Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Umi ... Ampuni Anakmu.


Ku hadiahkan tulisan ini untuk Umi ku terkasih, yang masih belum melihat aku bahagia di ujung hayatnya.


Sudah empat bulan umi sakit terbaring, untuk menjaganya tetap bersih dan wangi, umi memakai pempers dewasa. Dua kali atau tiga kali dalam sehari ganti, bagaimana keadaan, tidak ada yang bisa di lakukan.


Berbicara pun sudah tidak bisa, kalimat yang terlontar dari mulutnya hanya dua kalimat saja


"Allahu Akbar, dan Laailaahaillah".


Sedih kami rasakan, melihat nya seperti itu, hanya bisa terbaring saja, terkadang kami anak, cucu, menantu tidak faham apa keinginannya. Kami saling bergantian menemani dan memberikan kasih sayang semampunya, karena kami belum bisa membahagiakan umi yang sudah melahirkan, merawat, mendidik, dan membahagiakan.


Umi menjadi single parent setelah bapak tujuh belas tahun lamanya sakit, semenjak itu umi yang seharusnya hanya menjadi tulang rusuk, karena keadaan harus mengemban menjadi tulang punggung sekaligus.


Sebagai anak yang bungsu aku tidak begitu mengenali sosok dan wajah bapak di banding kakak-kakakku.


"Kira-kira usiamu lima tahun bapak meninggal". Umi bercerita.


Samar-samar rasanya untuk mengenali wajah bapakku, namun terbayang di ingatan badannya tinggi dan kulitnya putih, itu saja.


Kami tujuh bersaudara, susah senang bersama, kakak Perempuanku hanya satu, dialah pahlawan keluarga.


Keluh kesah selalu padanya, meski beban hidupnya juga banyak, tetapi jika ada adik atau saudara membutuhkan uluran tangan, ia tak segan untuk membantu dengan segenap tenaga dan fikiran.


****


Karena kami terlahir dari seorang ibu yang kuat, pejuang dan gagah berani, karena itu kami sudah terbiasa hidup perih, susah dan cobaan hidup.


Tapi, umi tak pernah lelah berjuang untuk anak-anaknya.


Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Banting tulang mencari nafkah.


Usianya sudah tak muda, saat sakit umi berusia delapan puluh dua tahun. Usia yang cukup untuk merasakan asam garam kehidupan.


Pahit manis kehidupan sudah di rasakan.


Seluruh keluarga memanggilnya Umi,...


****


Hari Rabu tanggal 26 September 2022, pukul 06.00 WIB suara telpon genggamku berdering, di ujung telpon suara isak tangis kakakku "Umi sudah meninggal, di tunggu". Ku tutup telpon. Dan bergegas berganti pakaian, tas dan jaket tidak lupa ku kenakan.


Jarak rumahku dan rumah umi lumayan jauh beda kampung tetapi masih satu kecamatan. Suasana pagi masih terasa dingin.


Dengan mengendarai ojek tetangga, aku menuju rumah umi. Suami dan anak-anakku menyusul.


Suasana duka terasa, banyak orang tetapi hening.


Perlahan ku memasuki rumah, umi....terbujur kaku, diselimuti kain panjang. Kakak dan beberapa saudara menyambut kedatanganku, air mata tak tertahan, sedih", tapi jangan sampai meratap". Dalam benakku. Harus kuat, kokoh bagai karang di lautan seperti umi tegar dalam badai.


Kain kafan, kapas, dan semua kebutuhan sudah tersedia lengkap.


Di samping rumah tutup kain rapih untuk pemandian telah di sediakan. Aku, kakak perempuan, Tante dan saudara ikut memandikan untuk terakhir kalinya.


Perlahan air di basuhkan dari atas kepala hingga ujung kaki, tiap sendi dan lubang di usap agar kotoran yang masih menempel hilang.


"Kali pertama seumur hidup memandikan mayit", umi ku sendiri.


Satu demi satu kain kafan, kapas di pakaikan. "Pelan-pelan saja, kasihan umi", Tante ku yang sudah terbiasa mengurus mayit.


Umi begitu cantik dan bersih, keponakanku rajin merawat umi dengan telaten. Meski di sibukkan dengan anak nya yang masih kecil dan super bawel, ia bisa mengurus umi dengan baik.


Sudah rapih, bersih, para pelayat sudah memenuhi rumah, ayat suci al-Qur'an sambung menyambung di bacakan para pelayat.


Banyaknya pelayat menandakan umi di cintai, di sayangi.


Pukul 10.00 kami sekeluarga mensholatkan umi di dalam rumah, imam kakak iparku yang memimpin.


Pelayat masih terus berdatangan, keluarga, handay taulan, teman Se profesinya, temen sepermainannya waktu kecil, teman sekolahnya dulu, orang-orang yang hebat pun turut melayat.


K.H Embay Syarief sebagai ketua umum Mathla'ul Anwar (organisasi masa) hadir beserta jajarannya.


Alhamdulillah, di perkirakan lima ratus orang hadir pada saat mensholatkan hingga mengantarkan ke liang lahat. lima shaf berjajar dengan rapih mensholatkan umi di mesjid Jami Baiturrahman. Tepat pukul 13. 00 WIB.


Semoga Umi Husnul khotimah. Aamiin ya robbal'alamin.


***


Nasihat Umi "Jangan tinggalkan sholat, dan mengaji". Tidak ada yang lain.


Tidak pernah kami di suruh kerja keras, di tuntut uang bulanan, jatah orang tua yang sudah mengurus. Umi tidak meminta ini itu.


"Materi umi cukup", membiayai sendiri. Tidak tergantung kepada orang lain.


"Pokoknya sholat di manapun harus di laksanakan, waktuna sholat segera ambil wudhu, jangan di tunda-tunda,". Wasiat untuk anak, cucu.


"Sholat, Sholat, Sholat, Nanti Allah akan selalu menolong dan membimbing".


Rajin bersilaturahmi, Umi senang berkunjung dan mengunjungi saudara yang dekat, yang jauh. Terkadang menginap berhari-hari.


"Silaturahmi memperpanjang usia dan rezeki". Ucapnya kala itu di suatu sore sambil minum teh kesukaannya.


Berkebun dan bercocok tanam menjadi aktifitas umi setelah pensiun. Gaji Pensiunan guru mampu mencukupinya, sedekah dan korban di hari Raya Idul Fitri dan hari Raya idul Adha.


Setiap hari Jum'at mengisi pengajian ibu-ibu di majlis ta'lim dekat rumah.


Berkah dan barokah di usianya. Semoga amal jariyah Umi selalu mengalir, tidak terputus. Dan menjadi timbangan amal Sholeh kelak di Yaumil Qiyamah.


"Semua mengenang Umi dalam kebaikan". Timpal adik perempuan yang selalu setia menyenggangkan waktu menemani Umi di kala sakit terbaring.


*****


Selepas kepergiannya, rindu dan penyesalan kerap menghinggapi. Rindu akan hadirnya, rindu akan peluknya, rindu akan suaranya, rindu segala-galanya, tentang semuanya. " Belum ku membahagiakannya, ia sudah meninggalkanku".


Penyesalan terberat ku saat tak mampu merawatnya dengan baik, hanya sesekali saja ku berkunjung ke rumahnya, tidak menentu, terkadang tidak menginap, terkadang sebentar. Terkadang lama, makan bersama, minum teh dan mengobrol tentang banyak hal.


Acap kali ku bertemu, dan berpisah kembali pulang, " Minta maaf". Sambil ku cium tangan dan pipinya yang sudah tak lagi montok. Terkadang tulang pipi kami bersentuhan. Hehehehe......


******


Umi tidak pernah menganggap ku remaja, dewasa bahkan tua. Ia tetap menggapku anak kecil yang harus di perhatikan.


Menawariku beberapa hal, baju baru, jalan-jalan, perabotan rumah, pisau, Alat panggang ikan, apa saja. Bahkan uang pun masih saja memberi.


Usiaku sudah menginjak empat puluh dua tahun, sudah bersuami dan mempunyai dua anak perempuan.


Umi dalam kenangan yang tidak akan lekang oleh waktu. Di tempatkan di Syurga Nya Allah wajalla.


Aamiin ya robbal'alamin.