Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
95


"Mas....." teriak Nissa keluar dari rumah. Namun kakinya tertahan saat melihat pria itu terduduk lesu dengan wajah pucatnya.


"Maafkan aku Nissa" ucap Arnold dengan bibir bergetar kerena seluruh tubuhnya membeku. Nissa bernafas lega saat apa yang ia pikirkan tidak lah terjadi.


"Maafkan aku" ucap Arnold sebelum ia benar-benar ambruk. Nissa sangat terkejut, ia langsung menghampiri Arnold yang sudah tak sadarkan diri.


"Mas bangun" ucap Nissa panik, ia menepuk pipi suaminya. Namun Arnold sama sekali tak bergeming. Ia menyetuh tangan Arnold yang sangat dingin.


"Ya allah, ayok bawa masuk. Dia kedinginan. Tunggu, aku panggilkan pak Unang dulu buat bantu suami kamu masuk" ujar Syila yang dijawab anggukan oleh Nissa.


Nissa menatap wajah pucat Arnold begitu lekat. Tangannya terus mengusap kedua tangan Arnold untuk menyalurkan rasa hangat.


"Dia hanya kedinginan, setelah tubuhnya merasa hangat ia akan sadar. Tubuhnya tidak dalam keadaan baik, oleh karena itu dia jatuh pingsan" ucap Haikal. Nissa semakin merasa bersalah. Ini semua tidak akan terjadi jika dirinya datang lebih awal.


"Kak, apa tidak ada yang membahayakan?" tanya Syila pada suaminya.


"Tidak ada, dia hanya butuh istirahat dan usahakan kondisinya tetap hangat. Setelah bangun, berikan dia minuman hangat." ucap Haikal merangkul pinggang Syila. Syila bernafas lega saat mendengar ucapan suaminya.


"Kamu harus istirahat" ucap Haikal mencium kening Syila. Syila tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Nis, kamu harus istirahat. Aku tinggal dulu ya" ucap Syila yang dijawab anggukan oleh Nissa.


"Terimakasih" ucap Nissa menatap Syila dan Haikal bergantian. Syila tersenyum, ia menggandeng tangan Haikal untuk meninggalkan kamar Nissa.


"Hey, kenapa cemberut?" tanya Haikal mencubit hidung Syila. Syila menoleh dan menatap suaminya lekat. Lalu ia pun langsung memeluk Haikal.


"Jangan pergi lagi, Syila kangen" rengek Syila semakin mengeratkan pelukannya. Haikal tersenyum, ia mengelus kepala Syila dengan lembut.


"Maaf sayang, beberapa hari ini aku sibuk. Maaf tidak bisa terus menemani kamu" ucap Haikal. Syila melepaskan pelukanya dan kembali menatap Haikal.


"Syila tahu, tapi untuk saat ini jangan pergi lagi ya?" ucap Syila melingkarkan kedua tangannya dileher Haikal.


"Iya, aku tidak akan pergi lagi" ucap Haikal mengecup kening Syila. Terlihat kebahagiaan diwajah Syila. Syila meraih tangan Haikal dan meletakkannya diperut.


"Dia merindukan ayahnya" bisik Syila. Haikal tersenyum dan mengelus perut Syila dengan lembut. Ia juga menyejajarkan tubuhnya dengan perut Syila.


"Ayah minta maaf tidak bisa terus bersama kalian" ucap Haikal mencium perut Syila. Syila mengabdikan momen itu dengan ponselnya. Sangat jarang ia bisa bersama dengan suaminya. Menjadi istri seorang dokter bukanlah hal yang mudah. Ia harus rela selalu ditinggal sendirian. Bahkan tidak jarang suaminya itu tidak pulang kerumah.


***


"Mas, andai kamu tahu. Aku tulus mencintai kamu. Tapi kenapa kamu selalu menganggap aku hanya memanfaatkan uang kamu? Aku mencintai kamu mas" ucap Nissa menatap wajah Arnold yang masih terlelap. Nissa mengelus wajah tampan itu dengan tangan lentiknya. Begitu lembut.


"Ah andai saat itu kamu mengatakan dalam keadaan sadar. Aku mungkin akan sangat bahagia mas"


Flashback on


Malam begitu sunyi. Seluruh penghuni sudah terlelap begitu dalam menikmati waktu yang diberikan untuk istirahat. Suara makhluk kecil ciptaan Allah bagaikan alunan yang dapat membuat semua orang terlena.


"Nissa buka pintunya!!" suara teriakan bersamaan dengan gedoran pintu terdengar begitu jelas. Pemilik nama yang di panggil pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding yang ternyata masih menunjukkan pukul 12.00.


"Siapa?" tanya Nissa dengan suara seraknya. Ia berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Nissa membuka pintu kamarnya karena sedari tadi pintunya terus digedor.


"Bantu aku masuk" ucap Arnold dengan mata setengah terbuka, tubuh besarnya pun terhuyung. Nissa membantu Arnold dan menidurkan di ranjang.


"Kenapa lagi sih mas?" tanya Nissa membuka sepatu Arnold.


"Kenapa semua orang menghianati aku hah? Kenapa? Apa kau juga penghianat?" rancau Arnold bangun dari tidurnya. Ia menarik tangan Nissa hingga terjatuh dipangkuannya. Nissa mendorong tubuh Arnold agar melepaskan dirinya. Namun Arnold semakin erat mencengkram pinggang Nissa.


"Mas lepas, kamu mabuk" ucap Nissa terus mendorong tubuh Arnold.


"Shhuut... Diam!!" bentak Arnold. Nissa langsung terdiam dan tidak berani untuk bergerak.


"Kau tahu Nissa, dulu wanita yang aku cintai lebih memilih pria lain hingga dia hamil. Lalu aku masih berbaik hati untuk tetap menerima dirinya. Tapi dia kembali menghianati aku Nissa, dia meninggalkan aku dan anak haram itu. Haha... Aku membenci wanita murahan dan mata duitan. Mereka mendekatiku karena uang."


"Kau tahu Nissa, aku ingin bahagia. Tapi sayang, aku tidak akan pernah bahagia karena semua yang ada di dekatku adalah penghianat."


"dan kau... " Arnold menekan kening Nissa dengan jari telunjuknya. Nissa tidak bisa bicara, mulutnya seakan terkunci.


"Kau juga pasti akan menghianati aku kan? Katakan Nissa?" Arnold menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nissa. Tanpa sadar Nissa meneteskan air matanya.


'Ya tuhan, begitu dalam kah sakit yang suami hamba rasakan. Dia terlihat begitu menderita'


"Aku lelah" bisik Arnold memeluk Nissa begitu erat.


"Mas, lepasin Nissa. Mas harus istirahat" ucap Nissa yang sama sekali tak dihiraukan oleh Arnold. Nissa mendorong tubuh Arnold dengan pelan. Ia menatap wajah Arnold yang sembab.


"Nissa" ucap Arnold menangkup wajah Nissa. Nissa sangat terkejut.


"Katakan kau tidak akan menghianati aku, katakan!!" mata sayu Arnold menusuk tajam manik indah milik Nissa . Nissa mengangguk dengan pasti.


"Berjanji lah"


"Hmmm,, Nissa janji mas."


"Ah, bagus sayang. Aku mencintaimu." Arnold mendekatkan wajahnya dengan Nissa. Hambusan nafas Arnold menyentuh lembut wajah Nissa. Bau alkohol menyeruak masuk dalam hidung Nissa. Nissa masih setia mencerna ucapan Arnold.


"Mas" ucap Nissa tersadar dan hendak mendorong tubuh Arnold, namun tangan kekar itu terlebih dahulu menahan tangan Nissa.


"Malam ini biarkan aku melakukannya" bisik Arnold. Nissa menatap wajah memohon Arnold. Ia memejamkan matanya dan perlahan mengangguk. Lengkungan tipis tercetak di bibir Arnold. Malam ini akan menjadi saksi dan sejarah bagi mereka. Kehangatan mulai masuk kedalam kamar kecil yang menjadi saksi bisu kisah cinta kedua mereka.


Flashback off


"Bahkan kamu tidak mengingat malam itu mas, dengan jelas aku berjanji tidak akan menghianati kamu." Nissa bangun dari duduknya dan melepaskan genggaman tangannya pada Arnold.


"Tapi semuanya sudah terlambat." Nissa melipat kedua tangannya di dada. Ia berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya disana. Nissa menatap wajah Arnold dibawah temaram. Hingga perlahan ia memejamkan matanya dan terlelap.


Sebuah pergerakan berhasil membuat Nissa terbangun. Ia sangat terkejut saat membuka mata dan menemukan Arnold sudah berada disebelahnya. Tidak ada jarak diantara mereka. Nissa tersadar jika sekarang ia sudah berada di atas kasur. Nissa menyibak selimutnya dan hendak turun. Namun sebuah tangan sudah terlebih dahulu melingkar di perutnya.


"Aku sedang sakit, apa kau bisa diam sebentar? Biarkan malam ini aku memelukmu. Besok kau bisa mengusirku kembali" ujar Arnold tanpa membuka matanya. Ingin sekali rasanya Nissa mencubit hidung Arnold. Namun ia tidak mungkin melakukan itu. Saat ini ia masih marah dengan Arnold. Nissa membalikkan tubuhnya membelakangi Arnold. Ia tidak sadar jika yang ia lakukan akan memudahkan Arnold untuk memeluknya. Tangan kekar itu melingkar sempurna di perut ramping Nissa.


'Pandai sekali dia mencuri kesempatan. Aku ingin sekali menampar wajahnya'