kasihan, rasa peduli.


Cinta hadir pada insan yang tak kenal kasta, usia, dan status. Apakah lajang, duda, janda, beranak istri, atau bersuami dan beranak, atau janda dan duda tak beranak Pinak, dengan teman waktu kecil, dengan teman sepergaulan, bahkan dengan tetangga sekalipun. Ada juga karena pertemuan pertama, permusuhan juga ada. Benci menjadi cinta.


Banyak yang menderita karena cinta, banyak yang terluka karena cinta, banyak juga yang sukses dan berbahagia dengan cinta.


Cinta yang tulus dan suci, abadi dan sampai ke hati sehingga takut saling menyakiti.


Obrolan senja kali itu sangat berkesan bagaimana seorang istri bisa menjaga perasaan pasangan hidupnya meski dalam keadaan susah dan bahagia.


Pernikahan yang membawa ke syurga penuh dengan cobaan dan godaan.


Malaikat-malaikat terus menjaga pasangan yang selalu dalam lindungan Allah.