Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
88


Derap kaki seseorang berhasil mengalihkan pandangan seorang wanita cantik yang tengah menggendong seorang anak laki-laki yang tertidur.


"Mas" panggil wanita itu saat melihat sang suami datang.


"Apa yang terjadi? Siapa anak ini?" tanya Arham duduk di sebelah Dara.


"Alan, anak Nissa" ucap Dara menatap Arham lekat.


"Apa yang terjadi dengan Nissa?"


"Dara juga tidak tahu, dokter masih menangani Nissa" ucap Dara dengan air mata yang sudah terbendung. Lalu pandangan Arham berlaih pada seorang pria yang tengah duduk sambil menunduk.


"Dia suami Nissa" ucap Dara mengelus kepala Alan.


"Mas, untuk sementara waktu boleh kan Alan kita bawa kerumah? Kasian dia tidak ada yang rawat" ucap Dara menatap Arham penuh harap. Arham tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih mas" ucap Dara begitu bahagia. Lalu tak berapa lama pintu kamar dimana Nissa dirawat pun terbuka. Seorang wanita berpakaian putih berjalan menghampiri pria yang saat ini masih terduduk.


"Maaf tuan, bisa kita bicara" ucap sang dokter yang berhasil membuat pria itu terkejut.


Pria itu pun langsung bangun dan menganggukkan kepalanya. Dara menatap Arham penuh tanda tanya, ada perasaan tidak enak dalam hatinya.


"Jangan berpikir macam-macam, kita harus berdoa agar Nissa baik-baik saja" ucap Arham merangkul Dara.


"Sebaiknya kita pulang, kasian anak itu. Lagian Ara dan Azka juga butuh kamu" imbuh Arham seraya menatap Alan yang masih terlelap di gendongan Dara. Dara menatap Arham lekat, lalu ia pun mengangguk.


"Buk, tolong hubungi kami jika terjadi sesuatu dengan Nissa. Ini kartu nama saya, ada nomornya juga" ucap Arham memberikan kartu nama pada bibik. Bibik pun mengangguk, lalu Dara dan Arham pun berpamitan untuk pulang.


Di dalam ruangan serba putih terlihat sang pria tengah duduk dengan gelisah. Pandangannya terus tertuju pada wanita yang ada dihadapannya.


"Tuan Arnold yang terhormat, apa anda masih punya hati nurani?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut sang wanita.


"Nissa harus segera melakukan operasi. Kondisi tubuhnya juga sangat lemah, aku tidak tahu apa yang..."


"Lakukan apa pun agar dia tetap selamat" potong Arnold dengan penuh penekanan. Matanya kini sudah memerah, perasaannya saat ini berkecamuk tak karuan.


"Tanda tangan ini" ucap wanita itu menyodorkan sebuah kertas, Arnold menatap sang wanita penuh dengan tanda tanya.


"Kami tidak bisa mempertahankan anak yang ada dalam kandungannya, kondisi Nissa benar-benar buruk karena dia hanya memiliki satu ginjal."


"Dari awal aku sudah memperingatinya jika apa yang dia pertahankan akan sia-sia. Tapi istrimu sangat keras kepala, bahkan dia terlihat sangat bahagia saat mendengar jika dirinya hamil. Walaupun suaminya sama sekali tidak perduli akan hal itu" ujar sang dokter panjang lebar. Wanita cantik itu merupakan sepupu sekaligus sahabat kecil Arnold.


"Aku harap kau bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. Segera urus semuanya, operasi harus segera dilakukan" ucap wanita itu bangkit dari tempat duduk.


"Maafkan aku" ucap Arnold mengusap wajahnya kasar, Ia bangun dari tempat duduk dengan begitu lesu. Tanganya menggenggam erat kertas yang harus ia tanda tangani. Matanya terpejam, ia berharap ini semua hanya sebuah mimpi.


Satu jam telah berlalu, lampu ruang operasi pun berubah yang menandakan jika operasi sudah selesai.


"Bagaimana dengannya?" tanya Arnold saat sang dokter keluar.


"operasi berjalan degan lancar, istri anda akan kami pindahkan keruang rawat inap"


"Arnold, aku ingin bicara denganmu sebentar" ucap dokter cantik yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Di ruanganku saja" ucap wanita itu langsung beranjak pergi, lalu Arnold mengikutinya dari belakang.


"Kau pria brengsek Arnold, dari tadi aku ingin memakimu. Sudah aku katakan bukan? lupakan masa lalumu. Dia tidak akan pernah kembali" ujar wanita itu menatap Arnold tajam.


"Tidak perlu ikut campur urusan pribadiku, tugasmu hanya merawatnya sampai sembuh." ucap Arnold mengeratkan rahangnya. Wanita itu tersenyum masam, ia menyilangkan kedua tanganya dan menatap Arnold lekat.


"Katakan apa kau mencintainya?" pertanyaan itu berhasil membuat Arnold tersentak kaget. Namun Arnold sama sekali tak menjawab.


"Hah, dulu kau begitu mencintai wanita murahan itu dan sampai sekarang kau masih memelihara anaknya yang bukan darah dagingmu. Tapi kau menyiksa wanita yang sudah menjadi istrimu, bahkan kau tega melenyapkan darah dagingmu sendiri. Aku rasa kau sudah gila Arnold"


"Cukup jangan membahas orang yang sudah tiada, aku tidak tahu jika dia sedang mengandung!! Jadi jangan menyalahkan aku sepenuhnya" seru Arnold menatap sepupunya begitu sengit.


"lalu siapa yang harus aku salahkan? Istrimu? Aku harus menyalahkan dia yang sudah berkorban untukmu? Kemana akal sehatmu Arnold?" teriak wanita itu karena tersulut emosi.


"Bahkan kau lebih percaya dengan omongan ibumu dan wanitamu itu, kau juga tak pernah percaya atau mendengar ucapanku. Aku sangat kecewa padamu, aku menyesal sudah menjadi sepupumu bahkan sahabatmu" kini suara wanita itu sedikit melembut.


"Jangan mencariku lagi, aku sudah muak denganmu. Aku benar-benar sudah kehilangan sahabatku sejak lama, dia sudah mati." ucap wanita itu terduduk lesu.


"Kau tidak bisa meninggalkan aku, kau sudah berjanji akan terus mendukungku" ucap Arnold begitu prustasi.


"Kau sudah menghancurkan sumpah itu Arnold, pergi lah. Aku ingin istirahat" wanita itu memutar kursinya untuk membelakangi Arnold. Arnold menatap punggung kursi dengan penuh kecewa. Lalu ia pun langsung beranjak keluar.


Mata tajam itu kini tertuju pada seseorang yang masih terbaring lemah diatas brankar. Perlahan ia melangkah dan mendekat.


"Kenapa kau masih bertahan disisiku? Dasar bodoh." ucap Arnold duduk disebelah Nissa.


"Aku begitu sering menyakitimu, aku tidak pantas mendapatkan cinta darimu Nissa. Kau juga menyembunyikan semuanya dariku, maaf." imbuh Arnold, tanganya kini terulur untuk menyetuh kepala Nissa.


"Bangunlah, aku akan memperbaiki semuanya. Jangan pernah membenciku." ucapnya. Ia mencium kening Nissa begitu lembut, ini adalah kali kedua ia mencium kening Nissa setelah 3 tahun pernikahan mereka. Arnold membaringkan tubuhnya, ia menatap lekat wajah sang istri. Sesekali tanganya terulur untuk menyetuh pahatan sempurna sang maha kuasa.


'3 tahun aku menyia-nyiakanmu Nissa, apa kau akan memaafkan aku?'