Ketulusan Hati

Ketulusan Hati
86


Tatapan kosong milik wanita cantik itu terus tertuju pada sebuah foto yang sudah hampir setahun menghiasi kamar kecilnya. Senyuman palsu yang ia tunjukkan, senyuman yang menunjuk sebuah kebahagiaan itu hanyalah sebuah sandiwara.


"Non, maaf mengganggu" ucap seseorang yang tiba-tiba masuk, terlihat ada kecemasan diwajahnya.


"Bibik? Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Alan?" tanya Nissa bangun dari tempat tidur.


"Bukan non, tapi tuan"


"Kenapa dengan tuan?" tanya Nissa penasaran.


"Tuan mengalami kecelakaan" Nissa terkejut bukan main, pasalnya beberapa jam yang lalu ia masih bertengkar dengan suaminya.


"Bagaimana bisa bik? Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Nissa mulai panik.


"Tuan masih ditangani dirumah sakit, kita harus segera kesana non"


"Baik lah, tunggu sebentar" ucap Nissa mengambil blazer miliknya. Lalu mereka pun langsung beranjak menuju rumah sakit.


"Kenapa kau kesini? Ini semua salahmu! Sejak kau masuk kedalam kehidupan anakku kau selalu membawa sial" itu lah yang Nissa dapatkan saat ia tiba di rumah sakit.


"Rey, bagaimana keadaan mas Arnold?" Nissa sama sekali tidak menghiraukan ucapan mertuanya, ia malah menghampiri sang kaki tangan suaminya.


"Dokter masih menanganinya"


"Heh wanita tak tahu malu, apa kau tidak dengar mama bilang apa?" Nissa memutar kedua matanya saat mendengar suara cempreng milik Wina.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" ucap Nissa ikut duduk disebelah Rey.


"Barani sekali kamu..."


"Maaf, harap tenang ini rumah sakit" seorang suster menghampiri mereka. Kedua wanita itu langsung terdiam, terlihat begitu jelas jika mereka sangat kesal.


"Nona bisa ikut dengan saya sebentar?" tanya pria yang bernama Rey ini pada Nissa. Nissa pun mengangguk, lalu mereka berjalan menjauhi kedua wanita yang memberikan tatapan tajam.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan mas Arnold?" tanya Nissa.


"Seseorang menyabotase mobil tuan, rem mobil yang tuan gunakan terputus" Nissa yang mendengar itu membulatkan matanya tak percaya. Bagaimana orang jahat seperti Arnold dapat di kelabui orang.


"Bagaimana bisa? Siapa yang tega melakukan ini semua?"


"Saya masih menyelidiki semuanya, tolong jaga rahasia ini nona" ucap Rey


"Kenapa kamu tidak memberi tahu nyonya, apa jangan jangan?"


"Sebaiknya nona jangan asal bicara, jika dia mendengar nona akan habis"


"Hah, maaf. Kalau begitu kita harus kembali. Sepertinya dokter sudah selesai menanganinya" ucap Nissa yang di jawab anggukkan oleh Rey, lalu mereka pun kembali masuk kedalam.


"Tuan membutuhkan donor ginjal, dokter bilang sebelah ginjal tuan tak berfungsi lagi karena terjepit dan sebelahnya belum bisa bekerja dengan normal" jelas bibik.


"Ya Allah, lalu sekarang bagaimana?" tanya Nissa menatap kedua wanita yang masih terduduk.


"Kenapa kau menatapku? Aku tidak mungkin mendonorkan ginjalku? Bagaimana denganku nantinya" ucap Wina dengan nada kesal.


"Bukankah kau pacarnya dan sangat mencintainya? Kenapa tidak mau mencoba dan berkorban?" ucap Nissa tak percaya.


"Ya aku memang pacarnya, tapi... Tapi aku tidak mungkin mendonorkan ginjalku, aku juga masih ingin hidup normal" ucapnya dengan wajah kesal.


"Ternyata kau tidak tulus" ucap Nissa berjalan kearah pintu kamar dimana Arnold dirawat.


Lalu tak lama pintu terbuka dan menampakkan seorang pria berbaju putih.


"Pasien harus segera mendapatkan pendonor, jika tidak ia tidak akan bisa selamat" ujar sang dokter.


"Apa saya bisa mendonorkan ginjal saya dok? kebetulan saya tidak punya riwayat sakit" ucap Nissa membuat semua orang terkejut.


"Non, apa non yakin?" tanya bibik tak yakin dengan keinginan Nissa.


"Nissa yakin bik, bagaimana pun Nissa istrinya. Setidaknya diantara kami harus ada yang hidup untuk merawat Alan. Bibik tenang saja, Nissa akan baik-baik aja kok" ucap Nissa tersenyum.


"Baik lah nyonya, mari ikut dengan saya untuk melakukan pemeriksaan apakah ginjal anda cocok dengan pasien" Nissa mengangguk, lalu ia mengikuti sang dokter.


"Huh, dia kira dengan mendonorkan ginjalnya Arnold akan luluh. Mimipi saja sana" ucap Wina menatap punggung Nissa yang mulai menghilang.


Tidak perlu waktu lama, hasil rumah sakit pun keluar dan ginjal Nissa dinyatakan cocok dengan ginjal Arnold.


"Apa anda yakin?" tanya sang dokter, Nissa tersenyum dan mengangguk begitu yakin.


"Baik, anda sudah bersiap. Kita akan langsung melakukan operasi. Suster tolong bantu dia, jangan makan dan minum karena satu jam lagi operasi akan kita mulai" ucap sang dokter yang langsung pergi meninggalkan Nissa bersama beberapa suster.


Nissa memejamkan matanya, ia meyakinkan hatinya jika ia akan melewati semuanya dengan lancar. Harapannya hanya satu, yaitu keselamatan Arnold. Walau bagaimana pun, pria yang sering menyakiti hatinya itu adalah suaminya.


"Apa anda yakin nona? Apa kalian sudah memiliki anak?" tanya sang suster. Nissa yang mendengar pertanyaan itu pun hanya bisa tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Jika belum sangat disayangkan, akan sangat sulit jika mbak memiliki anak dengan satu ginjal. Resiko sangat besar, tapi itu juga tergantung dari kondisi tubuh mbaknya" imbuh sang suster, Nissa yang terdiam tak menjawab sepatah kata pun. Ia terus berfikir untuk masa depannya, bagaimanapun ia sangat ingin mendapatkan seorang anak. Namun disisi lain sang suami juga sangat membutuhkan dirinya.


"untuk urusan itu, saya serahkan pada yang maha kuasa aja sus" ucap Nissa tersenyum ramah.


"Beruntung banget si mas nya bisa dapat istri yang baik seperti mbak. Berani berkorban"


"Sudah kewajiban saya mbak" ucap Nissa tersenyum, ia menertawakan dirinya sendiri saat mendengar ucapan sang suster. Beruntung? Hah, aku tidak tahu apakah dia beruntung atau menyesal sudah menikahi gadis sepertiku.