Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Bukan Pria Pilihan


Senja, menapaki jalan setapak. Sendiri menyendiri, rasa ternyaman. Menyepi menuai asa dan harapan.


Harapan yang sebentar lagi punah, keputusan ibu yang telah menjodohkan dengan lelaki yang bukan pujaan hati, bagaimana mungkin bisa hidup bersama dalam mahligai pernikahan tanpa ada rasa cinta.


"Aku bukan cinta, aku cinta Jaka". Senja meradang.


"Ibu hanya mau menikahkan kamu dengan Asep". Ketus ibu berucap.


"Asep anak baik, keturunan baik, anak orang kaya, nanti hidupmu tidak akan susah kayak ibu, cukup ibu yang susah". Ibu memberikan pandangan dan pendapat. "Rumah tangga bukan soal cinta, kita butuh makan, belanja, rumah dan isi rumah yang cukup". Ibu mencurahkan keluh kasihnya. " Lihat ibu, lihat ibu senja.. rumah tangga sudah dua puluh tahun dengan bapak apa yang ibu miliki. Jangankan sebidang tanah, rumah pun masih mengontrak, kamu mau hidup susah."


Ibu membara


"Apa yang di miliki Jaka, pemuda desa tukang ternak kambing".


******


Ucapan ibu terngiang-ngiang di telinga Senja, sedih rasanya.


Jaka hanya seorang penggembala kambing, kambing milik tuan Jahid, bapaknya Asep. Asep yang di jodohkan kepada senja oleh ibunya tanpa sepengetahuan Senja.


Jaka anak yang Sholeh, tidak pernah meninggalkan sholat wajib yang lima waktu dan sholat rawatib, tahajud, Dhuha setiap hari. Puasa sunnat Senin Kamis getol di lakukan Jaka. Taat dan patuh terhadap kedua orangtuanya, teman, tetangga selalu baik, tidak pernah berbuat aniaya dan dzalim terhadap orang lain.


"Diam daripada salah berbicara, karena banyak yang tersakiti dengan ucapan, bisa bertahun-tahun lamanya sakit karena ucapan selalu terngiang dan susah terobati". Begitu prinsip Jaka.


Dzikir dan istighfar selalu membahasahi mulutnya. Cinta untuk Senja Jaka pasrahkan kepada Allah, sebagai sang Kholiq, pemilik alam semesta.


Dengan sikap dan kepribadiannya yang baik Jaka hidupnya bersahaja.


*****


Namun ibu Ruminah, tidak melihat kesholean Jaka, sebagai ibu yang tidak ingin Senja merana dalam pernikahan.


"Sholeh saja tidak cukup". "Mau makan sama cinta, bisa kenyang dengan hanya cinta, tidak senja. Senja mendengarkan dengan tertunduk.


Cinta bisa menyusul setelah kalian menikah, lambat laun cinta bisa tumbuh". Bu Ruminah meyakinkan bahwa cinta bisa datang setelah menikah.


Senja masih belum menerima kenyataan, meski Asep sudah menjadi suaminya. Masih teringat Jaka. Kambing dan ilalangnya pun masih lekat dalam ingatan Senja.


Lambat laun pernikahan Jaka terdengar di telinga Senja, wanita pilihan Jaka namanya Melati, gadis desa tetangga.


Melati langsung jatuh cinta saat melihat Jaka dan kepribadiannya.


Dengan malu-malu Melati meminta ayahnya untuk menjadikan Jaka sebagai suaminya.


Setelah ayahnya tahu tentang Jaka, ayah Melati tidak segan mengundang Jaka ke rumahnya, Jaka yang tidak tahu kalau pak Dirman mempunyai anak gadis tidak berfikir panjang.


Sore yang indah, Jaka bertandang ke rumah pak Dirman, pemilik kambing yang selama ini di gembala oleh Jaka.


Kambing pak Dirman banyak, selain itu juga pak Dirman peternak ayam telor. Jangan di tanya berapa banyak kekayaan pak Dirman.


Sebelum idul Adha, atau hari raya Qurban gembala-gembala pak Dirman laris manis, banyak pelanggan puas dengan kualitas kambing-kambing yang ada di peternakannya, di bulan-bulan tertentu kambing aqiqah/tasyakuran lahiran dan acara pernikahan dan sunatan kambing pak Dirman menjadi pilihan.


"Meski mahal tapi sesuai". Ucap salah satu pelanggan.


"Jaka sudah punya tambatan hati, atau calon istri", tanpa basa-basi pak Dirman bertanya kepada Jaka setelah mempersilahkan masuk.


Jaka bagai pesakitan yang sedang di sidang di meja hijau. Diam gelagapan.


"Mmmhhhh... Belum pak". Senyuman Jaka yang sedang memberikan ketenangan pada dirinya sendiri.


"Ooh iya, silahkan di minum". Mencairkan suasana.


"Iya pak, terima kasih banyak pak". Manggut-manggut Jaka lalu mengambil gelas yang berisi air teh yang ada di hadapannya.


"Kue juga silahkan di cicip". Bu Dirman yang baru saja keluar setelah mendengar obrolan suaminya dan Jaka, rupanya Bu Dirman mendengarkan dari ruang sebelah obrolan antara keduanya.


"Cocok". Bu Dirman memegang tangan Naira sambil tersenyum.


******


*Naira, sungguh beruntung sekali nasibnya, memiliki suami Sholeh, dan Jaka juga beruntung punya istri kaya". Senja menatap langit-langit di kamarnya yang sepi, setelah di cerai dan di aniaya oleh Asep. Senja memilih bercerai dan memilih hidup di kontrakan.


Menyewa rumah dengan satu kamar, ruang tamu, kamar mandi, dan halaman yang sempit, cukup untuk parkir sepeda motor. Sederhana sekali, pagar yang terbuat dari bambu menjadi tempat istirahat Senja.


Ibu Ruminah menyesali perbuatannya yang telah menjodohkan anaknya dengan Asep karena kekayaan, tanpa melihat tabiat Asep.


Senja tidak membenci dan marah kepada ibunya, karena apa yang sudah menimpa pada hidupnya.


Namun pilihannya untuk hidup sendiri lebih merasa tenang.


Kontrakan yang di huni Senja sederhana, tetapi merasakan kenyamanan. Di bandingkan hidup di rumah Asep yang megah tetapi bathinnya tersiksa.


Setiap malam Asep pulang dalam keadaan mabuk, dan bau tidak sedap, Senja sering merasakan panasnya tangan Asep di wajah Senja yang lembut.


Perilaku Asep karena orang tuanya yang terlalu memanjakan hidupnya, fasilitas semua di penuhi tidak pernah merasakan kerja keras.


Kekayaan orang tua menjadi tameng Asep untuk berbuat semena-mena.


Hanya bertahan tiga tahun Senja bertahan suatu hari Asep bisa berubah, tetapi itu tidak mudah, tak semudah membalikkan telapak tangan.


Perpisahan menjadi pilihan Senja, dari ada batinknya tersiksa setiap malam. Tidak hanya itu saja perlakuan ibu mertua Senja yang selalu membela perilaku Asep.


"Kamu sebagai istri enggak becus, ngurusin suami". Kejam sekali ucapan ibu mertua Senja.


"Wajar Asep tak berbudi pekerti, tak beradab. ibu selalu membelamu". Senja marah karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Asep dan ibu nya, yang menganggapnya pembantu rumah tangga. Bukan menantu dan anak yang harus di jaga, di rawat dan di jaga perasaannya.


...****************...


Senja hidup sebatang kara, menjadi janda muda tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ia menutup diri dan menutup rapat hatinya untuk laki-laki.


"Sudah cukup, apalagi Jaka sudah menikah. Bahagia". Gumam Senja, yang terkadang masih mengharapkan kehadiran Jaka meski sebentar, selintas atau berlalu di hadapannya.


Hanya sekejap saja, ku mohon. Rindu ini masih terasa menggebu di dalam kalbu. Tetapi itu hanya imajinasi semata, tak ayal seorang yang di harapkan tak jua datang menghadiri, hanya untuk menyapa kabar atau memberikan senyum simpul untuk ia bertahan hidup, di tengah getirnya hidup.


Ibu Ruminah merasa iba terhadap nasib anak semata wayangnya, yang di harapkan membawa kebahagiaan. Tetapi itu salah, perkiraannya meleset seratus sembilan derajat.


Menyesal mendatangkan duka.


Lara di penghujung senja.


Senja ...... maafkan ibu.