Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
64


Hy semuanya, sorry ya kalau alur nya gak dapet. Habis aku ngetiknya sambil nyuri-nyuri waktu nih... Aku harap kalian suka ya?... Selamat membaca gusy..


🌹🌹🌹


Tok tok tok


Seorang gadis cantik dengan balutan hijabnya sedikit berlari untuk membuka pintu.


"Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?" ucap gadis itu sebelum membuka pintu. Lalu tanpa ragu gadis itu pun membuka pintu, namun ia sangat terkejut saat melihat tiga orang pria tampan sudah berdiri dihadapannya.


"K.. Kak Ilham? Pak Arham, pak Reza?" ucap gadis itu mengabsen ketiga pria yang ada di hadapannya dengan sangat gugup.


"Boleh kami masuk?" tanya Arham.


"Ah iya, silahkan masuk" ucap gadis itu sedikit terkejut, ia sedikit mundur untuk mempersilahkan ketiga pria itu masuk.


"Silahkan duduk, mohon tunggu sebentar saya akan membuatkan minum" ucap gadis itu.


"Tidak perlu repot, bisa kamu panggilkan kedua orang tua kamu?" tanya Arham pads gadis itu yang masih terlihat kebingungan.


"Siapa yang bertamu Nadya? Ah, kalian ternyata" ucap seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Ryan, ayah Nadya sang pemilik kampus. Ya, orang yang akan Ilham pinang adalah Nadya.


"Ada apa malam-malam, apa ada masalah serius di kampus?" tanya Ryan itu duduk disofa. Nadya yang melihat itu langsung beranjak kedapur untuk membuatkan air minum.


"Mohon maaf sebelumnya pak kami sudah mengganggu waktu anda. Langsung saja, tujuan kami datang yaitu ingin meminang anak bapak untuk adik saya Ilham" ucap Arham dengan tegas, terlihat wajah Ilham yang begitu pucat dan tegang. Sedangkan orang yang ingin di pinang pun hanya bisa diam mematung dengan nampan ditangannya.


"Kenapa mendadak seperi ini? Nadya duduk lah nak" ucap Ryan saat melihat Nadya berdiri didepan pintu dapur. Nadya yang mendengar itu tercekat seakan tenggorokannya kering. Dengan kaki bergetar ia berjalan mendekati para pria yang kini sedang menatapnya, yang paling membuatnya gugup adalah pria yang kini masih setia menunduk.


"Kamu dengar tadi kan? Bagaimana menurut kamu?" tanya Ryan pada putrinya yang kini duduk di sebelahnya. Nadya mencengkram gaunnya dengan erat. Ia menatap satu per satu pria yang ada di hadapannya.


"Maaf, kenapa tiba-tiba kak Ilham ingin melamar saya?" tanya Nadya.


"Maaf sebelumnya, mungkin memang kedatangan saya terlalu mendadak dan tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tapi dalam beberapa bulan ini saya sudah memastikan jika jodoh saya adalah Nadya karena setiap saya meminta petunjuk pada Allah, maka memang Nadya lah yang selalu muncul dalam mimpi saya"


"Saya benar-benar ikhlas ingin melamar Nadya, tanpa paksaan dari pihak manapun. Saya tahu, saya memang belum memiliki apa-apa. Tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan istri saya setelah kami menikah" imbuh Ilham, Nadya yang mendengar pemaparan Ilham pun meneteskan air matanya. Ia tak pernah menyangka jika rencana Allah memang sangat luar biasa. Disaat Nadya sudah mengikhlaskan jika cintanya akan kandas begitu saja dan memutuskan untuk terus memperbaiki diri. Ternyata Allah langsung memberikan apa yang selama ini Nadya impikan, ini adalah hadiah terindah untuk Nadya.


'Terimakasih ya allah, hamba benar-benar sangat bersyukur. Maafkan atas keraguan hamba selama ini padamu' batin Nadya.


Nadya menatap ayahnya lekat, ia bingung harus bicara apa karena begitu gugup.


"Na... Nadya, Nadya terima ayah" ucap Nadya gugup sambil menunduk, mendengar hal itu ketiga pria itu pun mengucap syukur. Terutama Ilham, ia tidak pernah menyangka jika ia benar-benar diterima oleh Nadya. Seulas senyuman tersungging di bibir Ilham, ia bersyukur walaupun hatinya belum sepenuhnya pada Nadya. Tapi Ilham akan berusaha untuk mencintai Nadya sepenuhnya seiring berjalannya waktu.


***


"Sayang, kenapa menangis? Ara haus?" ucap Dara menggendong Ara dan duduk di tepi ranjang. Dara mulai menyusui Ara, namun Ara menolaknya dan tangisannya semakin kencang.


"Kenapa sayang? Ara gak pipis juga, apa ada yang sakit?" tanya Dara yang mulai panik. Ia mencoba menenangkan Ara yang tak juga mau berhenti menagis.


"Ada apa?" tanya Arham masuk kedalam kamar, ia juga terbangun karena mendengar suara Ara menangis.


"Dara tidak tahu, Ara terus menangis. Ara juga tidak mau minum asi" ucap Dara menatap Arham dengan wajah cemasnya.


"Biar aku yang gendong" ucap Arham, Dara mengangguk dan memberikan Ara pada Arham.


"Jangan menangis sayang, bunda sama papa ada disini" ucap Arham mencoba menenangkan Ara, hal itu berhasil karena Ara mulai menghentikan tangisannya. Ara kembali memejamkan matanya dan terlelap di pelukan Arham.


"Tidurlah, biar Ara aku yang mengurus" ucap Arham menatap Dara, Dara menggelengkan kepalanya karena tak setuju dengan Arham.


"Kamu sudah lelah Dara, tidurlah"


"Tapi... "


"Jangan pikirkan aku, tidurlah" potong Arham, Dara hanya pasrah dan mengikuti ucapan suaminya. Dara juga memang masih sangat mengantuk karena seharian Ara lumayan rewel.


"Bap... "


"Mas, kamu biasa memanggil aku dengan sebutan itu bukan bapak" ucap Arham menatap Dara penuh kecewa.


"Maaf, mas bisa tidur disini. Tidak perlu tidur di lantai atas" ucap Dara yang langsung naik keatas kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dara selalu merasa gugup jika Arham berada dekat denganya. Arham yang melihat tingkah istrinya hanya bisa tersenyum.


Ara sudah terlihat nyenyak dalam tidurnya, Arham menidurkan Ara kembali kedalam box bayi. Namun baru saja tangan Arham terlepas, Ara kembali menangis kencang. Dara yang tadinya sudah terlelap pun kini kembali terbangun. Dara melihat Arham yang begitu cekatan dan lembut pada Ara pun merasa hatinya menghangat.


"Eh ssuttt, maafkan papa sayang. Ya sudah Ara tidur dengan papa ya?" ucap Arham membawa Ara kembali kedalam gendonganya. Arham berjalan menuju ranjang dan duduk disebelah Dara yang masih kosong, Dara yang melihat itu pun kembali menutup matanya. Arham menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Tidur sayang, papa akan peluk kamu" ucap Arham memeluk Ara dengan begitu lembut.


Dara yang belum tertidur pun mendengar semua ucapan Arham, Dara tertawa dalam hati saat Arham terus mengatakan jika dirinya sudah menyabotase wajah Ara sepenuhnya.


"Jangan bandel, lihat bunda kamu capek sayang. Anak papa tidak boleh cengeng ya?" ucap Arham mencium pipi Ara dengan gemas, Ia meletakkan Ara di atas kasur. Arham ikut berbaring sambil memeluk Ara.


Dara sedikit terkejut saat merasakan benda kenyal dan hangat menyentuh keningnya.


"Selamat malam sayang, aku mencintaimu" ucap Arham pada Dara, Dara yang mendengar itu hanya bisa diam. Hati Dara berbunga-bunga mendengar ucapan Arham.


'Apa dia benar-benar mencintaiku? Jika iya, aku ingin ingatanku kembali pulih. Aku ingin sekali mengingat kenangan yang sudah aku lalui bersamanya. Aku ingin seperti yang lain, merasakan rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan cinta' batin Dara.