Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
80


Memiliki sahabat bukan saja memiliki satu atau beberapa orang untuk berbagi cerita. Sebab sahabat yang baik adalah mereka yang selalu berusaha memberikan contoh terbaik bagi hidup orang lain. Menjadi inspirasi bagi mereka yang mau berkembang. Karena itu merupakan hal yang manis ketika sahabat terbaik kita meraih kesuksesan.


~Cut Raisa Maulida~


'Ada apa dengan Nissa, kenapa dia berubah? Dia menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Ya Allah, tolong lindungi sahabat hamba'


"Sayang, kenapa melamun?" kedatangan Arham berhasil membuat Dara terperanjat kaget.


"Ah, tidak mas. Dara hanya memikirkan Nissa"


"Jangan terlalu dipikirkan, makan lah" ucap Arham memberikan nampan berisi makanan pada Dara.


"Terimakasih" ucap Dara.


"Mas, besok boleh kan Dara keluar dengan Syila?"


"Kemana?"


"Belum tahu mas, boleh ya? Hanya sebentar" ucap Dara memohon. Arham berfikir untuk mempertimbangkan keinginan istrinya.


"Baik lah, tapi ingat jangan membahayakan dirimu sendiri" ucap Arham mengelus kepala Dara. Dara tersenyum dan langsung memeluk Arham karena terlalu senang.


"Terimakasih mas" ucap Dara.


"Ya sudah, sekarang makan lah" ucap Arham yang dijawab anggukan oleh Dara. Dara pun langsung melahap makanan yang sudah Arham bawa.


***


"Kamu yakin Nissa akan kembali kesini?" tanya Syila pada Dara, saat ini mereka sedang berada di depan restoran dimana Dara berjumpa dengan Nissa kemarin.


"Aku yakin, kamu tahu sendiri kan Nissa seperti apa. Jika dia sudah nyaman di satu tempat, dia akan terus disitu" ucap Dara dengan mata terus menyusuri seluruh tempat.


"Ada apa dengan Nissa? Siapa sebenarnya suami dia? Saat pernikahan pun aku sama sekali tak melihat wajah suaminya" ucap Syila.


"Kita akan cari tahu, aku sama sekali tidak bisa diam jika sesuatu menimpa sahabat kita" ucap Dara. Lalu mata indahnya menangkap sesosok orang yang begitu ia kenal.


"Nissa" ucap Dara yang langsung keluar dari mobil, Syila yang terkejut pun langsung ikut turun dari mobil. Dara berlari untuk mengejar Nissa, ia sengaja tidak memanggil agar Nissa tidak lari lagi.


"Nissa tunggu" ucap Dara menarik tangan Nissa. Nissa sangat terkejut, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.


"lepaskan aku" ucap Nissa mencoba melepaskan cengkraman Dara.


"Kita harus bicara" ucap Dara menatap Nissa tajam.


"Aku sibuk" ucap Nissa.


"Sibuk? Sesibuk apa sih sampai-sampai kamu melupakan kami" ucap Syila. Nissa langsung terdiam dan mulutnya benar-benar terkunci.


'Aku akan menghabisi semua orang terdekatmu, ingat itu'


Nissa memejamkan matanya saat suara itu terus mengiang ditelinganya.


"Lepaskan aku, dan jangan perdulikan aku. Aku bukan sahabat kalian lagi, pergi!!" teriak Nissa mendorong Dara dan Syila.


"Akhhh.. " pekik Syila, ia terjatuh karena dorongan Nissa terlalu kuat.


" Ya Allah, Syila" seru Dara saat melihat darah di gamis yang Syila kenakan. Nissa pun tak kalah terkejut, tubuhnya bergetar hebat.


"Syila, aku... "


" Tolong panggilkan ambulan" ucap Dara begitu panik, Ia kembali mengingat kejadian masa lalu. Nissa yang panik pun langsung menghubungi ambulan.


"Sakit Ra" ucap Syila meremas tangan Dara begitu kuat.


"Iya aku tahu, tahan sebentar kita kerumah sakit" ucap Dara, ia pun kembali menatap Nissa. Namun kali ini ia memberikan tatapan kecewa.


"Aku minta maaf" ucap Nissa yang sudah berderai air mata.


"Aku tidak tahu masalah kamu apa Nis? tapi sebagai sahabat kami perduli dengan kamu, seharusnya kamu tetap percaya dengan kami" ucap Dara penuh kecewa.


Selang beberapa waktu, ambulan pun tiba dan Syila langsung dibawa kerumah sakit. Suara derap kaki terdengar begitu jelas dan semakin mendekat.


"Bagaimana ini bisa terjadi dek?" tanya Haikal menarik tangan Dara.


"Dara minta maaf, tidak seharusnya Dara ajak Syila" ucap Dara yang langsung memeluk Haikal, air mata yang ia bendung pun kini sudah tumpah. Ia merasa bersalah karena dirinya lah yang mengajak Syila untuk pergi.


"Sudah lah, jangan menangis. Abang yakin Syila akan baik-baik aja, dia wanita yang kuat" ucap Haikal mengelus kepala Dara.


"Tapi tetap saja Dara yang salah"


"Kamu tidak salah, aku yang salah" ucap seseorang yang berhasil membuat Dara dan Haikal terkejut.


"Nissa"


"Maaf, saya minta maaf untuk kejadian ini. Kalian bisa menghukum aku, aku yang bersalah" ucap orang itu yang tak lain adalah Nissa.


"Nissa" ucap Dara menghampiri Nissa, tubuh Nissa bergetar kerena menahan isakannya. Dara yang melihat itu langsung memeluk Nissa.


"Aku yang salah Ra, aku pantas dihukum. Aku sudah mencelakai Syila, aku... "


"Sudah cukup, kita doakan Syila dan bayinya baik-baik aja" ucap Dara mengelus punggung Nissa.


"Maafkan aku" ucap Nissa membalas pelukkan Dara. Lalu pandangan Dara berlaih pada dua orang berpakaian serba hitam berjalan mendekat.


"Maaf nona, tuan sudah menunggu anda di depan" ucap salah seorang pria bertubuh besar itu pada Nissa. Dara menatap Nissa untuk meminta jawaban.


"Nona, jangan membuat tuan marah"


"Memangnya kenapa? Kalian ingin membunuhku bukan? Bunuh saja sekarang" ucap Nissa yang berhasil membuat Dara dan Haikal terkejut.


"Nissa" ucap Dara menggenggam tangan Nissa. Nissa menatap Dara, lalu ia kembali memeluk Dara dan menangis pilu.


"Aku menyerah, dia sama sekali tidak menginginkan aku. Aku lelah, aku tidak ingin kembali kesana lagi" ujar Nissa mengeluarkan isi hatihya.


"Maaf, siapa suami pasien? " ucap seorang suster keluar dari pintu.


"Saya sus" ucap Haikal.


"Silahkan masuk dok, istri anda sudah siuman"


Haikal menatap Dara. Dara mengangguk untuk menyuruh Haikal masuk. Haikal pun masuk kedalam untuk melihat keadaan istrinya.


"Kita harus bicara" ucap Dara menangkup wajah Nissa, Nissa mengangguk pelan.


"Maaf nona, tuan akan marah jika nona menemui orang terdekat anda"


Dara yang mendengar itu langsung menatap Nissa untuk meminta jawaban.


"Katakan padanya, aku akan pulang sebentar lagi. Jika ingin menghukumku, lakukan lah" ucap Nissa, ia menarik tangan Dara untuk menjauh dari dua pria itu.


***


Kedua wanita itu terdiam, tak ada sepatah kata pun yang keluar.


"Jika aku sudah tidak ada, apa kalian akan memaafkan aku?"


Dara yang mendengar ucapan sahabatnya pun langsung menoleh.


"Apa yang kamu katakan Nissa?" tanya Dara menatap wajah pucat Nissa.


"Tidak ada" ucap Nissa, lalu keduanya kembali terdiam.


"Dia selalu mengancamku, dia tidak pernah membiarkan aku menemui siapa pun. Dia akan membunuh orang yang aku temui, tapi aku tidak akan membiarkan dia menyetuh kamu Ra. Dia bukan manusia, dia iblis" ujar Nissa, Dara sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Nissa.


"Dia sangat kejam" ucap Nissa sambil mengelus perutnya. Hal itu pun tak luput dari pandangan Dara.


"Kamu hamil?" tanya Dara. Syila menatap Dara cukup lama, lalu ia mengangguk pelan.


"Apa suami kamu tahu?" tanya Dara.


"Tidak, dia tidak pernah mau tahu. Dia juga tidak menginginkan anak ini" ucap Nissa menatap lurus kedepan.


"Dia punya segalanya, dia bisa membeli apa yang dia mau. Termasuk aku, boneka yang dia beli untuk dimainkan" ucap Nissa tersenyum getir. Dara menatap Nissa begitu iba, ia sudah mengerti kemana arah pembicara Nissa. Dara sangat penasaran seperti apa pria yang kini menjadi suami Nissa.


"Dia menikah denganku karena papa, papa tidak ingin perusahaannya jatuh. Dia menjual aku sebagai bayaran dari saham yang pria itu berikan"


"Papa tidak salah, aku yang salah. Papa hanya ingin anak dan istrinya bahagia, aku tahu itu. Pria itu yang salah, dia sama sekali tidak punya hati. Dia iblis berwajah manusia" kini Nissa kembali menagis. Dara membiarkan hal itu, ia tahu saat ini Nissa ingin mengeluarkan semua tekanan dalam hatinya.


"Kamu tahu apa yang membuat aku bertahan?" tanya Nissa yang dijawab gelengan oleh Dara.


"Malaikat kecil itu, dia sangat manis dan berhasil membuat aku jatuh cinta. Dia adalah kekuatan untuk aku Ra, dia selalu menjadi obat saat aku sakit"


"Siapa?" tanya Dara.


"Malaikat kecil, Arlan Digantara. Manis bukan namanya? Dia anak dari suamiku, anak yang sering dia sebut sebagai kesalahan" ucap Nissa tersenyum. Dara kembali terdiam, ia hanya bisa menatap wajah Nissa.


"Berapa usianya?" tanya Dara.


"Tahun ini memasuki 3 tahun" ucap Nissa.


"Seumuran dengan Ara" ucap Dara tersenyum.


"Ya, bisa dibilang seperti itu"


"Aku sudah tidak berhutang cerita sama kamu Ra, aku harap kalian jangan marah. Aku menyembunyikan ini semua karena aku takut kalian menjadi korban dari kemarahan suamiku"


"Maaf, aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik Nis. Aku tidak pantas menjadi sahabat, bahkan aku tidak tahu apa yang menimpa sahabatku" ucap Dara merangkul pundak Nissa.


"Kalian akan tetap menjadi sahabat terbaik aku sampai kapan pun, katakan pada Syila aku minta maaf. Maaf hampir mencelakai anak dalam kandungannya, aku harus pergi Ra. Maaf sekali lagi" Nissa memeluk Dara begitu erat. Hatinya sangat berat untuk pergi, ia masih ingin tetap disini.


"Kamu tidak salah Nis, kami juga minta maaf tidak bisa membantu kamu"


"Bantu aku lewat doa, doakan agar aku selamat dan masih bisa melihat kalian" ucap Nissa tersenyum getir.


"Jangan bicara seperti itu, kamu akan baik-baik aja Nis" ucap Dara.


"Haha... Aku hanya bercanda" ucap Nissa menghapus air matanya.


"Datang lah saat kamu butuh kami Nis, kami akan selalu mendengarkan keluhan kamu. Kita sudah berjanji bukan jika kita harus tetap terbuka apapun yang terjadi. Susah, senang kita lewati bersama" ucap Dara.


"Ya aku masih ingat, terima kasih" ucap Nissa kembali memeluk Dara. Dara mengelus punggung Nissa dengan lembut.


"Aku pulang dulu, dia pasti akan sangat marah" ucap Nissa tersenyum masam, Dara sama sekali tak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh sahabatnya yang satu ini.


"Baiklah, hati-hati dijalan. Ingat, jika terjadi sesuatu hubungi aku atau Syila" ucap Dara yang dijawab anggukan oleh Nissa. Nissa bangkit dari duduknya, ia langsung pergi meninggalkan Dara yang masih diam menatap kepergian dirinya.


"Semoga ketabahan kamu akan cepat membuahkan hasil Nis"