
Pasangan muda baru menikah tinggal di sebuah apartemen mewah, dunia mereka sebelum menikah pekerja keras, sehingga lupa dengan usia dan pernikahan.
Orangtua yang sibuk mencarikan pasangan. Takut larut dan tidak mau menikah sampai tua.
Akhirnya perjodohan lah jalan terbaik.
Cari mencari ketemulah kedua orang tua yang sudah merindukan kehadiran cucu, rindu di panggil nenek.
"Pah, kita sudah tua. Kapan menimang cucu-cucu".
*****
Pertemuan yang di janjikan akhirnya tiba. Di sebuah restauran kedua orang tua sepakat menjodohkan anak-anaknya.
"Jeng, gimana kalau langsung dinikahkan saja".
"Jangan lama-lama lagi, nanti pada bubar barisan, terus enggak mau menikah".
"Saya yakin nak Fajar anak yang baik, bisa membahagiakan Nanda".
Ternyata orang tua Fajar dan Nanda teman waktu SD. Via media sosial Facebook mereka bertemu dan kembali berkomunikasi".
"Besok di tunggu di rumah yah, jangan lupa nak Fajar ajak. Kebetulan besok hari Minggu, libur kerja. Rumah kita juga gak jauh kaan".
Bak gayung bersambut.
Hari minggu tiba, setelah sebelumnya ibu Nanda tidak nyenyak dalam tidurnya. "Pah, aku takut besok Fajar dan orangtuanya enggak jadi datang".
"Sudah, ini malam. Besok kita fikirin lagi kalau Fajar enggak jadi ke rumah kita".
"Nanda,... ".
"Nanda, ayo bangun. Ini udah pagi".
"Ini hari Minggu kaaan?, Nanti saja lah."
"Pokoknya jam sembilan mamah sama papah nungguin kamu di bawah, jangan lupa mandi, dandan yang cantik". Tidak lama pergi, Nanda berfikir " kenapa harus mandi dan dandan, ke bawah doang?".
Jam sembilan Nanda menepati janji, sesudah sarapan yang di bawakan ke kamar oleh Bi Nirah, mandi dan merias wajah tipis-tipis.
Memakai gaun berwarna merah muda, Nanda menuruni tangga rumah dan melihat mamah papahnya sudah duduk santai di sofa.
"Ada apa ini?, Nanda heran. Di atas meja tamu sudah tersedia kue-kue ringan beraneka ragam.
"Kayak mau ada tamu atau saudara dari jauh". Nanda mempertegas pertanyaan.
"Kamu jangan kemana-mana, mamah mau mengenalkan kamu sama anak temen mamah, ganteng dan baik".
"Mamah, papah kok bisa!. Nanda enggak mau". Hampir meninggalkan ruang tamu.
"Nanda, please....... Kali ini aja". Bujuk mamah.
"It's okey... Tapi kali ini yah".
"Kali ini tapi kamu harus mau, pasti kamu setuju dengan perjodohan ini, kamu enggak bakal kecewa". Mamah senyum sumringah bahagia. Nanda manut dan duduk kembali di tempat semula.
******
Pertemuan berlangsung
Dan......
Mereka setuju.
*****
Menikah dan hidup bersama.
FAJAR & NANDA
Hidup di apartemen menjadi pilihan, apartemen milik Fajar, dekat ke pusat perbelanjaan dan kantor.
Meski ke kantor Fajar agak sedikit jauh, Fajar mengalah.
Tidak ada pembahasan bulan madu ke Bali, Praha, atau ke tempat lainnya.
Hanya untuk membahagiakan orang tua, Nanda mau menerima pinangan Fajar.
"Toh, enggak jelek-jelek amat, bekerja dan sudah memiliki fasilitas sendiri".
Hari pertama pernikahan sudah ribut, Nanda yang tidak terbiasa tidur bersama orang lain, kage, ketika terbangun mendengar suara mengorok.
Menyalakan lampu tidur, Nanda menggerutu.
"Iiih, Fajar tidurnya ngorok, ganteng-ganteng, kok tidurnya ngorok",
Nanda membangunkan Fajar yang sedang tidur terlelap.
"Pindah, kamu tidurnya di sofa". Nanda memberikan bantal dan selimut.
Awalnya Fajar tidak mau pindah, Nanda mendorong Fajar sampai terjatuh ke lantai.
"Iya, aku pindah". Suara Fajar parau.
Pagi pun tiba.
Di dapur Nanda membuat sarapan. Telor ceplok dan teh manis, kesukaan Nanda.
Tak berselang lama, Fajar ikut ke dapur. Di lihatnya hanya ada telor ceplok dan teh manis.
"Itu.. ! Nanda menunjuk lurus telor ceplok yang sudah tersaji di piring di atas meja makan.
Meja makan yang terbuat dari rotan berwarna hijau muda, warna kesukaan Fajar.
"Bukan, itu. Telor dadar pake tomat, di taburi lada hitam, kecap manis dan saos cabe, terus". Fajar menerangkan telor dadar kesukaannya, saos cabe sama kecapnya di ujung piring di simpennya. Sambil memperaktekkan bagaimana cara telor dadarnya.
"Ribet banget,"
"Bukan ribet, ini selera". Fajar membantah ucapan Nanda, kalau telor dadar kesukaannya. Bukan ribet tapi selera.
Duduk menggeser kursi, lalu duduk di samping Nanda.
Nanda memperhatikan Fajar begitu lahap memakan telor dadar.
"Minumnya apa?", Nanda penasaran.
"Air putih, tapi gelasnya harus yang ini". Menunjukkan gelas berwarna putih polos dengan gagang di sampingnya, gelas berukuran sedang tapi bentuknya agak tinggi".
"Aneh, minum di semua gelas sama saja, air putih akan tawar rasanya, begitu juga dengan minuman yang lain". Heran dengan kebiasaan Fajar.
"Enggaaaak lah, beda kalau di gelas ini". Sambil mengangkat gelas lalu meminumnya pelan-pelan.
"Pernah makan telor dadar". Ucap Nanda.
"Pernah dulu waktu kecil, mamah membuat telor ceplok, katanya telor mata sapi, padahal di mana mata sapinya?. Mamah membuat kuningnya masih mentah, agak cair gitu, terus bau amis, hampir saja aku muntah-muntah, enek rasanya.. baunya anyir".
"Terus". Nanda bertambah penasaran.
"Gak jadi makan". Fajar malah bilang enggak jadi ke sekolah, tenggorokannya masih merasakan bau amis telor ceplok mata sapi karya mamahnya.
Semenjak itu mamah tidak pernah lagi membuat telor ceplok.
******
Waktu terus berganti, Nanda mulai terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan Fajar, ada yang biasa-biasa saja, ada yang aneh, ada juga yang luar biasa".
******
Setiap pagi sebelum berangkat kerja Nanda menyiapkan telor ceplok dengan teh manis hangat, dan telor dadar ala Fajar dan secangkir air putih dengan gelas yang tidak boleh berbeda.
Setelah beres sarapan, mereka menuju kantor yang berbeda.
Ada yang aneh mulai di rasakan Nanda. "Pusing dan mual mah". Menelpon di sela-sela kerja. Mamahnya yang langsung tertawa, di ujung telpon tawa mamah begitu renyah, garing kayak gorengan mang Rojak langganan Nanda.
"Nanti mamah ke kantor yaaah".
Tidak perlu lama, pintu kantor Nanda di ketuk, nongol muka mamah sambil tersenyum sumringah.
"Jangan-jangan kamu hamil". Mamah berbisik sambil memeluk Nanda dengan hangat.
"Masa siih maah, kan baru di Minggu pernikahanku dengan Fajar".
"Kan waktu kamu menikah, kamu haid kaaaan, kan itu masa subur bagi perempuan". Mamah menjelaskan.
"Kalau tidak sibuk, kita periksa ke Dokter Heni". Dokter keluarga Nanda.
"Enggak usah pulang lagi, kita temui Dokter Heni di rumah sakit, kan Deket juga dari kantormu".
"Nanti saja Mah, sebenarnya Nanda enggak sibuk, hanya menandatangani beberapa kontrak saja".
"Ya udah sekarang aja kita berangkat, Mamah sudah penasaran".
"Bagaimana kalau nanti aku enggak hamil?, Hanya sakit biasa".
"Tapi emang beberapa hari ini, kalau enggak salah empat harian laaah, Nanda mau telor dadar ala Fajar".
"Ngidam kali.. kan selama ini kamu enggak suka telor dadar" Mamah langsung menggandeng Nanda.
"Ya Bu, Nanda positif hamil usinya kehamilannya baru menginjak seminggu. Dokter Heni memeriksa hasilnya.
Dokter Heni menjadi Dokter pribadi keluarga Nanda sejak lama.
Mamah langsung kegirangan dengan kehamilan Nanda.
"Selamat yah, hati-hati jangan kelelahan, jaga calon cucu papah sama Mamah".
Fajar menerima telepon tersenyum bahagia. Di meja kerjanya, " Tidak lama lagi aku akan menjadi ayah". Kabar ini ayah ibuku harus tahu, telepon genggam di raih, tekan nomor mamah. Kebahagiaan yang sama terdengar dari ujung telepon.
Semenjak itu Nanda menikmati telor dadar ala Fajar dan menyukai apa yang di sukai Fajar. Semuanya terkecuali tradisi mengorok, yang sering mengganggu tidur Nanda.
*******
Sembilan bulan, detik-detik persalinan. Fajar suami idaman sibuk mempersiapkan segala kebutuhan sebelum berangkat ke rumah sakit.
Keringat dingin bercucuran, Fajar menemani Nanda dan tidak beranjak sedikit pun.
Ooooaaa.... Oooaaaaaa...... oooaaaaaaa
Bayi mungil keluar, masih berlumuran darah. Tangisannya keras. Nafas lega mulai di rasakan Fajar, Nanda, ayah bunda, papah mamah.
Bayi perempuan
Widya Nandi Pratiwi putri Fajar Maulana.
Nama yang di sematkan. Memboyong semua nama ibu bapaknya dan kedua eyang putrinya.
Cucu pertama dan di tunggu-tunggu kehadirannya.