
Jogjakarta kota penuh kenangan, andai akan membawakan rindu yang dalam tak akan mungkin ku tinggalkan Jogja.
Kota pelajar, kota batik, kota budaya, kota seni, dan angkringan. Banyak nama yang pantas di sematkan pada kota Jogjakarta Hadiningrat ini. Banyak budayawan dan seniman handal nan piawai terlahir dari kota Sri Sultan
Hemangkubowono, yang terletak di Jawa Tengah.
Maestro Butet Kartaradajasa, Affandi, Didik Ninik Towok, Soimah dan sederet seniman lainnya.
Lima tahun (2000-2005), ku nikmati kota Jogja. Kuliah di salah satu Universitas Negeri. Seperti burung yang lepas dari kandangnya, ku bebas mengepakkan sayap.
Menghirup udara bebas setelah belajar di tingkat SMA cukup menyita waktu. Sebelum kuliah aku belajar di Madrasah Aliyah plus pondok pesantren. Pagi, siang, malam belajar dengan materi ilmu agama sembilan puluh persen. Pagi dari jam 07.30-13.00. Siang
14.30-15.30. Malam setelah sholat Isya jam 07.30-21.00. Seperti itu rutinitas ku, liburnya hari minggu di Madrasahku.
******
Jogja membawa setangkup kebahagiaan, meski tak bisa ku nikmati setiap sudut kota Jogjakarta. Maklum mahasiswa dari kalangan bawah, yang mesti bisa memenej keuangan dalam sebulan atau menunggu kiriman dari ibuku.
Uang yang minim harus bisa mencukupi untuk biaya hidup, kostan, tugas-tugas kuliah dan sedikit berlibur di hari libur ke Malioboro.
Di depan kampus biasanya aku dan temanku menanti mobil trayek Malioboro warna kuning, nomor enam belas tertera di atas kap mobilnya. Dengan uang tiga ribu kami tiba di tempat tujuan.
Ada dua trayek mobil yang biasa di lalui. Mobil nomor tujuh belas dan enam belas.
Mobil nomor tujuh belas melalui rute kampus UGM, kampus hebat di kota pelajar. Banyak akademisi yang eksis di semua bidang ilmu pengetahuan.
Rutenya agak lebih jauh menurutku, daripada mobil nomor enam belas.
Pasar Bringharjo menjadi pilihan ekonomis untuk membeli tambahan koleksi baju, sendal, pakaian dalam, kerudung, kaos kaki, selimut, atau tas yang mulai kusam.
Di Malioboro hanya berjalan-jalan mengitari jalanan, kalu sudah mulai panas masuk ke Mall yang besar, air conditioner nya menghadirkan kenyamanan di tubuh yang berkeringat. Aroma wanginya pewangi semerbak, bercampur dengan aroma roti yang mahal, dan warung nasi siap saji yang berjejer di setiap sudut Mall.
"Memegang berarti membeli". Ucap temanku.
"Lihat Bandrolnya saja sudah cukup, hehehe".
Bandrol yang tertempel di pakaian yang bermerek tidak akan mungkin terbeli. Terkecuali ada harga diskon. Dan itupun jarang waktu promo nya.
******
Nuansa bulan suci Romadhon sangat indah bagi ku, aku termasuk pencari ta'jil gratis lhooo.... Hehehe. Ta'jil adalah makanan untuk berbuka puasa. Nimat makan kolak yang manis, es buah, dan nasi kotak. "Gratis, halal, dan nikmat". Gumamku dalam hati.
Panitia Ramadhan di Mesjid kampus setia memberikan ta'jil kepada jama'ahnya. Terkadang kegiatan dari kampus sampai sore, atau malam.
"Waktu mau Maghrib, waktu yang selalu di nantikan di bulan puasa, ayoo kita ke mesjid. Buka nya di sana saja, sholat Maghrib terus kita lanjutkan rapatnya". Ujar Upik temanku yang berasal dari Jawa Timur, tepatnya kota Blitar.
Tak berselang lama aku dan Upik berjalan menuju mesjid yang berada tepat di tengah-tengah kampus. "Lima menit lagi kita berbuka". Ujarnya.
Kampus yang nyaman bersih nan asri dengan pohon-pohon yang rindang. Aku dan Upik tidak perlu memakai sendal, keramik kampus dan beranda mesjid saling berhubungan.
******
Perkuliahanku berjalan normal, bisa di lalui dengan nilai normal juga, tidak di atas tidak juga di bawah, cukup untuk lulus dari kampus putihku tercinta. Hingga akhirnya bulan Agustus 2005 ujian skripsiku di terima dengan beberapa revisi yang harus di selesaikan.
"Akhirnya lulus juga", fikirku. Di bantu beberapa teman kost membawa buku-buku referensi.
"Selamat yah mba". Nisa adik kelasku memberikan selamat atas diterimanya sidang skripsiku.
"Ya, terimakasih". Balasku.
Ada satu lagi yang menarik dari kota gudeg ini, yaitu angkringan. Warung nasi adanya di waktu sore hingga dini hari.
Nasi kucing, bukan berarti nasinya seperti kucing atau nasi buat kucing, aku juga enggak begitu faham riwayat nya. Namun nasi kucing selalu menjadi santapan alternatif di kala akhir bulan uang jajan atau makan sudah menipis.
Harganya seribu satu nya, kadang beli dua atau satu, cukup untuk mengisi perutku. Kalau uang nya masih tersisa di kantong, nasi kucing di tambah ceker ayam dan kepala ayam.
Angkringan di Jogja semuanya pepuler dan berjamur menjadi tempat ngobrol asik di tengah malam dengan sepoi-sepoi angin malam.
******
Jogja dan ribuan kenangan, masih saja mengisi beranda memoriku. Meski sudah dua puluh tahun berlalu.
Kekuatan apa selain cinta, ternyata ku mencintai kota Jogjakarta setelah ku tinggalkan.
Ku berfikir bisa melupakan semuanya, namun semakin aku berusaha semakin kuat ia mengikat dan menembus ranah otakku.
Terlintas di bayanganku kampus putih, jalanan, teman-teman, Malioboro, Bringharjo, bunderan Unibersitas Gajah Mada, konser musik, pertemuanku dengan sang idola. Pram.
Pramudya Anantan Toer memberikan tanda tangannya di buku yang ku bawa.
Salah satu karyanya yang ku bawa "Si Midah Bergigi Emas". Sebelum membubuhkan tanda tangannya ia menatap ku dan menatap buku yang sudah ku siapkan lembar kosong pada.
Buku yang ku miliki di tulis pak Pram berusia sembilan tahun. Luar biasa usia Sekolah Dasar susah bisa membuat karya yang hebat.
Hanya beberapa saja buah karya Pram yang ku miliki, itupun dari hasil uang kuliah atau jajan yang masih bisa ku bagi untuk membeli buku.
Ku tak sanggup membeli buku karya Pram yang lainnya, tetralogi "Bumi Manusia" ku pinjam dari teman untuk di baca.
******
Aah... Jogja, ku memendam rindu. Teramat sangat ku merindukannya. Di stasiun kereta biasanya kau sudah menanti kedatanganku setelah liburan semester selesai.
Mengendarai sepeda motor kita melangkah bersama, terimakasih cinta.
Senja di stasiun kereta api hari itu membawaku mengelilingi alun-alun kidul, melewati Kraton Yogyakarta Hadiningrat lalu berhenti di sebuah angkringan yang sudah mulai rame pengunjung.
Kopi Joss pesananmu sudah tiba, ku tatap matamu dengan perasaan rindu.
Namun kini, semua sirna. Ku tinggalkan semua luka. Alunan musik Kla Project mengantarkan ku pada wajahmu yang tak sanggup lagi ku sentuh.
Begitu Indah, syair lagu grup Padi terlantun merdu di telingaku. Rindu ingin bertemu. Bertemu kamu yang telah menitipkan hati yang menjadi begitu indah.
Senandung rindu ini untukmu yang selalu menemani lelah langkahku, sahabat terimakasih telah berbagi dalam segalanya.
Aliful Ma'rifah
Balqis Fadilah
Yuk Ulil
Mba Dian Kusuma Dewi
Yulis
Marisa Ulfa Inayati
Ulfatussyarifah
Teh Novita Andriani
Neni Nurjanah
Dan .......
Gading 14.
Terimakasih Jogja dengan segala kenangannya.