
Dua anak kecil usianya kira-kira lima tahun. Usia yang menggemaskan. Pertemuanpertama kali, Kalisa dan Noval di jalan gang depan rumah.
Kalissa anak perempuan berkulit putih, rambutnya tergerai sebahu, warna rambutnya hitam.
Noval anak lelaki tetangga jauh, jarang mereka bertemu setiap hari. Rumah kalissa dan Noval terhalang delapan rumah.
Rumah kalissa berwarna pink dengan pagar rumah warna pink juga.
Sedangkan rumah Noval berwarna putih, halamannya luas dengan pohon palem di sebalah kanan dan kiri pekarangan rumah.
Karena kesal main di rumah" Mah, main yuk ke depan, Kalisss bosan main di dalam rumah sendiri, kakak belum pulang sekolah". Rengek Kalissa kepada mamahnya.
"Mamah malas de,"
"Pokoknya Dede mau keluar".
Terpaksa mamah kalissa berdiri dari tempat duduknya.
Kalissa anak bungsu dua bersaudara, di rumah di panggil Dede, karena masih kecil dan adek dari kakaknya.
Sore yang indah di perumahan tempat Kalissa dan keluarga tinggal,..
Hanya berjalan-jalan di depan rumah saja kok". Kalissa berlari-lari kecil senang keinginannya terpenuhi.
Kicauan burung, hilir mudik pedagang, kendaraan berseliweran lewat, setiap sore gang komplek ramai.
"Iih giginya ompong"..
"Mama.....aaah".
Kalissa menangis, rupa-rupanya Noval menggodanya. Karena gigi Kalissa ompong.
"Gak apa-apa, emang Dede ompong kan? Kenapa harus nangis?. Mamah menenangkan tangisan Kalissa.
"Adek gak suka di bilang ompong, hiks... Hikss... Hiksss...". Masih saja merengek.
"Noval gak boleh begitu, Kalissa nangis lhoooo, kasihan".
Noval di asuh neneknya, karena ibu nya bekerja di perusahaan BUMN.
"Biarin nek, kan cuman di bilang ompong?, Dengan manja Noval memeluk nenek kesayangannya.
"Mah, pulang yuuk".
"Yuk ....", Menggandeng tangan Kalissa.
"Dede marah,".
********
Lima belas tahun berlalu.
"Sudah enggak ompong lagi yaah?" Noval menggoda.
Noval kini beranjak menjadi pemuda tampan, ganteng.
Kalissa terperanjat kaget. "Ganteng juga sekarang Noval".
Mereka kembali bertemu setelah lima belas tahun lamanya.
"Dasar cowok usil, celamitan". Ejek Kalissa.
"Oooh, ini yang dulu kamu ceritain.. Nov," belum sempat Kia menyelesaikan ucapannya Kalissa sudah menutup mulut Kita dengan rapat.
"Adddduuuuh, Kalisssssssa aku gak bisa bernafas". Kia meronta, nafasnya tersengal-sengal.
"Awas kalau ngomong lagi, nanti aku pukul". Kalissa menahan malu.
"Iya, asal jangan berantem, masa baru bertemu lagi, mau berantem". Kia menahan tawa geli.
Saling tatap. Noval dan Kalissa saling memandang. Ada rasa kagum pada keduanya.
******
"Mah, masih inget sama anak kecil, cowok yang dulu nangisin Kalissa enggak?.
Sepulang dari kampus kalissa memulai pembicaraan di meja makan.
"Yang mana?, Temen kamu TK, atau SD? Mamah lupa".
"Itu mah, yang dulu bilangin kalau aku ompong". Kalissa berusaha membuat mamah membuka memori beberapa tahun yang lalu.
"Oooh, Noval anaknya Bu Fatma, rumahnya sebelah sana itu, udah lama pindah kan?, Ayahnya pindah tugas ke Kalimantan katanya". Mamah manggut-manggut mengingat kembali moment Kalissa menangis hanya karena di bilang ompong.
"Lucu deh kamu waktu itu, emangnya kenapa?. Mamah balik bertanya.
"Tadi ketemu di kampus mah, masa sih dia masih ingat Kalissa, muka Kalissa enggak berubah gitu mah, kan waktu itu aku masih kecil". Tangan Kalissa memilin-milin rambutnya.
"Emang iya gitu mah".
" Iya masa Mamah bohong?".
"Udah sana mandi, udah gitu kita makan bareng tunggu ayah".
Kalisaa bangkit dari kursi, kalau perintah nyonya harus di laksanakan, nanti nyerocos Terus.
Hari berganti, Kalissa berharap tidak bertemu Noval, cowok super bikin kesel.
Namun, Tuhan berkendak lain, botol minum air mineral hampir mendarat di pipi Kalissa.
"Siapa siih yang iseng".
Suasana kampus ramai.
"Ada yang iseng yah non?". Senyuman manis Noval bertengger dari mulutnya.
"Sial, naas banget" Kalissa menatap tajam seolah-olah mau ******* habis Noval.
Tak bereaksi apapun Kalissa berusaha menghindar dari Noval.
"Mau Ampe kapan? Begini terus, jangan dendam lhooo nanti demen, terus suka". Ledek Noval.
"Awas, minggir sana". Kalissa berusaha berlari.
"Emang mau nyubit aku lagi".
"Nooovaaaal, sekali lagi aku lihat batang hidungmu, ku potong-potong pake pisau dapur". Beringsut Kalissa menjauh dari Noval.
Noval tak bergeming, terus saja mengikuti Kalissa dari belakang.
"Aaadddduuuuuh, sakit". Noval menjerit.
Kalissa langsung menengok ke belakang, terlihat Noval terjatuh ke tanah. Motor dari lawan arah menabrak Noval, pengemudi motor berkendara ugal-ugalan. Noval turjungkal, terkulai tak berdaya.
" Ayoo bawa ke rumah sakit". Kalissa panik dan menghampiri kerumunan yang mulai di padati mahasiswa dan pejalan umum.
...****************...
"Temenin aku yuuk, kita ke rumah sakit".
"Siapa yang sakit". Kia penasaran.
"Noval".
...****************...
seminggu sudah Noval di rawat di rumah sakit.
Dengan memberanikan diri Kalissa akhirnya menjenguk Noval di temani Kia.
"Maaf yaah baru jenguk". Terlihat kaku.
"Ok." Jawab Noval.
"Aku cuma bawa roti dan beberapa makanan kering", Kalissa berusaha mencari bahan pembicaraan.
Noval hanya mengangguk.
Suasana sepi dan hening, kabel berseliweran menempel di beberapa bagian tubuh Noval.
"Masih ganteng kok", Kalissa keceplosan.
"Ya, gantengku permanen".
"Eeh, bukan gitu maksudku". Kalissa berusa meralat apa yang tadi terucap dari mulut mungil, bergincu tipis.
"Kalau suara hati jangan terdengar doong". Kalissa salah tingkah.
"Udah aku bilangin pas awal pertemuan dulu, jangan pada berantem, sekarang sudah pada gede". Kia menyeringai.
Setelah di jenguk Kalissa, keadaan Noval membaik dan di perbolehkan pulang ke esokan harinya.
"Senang juga bisa pulang ke rumah, bosan di rumah sakit". ujar Noval. Terimakasih Mamaj sudah nemenin Noval. " Lama yah seminggu di sini, ayoo kita pulang, mamah beres-beres dulu dan membayar administrasi yaaah, kamu tunggu dulu".
...****************...
"Noval udah pulang belum yah". Kalissa mulai memikirkan Noval, teringat kecelakaan yang terjadi.
Kia memperhatikan sahabatnya yang sedang melamun di pojok sofa berwarna coklat muda. Warna kesukaan Kalissa.
Lamunannya dalam sekali fikir Kia.
"Mikirin Noval yaah".
Tiba-tiba suara Kia mengagetkan lamunan Kalissa.
"Enggak". melengos meninggalkan Kia menuju dapur.
"Aih... malah ditinggalin". Kia bengong melihat tingkah laku temannya.
...****************...
Noval masih terbaring di kasurnya, semenjak kecelakaan tidak banyak aktifitas yang dilakukannya. Sendi-sendi tulangnya masih terasa linu.
Bermain basket kini hanya ada dalam hayalan.
"Sabarnya harus lebih di tingkatkan" Gumam Fajar menghibur Noval.
"Nanti juga sembuh". Fajar menepuk bahu kawan sejatinya, memberikan semangat dan harapan.
"Cinta harus di gapai".
"Kalissa harus menjadi pasanganku". Noval masih memikirkan Kalissa.
"Andai pertemuan waktu kecil dulu, aku enggak menggodanya, pasti Kalissa enggak dendam, dan acap kali bertemu di kampus ribut terus". Noval tertunduk.
"Rupa-rupanya sang jagoan benar-benar jatuh cinta, anak mamah udah kepincut cewek ompong, hehehehe".
"Iya mah, bantuin mah. biar Kalissa mau jadi pacar Noval".
"Iya, sekarang Kalissa cantik yah".
...----------------...