Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Cinta Berawal dari Seblak Biang


Tiada hari tanpa seblak, makanan entah dari mana asal mulanya, tetapi enak rasanya, seblak biasanya terdiri dari telor puyuh, kerupuk, makaroni, kwe tiaw, bakso sedikit campuran daun sawi hijau. Yang membuat luar biasa seblak biang terdapat pada rasa.


Seblak biang mempunyai cita rasa luar biasa, di lidah berasa bermain manja, pas di lidah, di tambah rasa pedas, di nikmati di waktu siang hari setelah selesai kuliah atau belajar.


Cita rasa seblak biang, susah terlupakan. Makanya selalu menjadi pilihan bagi para peminat seblak.


Biasany menikmati seblak biang di kala hujan yang dingin, hmmm ..... lezzatnya menikmati semangkuk seblak yang pedas di taburi Sukro. Bak toping pada kue tart atau cake. Pemanis dan penikmat makanan.


Suasananya selalu tepat di nikmati di saat musim dingin atau musim panas. Sajian seblak biasanya di temani oleh secangkir es teh, atau es jeruk. Menambah selera.


Aneka menu tersedia, sesuai selera masing-masing. Pelanggan dari berbagai kalangan. Dosen, mahasiswa, pelajar, ibu-ibu, anak-anak dan khalayak umumnya.


Bahkan terkadang peminatnya dari luar kota yang ingin menikmati kenikmatan seblak biang.


Selain itu juga harganya terjangkau, bisa di raih dengan uang jajan mahasiswa atau pelajar yang pas-pasan.


*****


"Teh, pesen seblak pake kwe ti aw, telor puyuh tapi enggak pake kerupuk". Dian dengan selera pedas level lima.


Tak lama berselang. Diantara banyak pembeli. Si ratu nya seblak yang enggak bisa di pisahkan dari seblak biang.


Lengket kayak prangko. Lemnya rekat banget. Setiap hari kadang sendiri, terkadang bersama teman-temannya. Enggak ada bosennya nyeblak biang.


Pemandangan yang sejuk, pematang sawah yang asri, saung-saung berjejer rapi menambah nyaman penikmat seblak biang, meski perjalanan menuju warung seblak biang penuh dengan liku-liku, berkelok-kelok. Jalannya mulai rusak, aspal jalanan mulai keropos di mana-mana, bolong di tengah, kadang di pinggir. Harus bisa memilih jalan, supaya tidak terjatuh dan aman sampai tujuan dan pulangnya juga. Tetapi tidak menyurutkan itikad Risa.


Dengan rasa pedas level enam yang selalu menjadi pilihan Risa, Tina, Bella dan Ratna tidak setinggi itu level pedasnya hanya sekitar tiga atau dua setengah.


Ada yang enggak suka pedas diantara mereka, Ratna dengan level pedas ujung kuku... "Kalau terlalu banyak makan cabai perutku langsung sakit". Ratna menahan malu karena jauh level pedas dengan teman-temannya.


"Tak masalah, kenapa harus malu, kan selera. Yang penting jangan sakit". Tina memberikan semangat kepada Ratna.


Dian, Ratna, Bella dan Risa hanya sebagian penikmat dan pelanggan setia seblak siang, masih banyak di luar sana yang mengidolakan seblak biang diantara berjamurnya warung seblak.


"Kenapa yah nama warungnya seblak biang?". Risa duduk manis di saung sambil menunggu pesanan tiba.


"Iya yah kenapa?".


"Iih kok balik bertanya?".


Percakapan antara teman-teman Risa terdengar oleh salah satu pegawai warung seblak biang.


"Mau tahu apa mau tahu banget?". Arifin nama pegawai tersebut.


Perawakannya tinggi, giginya bersih, rambut hitam, badannya pas ukuran M. Gede enggak, kecil juga enggak.


"Lumayan juga". Desis Risa.


"Menurut cerita yang punya warung, di namakan seblak biang, dari nama anak kedua mereka Abian..." Begitu Arifin menjelaskan.


Tahu persis ceritanya, selain sebagai pegawai yang sudah lama malang melintang dalam dunia perseblakan. Arifin juga ternyata masih saudara owner seblak biang dari fihak perempuan. Tepatnya sepersepupuan.


*******


Rupa-rupanya Arifin sudah sejak lama memperhatikan Risa, pelanggan setia yang aktif mengisi daftar hadir, hehehehe ... Saking seringnya.


Tetapi Risa tidak tahu dan memang Risa karakternya cuek sama laki-laki. Jadi wajar kalau selama ini ia tidak tahu kalau ada yang memperhatikan secara diam-diam.


"Risa, Bella dan Ratna kan?, Arifin menyebut satu persatu, seperti guru yang sedang mengabsen murid-muridnya.


Pelanggan sebelah melirik dengan cepat, ke arah tempat Risa dan kawan-kawan duduk.


"Kok tahu, terus tepat lagi enggak salah menyebutkan nama dan orangnya?". Bella berbisik di telinga Ratna.


"Ya, gimana enggak kenal, setiap hari ke sini. Apalagi Risa kadang kesini sendirian, duduk di pojok dekat bunga kertas di antara bebatuan hitam.


Mata Risa terbelalak, kaget. Tahu persis kebiasaannya.


Arifin berjalan mengarah ke dapur sambil membawa mangkok kotor yang sudah di tinggal pelanggan.


*****


Risa hari ini tidak berkunjung ke warung seblak biang. Entah perasaan apa yang membuat Risa malas ke warung seblak biang.


Arifin yang sudah menanti kedatangan Risa atau teman-temannya tak jua melihat mereka akan tiba.


Waktu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Artinya setengah lima sudah jam berdetak. Tinggal tiga puluh menit lagi warung seblak biang tutup. Jam lima sore pegawai mulai sibuk membersihkan semua yang sampah yang berserakan atau mangkok-mangkok dan gelas-gelas kotor yang masih tergeletak di tiap saung.


Pelanggan terakhir seorang wanita muda sedang menikmati seblak biang. Ia menatap tajam ke arah pemandangan yang ada di hadapannya.


Apa yang di fikirkan perempuan belia itu?. Arifin berharap itu Risa, tetapi bukan setelah di dekati dia bukan Risa.


"Kemana Risa?". Arifin terdiam dalam tanya tak terjawab.


"A, tolong es teh nya, belum di antar, dari tadi saya menunggu". Pelanggan terakhir membuyarkan lamunan Arifin.


"Ooh iya,. Maaf". Arifin bergegas dan menyiapkan es pesanan yang di minta.


"Maaf telat". Arifin memberikan es teh tepat di hadapan pelanggan terakhir.


"Ya,.. " hanya menjawab itu saja.


Waktu berdentang menunjukkan pukul tujuh belas tepat. Siang beranjak menjadi sore, sore yang menenangkan di kala hiruk pikuk kesibukan manusia yang ingin menggapai kebahagiaan di dunia.


"Maaf warungnya mau tutup".


"Ooh... Iya".


*****


Berpisah untuk kembali bertemu.


Arifin kembali bertemu dengan sosok wanita pelanggan terakhir yang ia ingat beberapa hari yang lalu mengenakan gaun hitam dan berjilbab coklat.


Kali ini ia nampak cantik dengan balutan gaun yang sama, namun tersemat di Bros jilbabnya Rafika, berwarna emas dan terukir indah.


Rafika begitu mudahnya menggoyahkan perasaan Arifin setelah Risa tak jua datang menjadi pelanggan setia seblak biang.


Rafika menjadi tambatan hati, Arifin terpesona dengan pribadi Rafika. Yang kini telah menjadi dewasa yang anggun dan cantik.


Tak di sangka mereka bertemu kembali setelah sekian lama tak bersua. Di warung seblak biang cinta yang belum pernah Meraka rasakan kini tumbuh bersemi.


Teman semasa kecil. Berpisah bertahun-tahun lamanya, dan kembali di pertemukan di warung seblak biang meraih taqdir cinta.


Dulu tak pernah terfikirkan, jangankan untuk jatuh cinta. Bertemu kembali pun tidak pernah terbayangkan.


Ternyata warung seblak biang menghadirkan cinta bagi Arifin dan Rafika.