
'Cinta kita melukiskan sejarah... Menggelarkan cerita penuh suka cita... Sehingga siapa pun insan tuhan, pasti tahu... Cinta kita sejati... ' alunan musik yang dibawakan Bunga Citra Lestari menggema dalam sebuah kamar. Kamar yang begitu penuh dengan hawa dilema.
Diambang pintu terlihat dua wanita saling melempar pandangan.
"Setelah Arnold pergi, dia terus murung seperti itu." ucap Syila menatap Dara.
"Aku mengerti." Dara berjalan menghampiri Nissa yang masih asik dengan lamunannya.
"Kamu tahu? Bunga di rumah pada mati." ucap Dara duduk disebelah Nissa. Tentu saja Nissa terkejut.
"Dara? Kapan kamu kesini?" tanya Nissa berusaha untuk tersenyum.
"Udah satu jam yang lalu, kamu sih asik melamun." ucap Dara mengerucutkan bibirnya.
"Ya gitu deh Ra, dia mah tiap hari emang begitu." imbuh Syila sambil mencium pipi Azka dengan gemas.
"Dengerin aku Nis." ucap Dara mulai serius. Nissa menatap Dara begitu lekat. Dara menggenggam tangan Nissa.
"Terkadang hati dan mulut kita itu sering berbeda pendapat. Tapi kita harus bisa mengendalikan semua itu. Aku tahu kamu sangat mencintai suami kamu. Maka katakan lah dengan jujur padanya Nis. Tidak jadi masalah kita mengungkapkan perasaan pada suami sendiri. Jangan mempertahankan keegoisan kamu. Karna itu hanya akan membuat kamu sakit."
"Yakinkan hati kamu Nis." Dara merangkul pundak Nissa. Keduanya pun saling melempar pandangan.
"Jangan sampai keduluan orang lain. Iya kan sayang?" ucap Syila sambil mencium Azka yang sedang asik bermain di gendongannya.
"Aku... Aku takut." ucap Nissa menunduk.
"Takut? Sejak kapan Nissa menjadi seorang penakut hah?" tanya Dara menarik dagu Nissa. Nissa menggeleng.
"Ini bukan Nissa. Nissa yang aku kenal itu dia seorang pemberani dan tidak cengeng. Mana Nissa yang ceria seperti dulu hah?" ujar Dara menangkup kedua pipi Nissa.
"Aku tahu kamu takut kehilangan dia. Pergi lah. Katakan padanya jika kamu tulus mencintai dia. Kamu masih seorang istri, hak kamu masih besar. Jangan utamakan keegoisan kamu itu. Pergilah."
"Kamu ngusir aku?" tanya Nissa mengerucutkan bibirnya. Dara dan Syila pun tertawa bersamaan.
"Kalau bucin mah susah diajak serius. Iya kan dek?" ucap Syila bangun dari duduknya.
"Bukan gitu, tapi... "
"Maaf non, ada tamu." ucap wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga.
"Siapa mbok?" tanya Syila berjalan menghampiri si mbok.
"Kurang tahu non, laki-laki pakai jas." ucap mbok.
"Ya sudah, biar saya lihat dulu." ucap Syila berjalan keluar.
"Ra, apa aku terlalu jahat?" tanya Nissa.
"Emmm... Sedikit, tapi gak apa-apa sih kasih pelajaran dikit buat suami kamu. Tapi jangan terlalu lama, dosa loh." ucap Dara sambil tersenyum jahil.
"Ra, aku malu mau ketemu dia. Soalnya..." lagi-lagi ucapan Nissa terpotong oleh kedatangan Syila.
"Nis, keluar sebentar. Ada yang ingin bicara sama kamu" ucap Syila dengan wajah serius.
"Siapa?"
"Keluar aja dulu." ucap Syila. Dara menarik tangan Nissa dan membawanya keluar.
"Rey...ada apa kamu kesini?" tanya Nissa saat melihat sosok Rey yang kini tengah duduk diruang tamu. Rey langsung bangun dari duduknya.
"Maaf nyonya, bisa ikut dengan saya sebentar? Saya akan menceritakan semuanya dijalan nanti." ucap Rey menunduk. Nissa mengernyit bingung. Ia menatap kedua sahabatnya.
"Ikut lah, siapa tahu memang sangat penting." ucap Dara mengelus pundak Nissa.
"Ya sudah, ayok." ucap Nissa. Ia kembali menatap kedua sahabatnya. Dara dan Syila pun mengangguk.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam." ucap Dara dan Syila bersamaan. Nissa pun melangkah pergi mengikuti Rey dibelakang.
***
BRAAKK
Pria tampan itu melempar berkas yang ia pegang hingga berserakan. Ia terduduk lesu dikursi. Lingkar hitam di matanya terlihat begitu jelas. Ia memijat keningnya.
"Aku benar-benar hancur." bisik nya. Ia menyadarkan tubuhnya di kursi. Matanya terpejam.
"Kenapa tidak bisa? Bukankah kita suami istri? Sudah seharusnya kita melewati susah dan senang bersama-sama." suara itu berhasil membuat Arnold terperanjat kaget. Nissa menghapus air matanya dan langsung berlari kearah Arnold.
"Kamu jahat mas!!" ucap Nissa memukul dada bidang Arnold.
"Maafkan aku. Kenapa kamu ada disini?"ucap Arnold begitu lemah. Nissa menatap netra suaminya. Netra tajam itu kini sudah berubah. Kilatan itu kini sudah redup. Penampilan Arnold bisa dikatakan cukup berantakan.
"Aku mau bunuh kamu mas." ucap Nissa ketus. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arnold.
"Bunuh?" tanya Arnold seraya tersenyum. Ia memeluk Nissa begitu lembut.
"Iya, aku mau bunuh kamu mas. Tega sekali kamu membuang aku setelah apa yang terjadi. Kamu jahat!!" ujar Nissa tanpa melepaskan pelukkan.
"Aku cuma tidak mau kamu ikut sengsara. Aku bukan lagi Arnold yang dulu. Besok perusahaan akan berpindah tangan. Jadi...
"Jadi mas masih berfikir aku ini mata duitan hah? Mas kira aku ini wanita apa? Wanita gila harta, iya?!!" Seru Nissa menarik kerah baju Arnold.
"Bukan seperti itu, aku hanya... Hanya...
"Aku cinta kamu mas. Apa pun yang terjadi, rasa itu tidak akan pernah berubah. Aku tidak mau kehilangan kamu. Kenapa gak peka sih?" potong Nissa kembali menenggelamkan wajahnya. Namun kali ini tubuhnya bergetar. Ia menangis tersedu dipelukkan sang suami. Arnold menghela napas gusar. Tanganya mulai terulur untuk mengelus kepala Nissa.
"Jadi kau tidak membenciku?" tanya Arnold. Ia mendorong pelan tubuh Nissa agar dapat melihat wajah cantiknya. Nissa menggeleng. Ia menunduk karena merasa sangat malu.
"Katakan lagi jika kau mencintaiku." ucap Arnold menarik dagu Nissa begitu lembut. Wajah putih Nissa seketika berubah merah.
"Nissa.. Nissa....
"Aku juga mencintaimu." ucap Arnold menarik Nissa kedalam dekapannya. Nissa dapat mendengar detak jantung Arnold dengan jelas. Detakan yang hampir seirama dengan detak jantung nya.
"Tunggu!! Bagaimana kamu tahu jika aku ada disini?" ucap Arnold.
"Rey yang mengatakan semuanya."
Flashback on
"Rey ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan mas Arnold?" tanya Nissa. Ia sedikit gelisah.
"Iya nyonya. Sudah beberapa hari tuan tidak pernah pulang. Sejak nyonya pergi dari rumah sakit. Tuan sangat jarang tidur. Bahkan beberapa pekerjaan sempat terbengkalai. Tuan hanya sibuk untuk menemukan nyonya. Banyak perusahaan yang memutuskan kerja sama."
"Tuan tidak seperti yang dulu. Sepertinya nyonya benar-benar memengaruhi hati tuan. Saat ini kondisi perusahaan sedang miring. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi saya mohon nyonya. Terus berada disamping tuan muda. Saat ini dia butuh dukungan."
Nissa terdiam seribu bahasa.
'Ya allah. Jadi aku lah penyebab kehancuran suamiku sendiri. Maafkan aku mas. Maaf karena aku terlalu egois.'
"Bawa aku untuk menemui dia Rey." ucap Nissa. Rey mengangguk.
"Terimakasih Rey." ucap Nissa hendak turun dari mobil. Namun tangannya terlebih dahulu di tahan oleh Rey.
"Jangan pernah pergi lagi dari sisinya. Setelah sekian tahun. Saya baru melihat lagi cinta pada diri tuan. Tuan sangat mencintai nyonya. Jangan kecewakan saya nyonya." ujar Rey penuh penekanan.
"Saya tidak janji Rey. Tapi saya akan berusaha untuk selalu ada disampingnya." ucap Nissa tersenyum sambil menepuk tangan Rey.
"Terimakasih atas kesetian kamu." ucap Nissa yang langsung keluar dari mobil. Ia sedikit berlari memasuki gedung tinggi milik suaminya.
Flashback off
"Aku akan memberinya pelajaran." ucap Arnold yang berhasil membuat Nissa terkejut.
"Kenapa begitu? Dia sudah sangat baik mas. Kenapa kamu sangat jahat mas, kamu...
Cup! Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Nissa.
"Kau sangat cerewet sayang." ucap Arnold menarik pinggang Nissa hingga tak ada jarak diantara mereka. Wajah Nissa kembali merah padam.
"Mas, lepasin ini kantor. Kalau ada karyawan kamu yang lihat bagaimana?" ucap Nissa berusaha melepaskan cengkraman tangan Arnold.
"Aku akan memecat mereka." ucap Arnold begitu santai.
"Dasar bos killer." ucap Nissa. Arnold tersenyum. Wajahnya mulai mendekat hingga hembusan nafas mereka saling beradu. Nissa memejamkan matanya.
"Malam ini kau harus membayar kesalahanmu. Apa yang kau pikirkan hah?" bisik Arnold. Ia melepaskan cengkraman di pinggang Nissa dan langsung beranjak pergi. Nissa membuka matanya. Ia menatap kesal punggung Arnold karena sudah berhasil dikerjai.
"Mas!! Aku tidak akan memaafkan mu. Menyebalkan!!" teriak Nissa. Namun sayang, Arnold sudah tidak menampakkan dirinya. Nissa mengepal tanganya karena merasa geram. Ingin sekali rasanya ia mencabik wajah sang suami.
'killer tetap saja killer. Tidak akan pernah menjadi pria romantis.'