Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
69


Awan mulai menghitam dan senja pun kini semakin menghilang. Namun pria satu anak itu masih sibuk dengan file di hadapannya.


"Ham, lo gak pulang? Ini udah magrib" ucap Reza duduk dihadapan Arham.


"Dikit lagi, besok gw mau nyantai. Anak dan istri gw juga butuh gw" ucap Arham masih setia dengan kertas-kertas yang penuh dengan ketikan.


"Ck, dulu aja nolak terus. Sekarang baru tahu rasa kan lo jadi bucin!" ucap Reza yang berhasil mendapatkan tatapan bingung Arham.


"Bucin? Apaan?"


"Budak cinta, ketinggalan jaman lo mah. Udah ah, gw mau balik" ucap Reza bangkit dari tempat duduknya.


"Eh jangan lupa" ucap Arham yang berhasil membuat Reza bingung.


"Lupa apa?" tanya Reza dengan begitu polos.


"Jangan lupa umur lo udah tua, nikah sono" ucap Arham berhasil membuat Reza kesal setengah mati.


"Tunggu aja, besok gw bakal kasih undangan" ucap Reza yang langsung keluar dari ruangan Arham. Arham hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai solat magrib, Arham pun memutuskan untuk kembali mengerjakan tugasnya yang tinggal sedikit lagi. Namun tiba tiba saja wajah Dara terlintas dipikiranya, ia menghentikan pekerjaannya dan meraih ponsel. Ia menekan salah satu kontak dan mulai menempelkan ponselnya di telinga. Arham berdecak kesal saat nomor yang ia hubungi tak dapat jawaban. Beberapa kali Arham mencoba untuk menghubungi Dara namun sama sekali tak ada jawaban. Arham memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


Tepat pukul sembilan malam, Arham bergegas untuk pulang kerumah. Ia membereskan semua barangnya dan langsung pulang.


"Assalamualaikum" ucap Arham saat masuk kedalam rumah, namun tak ada jawaban sama sekali.


"Sayang?" panggil Arham sambil membuka pintu kamar, namun disana juga tak menunjukkan keberadaan Dara. Arham mulai khawatir, ia menaiki anak tangga untuk mengecek kamar atas. Ia sedikit lega saat melihat Dara duduk diatas ranjang sambil menggendong Ara.


"Sayang mas kira kamu... " ucapan Arham terhenti saat melihat wajah Dara yang sembab, ia juga sangat terkejut saat melihat benda persegi yang ada di hadapan Dara.


"Dara sudah ingat semuanya" ucap Dara dengan air mata kembali membasahi pipinya.


"Dara, aku minta maaf itu... "


"Kenapa mas tidak terus terang dan menceritakan tentang kisah kita dari awal" ucap Dara yang mulai terisak.


"Itu hanya masa lalu sayang, aku benar-benar sangat mencintai kamu. Sungguh, aku tidak berbohong. Itu adalah cerita yang kamu buat, tak semuanya benar" ujar Arham mendekati Dara, namun Dara langsung menghindar.


"Dara sudah ingat semuanya mas. Kenapa kamu tidak pernah jujur tentang semuanya?" ucap Dara menatap Arham.


"Karena aku takut kehilangan kamu!!" seru Arham yang tak bisa mengontrol emosinya.


"Aku tidak mau kamu pergi lagi, aku mohon biarkan semua itu menjadi masa lalu. Aku menyayangi kalian, jangan pergi" imbuh Arham menjatuhkan tubuhnya di lantai.


"Bangun mas, izinkan aku pulang kerumah bunda. Beri Dara waktu" ucap Dara bangun dari duduknya.


"Aku mohon, jangan pergi" ucap Arham menahan Dara untuk tidak pergi.


"Dara ingin sendiri, izinkan Dara pulang" ucap Dara melepaskan tangan Arham, namun dengan cepat Arham menarik Dara kedalam dekapannya.


"Dara juga cinta sama mas, lepasin Ara kejepit" ucap Dara melepaskan pelukanya, ia tersenyum sambil mengelus wajah Arham.


"Kenapa?" tanya Arham bingung.


"Selamat ulang tahun papanya Ara" ucap Dara mengecup pipi Arham, Arham mengerjapkan matanya beberapa kali karena masih bingung.


"Kamu ngerjain aku?" tanya Arham menatap Dara lekat. Dara pun mengangguk seakan tak merasa bersalah sudah membuat sang suami panik setengah mati. Arham memijat keningnya, lalu ia menatap Dara kembali.


"Terimakasih" ucap Arham menarik tengkuk Dara dan mengecup kening Dara begitu dalam. Lalu ia beralih mencium Ara yang sedari tadi terus menatapnya.


"Tunggu, tadi kamu bilang ingatan kamu?" tanya Arham yang kembali teringat dengan ucapan Dara.


"Dara sudah ingat semuanya" ucap Dara tersenyum lebar.


"Sejak kapan?" tanya Arham menatap Dara curiga.


"Malam kemarin, setelah membaca cerita yang Dara buat sendiri" ucap Dara.


"Maaf aku tidak menceritakan semuanya saat kamu..." belum selesai Arham bicara, Dara sudah terlebih dahulu menutup mulut Arham dengan jari lentiknya.


"Tidak perlu mas, Dara tahu itu semua hanya akan menyakiti kamu. Saat ini Dara sangat bahagia, bahagia sudah sepenuhnya mendapatkan hati kamu" ujar Dara sambil menyentuh dada Arham.


"Semua yang ada pada diriku adalah milik kamu sayang" ucap Arham merangkul pinggang Dara.


"Semoga panjang umur dan menjadi papa yang bertanggung jawab untuk Ara" ucap Dara. Arham tersenyum, ia mengecup kedua pipi Dara dengan lembut.


"Allah benar-benar mengirimkan bidadari surga padaku, terimakasih sudah mau menerimaku yang begitu bayak kekurangan" ucap Arham kembali mengecup kening Dara.


"Terimakasih juga sudah mau menjadi suami Dara dan juga menjadi papa untuk Ara" ucap Dara dengan begitu tulus.


"Kalian yang selalu ada dihatiku sayang" ucap Arham, ia beralih pada Ara yang terus mengulurkan tanganya meminta Arham untuk menggendongnya.


"Uh anak papa sudah besar" ucap Arham mencium kedua pipi Ara. Dara yang melihat itu tersenyum bahagia.


'Lindungi selalu keluarga kecil hamba ya allah' batin Dara.


"Mas kita makan dulu, Dara sudah siapkan makanan spesial" ucap Dara dengan begitu semangat.


"Benarkah? Apa itu enak?" gurau Arham untuk mengerjai Dara.


"Ck, memangnya masakan Dara tidak enak ya?" tanya Dara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Emm... Tidak" ucap Arham berhasil membuat Dara membulatkan matanya.


"Tidak salah lagi sayang, restoran bintang lima saja kalah" ucap Arham membuat Dara tertawa renyah. Lalu mereka pun langsung beranjak menuju ruang makan untuk menikmati malam yang begitu bahagia.